Berita Menunjukkan Kasta (Bagian 2 / Selesai)

press-man

Oleh: WILLY PRAMUDYA

Rendahnya  empati –bahkan tidak jarang:  nihilnya empati–  pada banyak (awak) media pers kerap terlihat dalampenggunaan bahasa, yang merupakan satu-satunya alat untuk merekonstruksi peristiwa (dan memberitakannya). Selain rendahnya bahkan nihilnya empati, banyak media memberitakan suatu peristiwa secara tidak jujur.

Bahasa dan Sikap Etis

DALAM jurnalisme nihilnya kedua hal itu berarti nihilnya ketaatan terhadap etik. Selain melanggar kode etik jurnalistik (KEJ) sebagai kode etik profesi. Secara tidak disadari nihilnya empati tergolong tindak pelanggaran terhadap etika publik.  Anda bisa dengan mudah pasal-pasal KEJ yang dilanggar.

Pengertian kode etik dapat dipahami dengan mudah melalui penjelasan yang ada di dalam kamus seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring (KBBI Daring). Menurut KBBIkode etik merupakan norma dan asas yang diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku.

Dalam disiplin etika kode etik dipahami sebagai norma yang ditetapkan dan diterima oleh suatu (asosiasi) profesi yang mengarahkan dan memberikan  petunjuk kepada anggotanya dalam hal berbuat yang seharusnya sekaligus menjamin mutu moral profesi di mata publik (lihat Abdulkadir Muhammad 2014).  Kode etik profesi juga disebut sebagai produk etika terapan yang dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi.Ia merupakan etika sosial dalam etika khusus agar anggota suatu profesi menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada profesi yang disandangnya (Prakoso 2015).


Pertanyaannya, mengapa muncul praktik bermedia dengan empati yang rendah bahkan nihil terhadap subjek berita pada kalangan yang menyebut pekerjaan mereka sebagai profesi? Mengapa muncul praktik bermedia yang kerap merendahkan publik (pembaca)?

Pada hemat penulis penyebab langsung bahkan sumber masalahnya ada pada tatanan dan tuntutan dunia industri media yang tidak diimbangi oleh profesionalisme (dan independensi) dalam menghadapi kehadiran teknologi internet yang melahirkan kultur baru dalam kehidupan, termasuk dalam hal bermedia.   Ada juga soal lain, yakni masalah kesejahteraan awak media dan ketidakberdayaan publik.

Namun gejala ini sebenarnya bukanlah hal baru.  Situasi seperti ini sudah berlangsung jauh sebelum hadirnya media baru berbasis internet(dalam jaringan).  Ia sudah menggejala ketika media yang kini digolongan ke dalam media konvensional seperti media cetak dan media penyiaran masih berjaya.

Di dunia media cetak gejala itu tampak pada teks berita (komunikasi tulis) juga ketika mereka sedang melakukan wawancara. Gejala itu berlanjut ketika media baru berbasis interner hadir. Di dunia penyiaran ia terlihat dalam kegiatam bersiaran langsung (berkomunikasi secara lisan), terutama pada saat melakukan wawancara dan melaporkan peristiwa yang terjadi di lapangan.

Bersamaan dengan itu terlalu banyak (pelaku) mediamengidap berbagai penyakit berbahasa Indonesia.  Bahkan ada yang menamainya penyakit rabun (ber-) bahasa. Mereka tidak kunjung sembuh ketika media baru hadir meskipun kehadirannya memudahkan setiap jurnalis untuk belajar bermedia agar mampu menjalani tugas mereka secara profesional.

Untuk produk teks berita silakan membaca kembali berita yang berjudul Kelakuan dan Kata-kata Ridwan Kamil dan Atalia Saat Jasad Eril Tiba di Indonesia Jadi SorotanSetelah membaca judul dan isinya dengan seksamaakan terlihat bahwa berita tersebut mengandung sejumlah masalah (besar). Selain masalah kebahasaan juga masalah etik.

Media tersebut memang menyatakan berita itu diambil atau dicomot dari media lain dengan menyebut nama medianya. Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Eril Tiba di Indonesia, Ridwan Kamil dan Atalia Praratya ke Awak Media: Terimakasih. Demikianlah  bunyi pengakuan yang tertulis pada “kaki” berita.

Pengakuan seperti itu harus diakui sebagai laku yang benar. Bahkan etis. Apalagi mereka memang telah meminta izin dan mendapatkannya. (Juga sangat mungkin di antara mereka telah terjadiperjanjian untuk saling mengambil berita.)

Akan tetapi ketika Anda membandingkan judul itu  dengan judul pada berita aslinya, sangat mungkin Anda tercengang.  Betapa jauh panggang dari api!

Anda akan semakin tercengang-cengangbegitu membaca paragraf pertama berita aslinyayang berbunyi: Muka sembab terlihat dari wajah Ridwan Kamil dan Atalia Praratya saat mereka berada di Human Remains Cargo Jenazah, Bandara Soekarno Hatta, Minggu (12/6/2022). Bandingkandengan paragraf pertama berita comotannya:  Kondisi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istrinya saat jasad Emmeril Kahn Mumtadz alias Eril tiba di Indonesia(,).

Terlihat jelas bahwa (awak) media yang mencomotnya telah merombak total dengan sesuka hati judul dan pada paragraf pertama. Perombakan juga terjadi pada sejumlah paragraf lain. Bagaimana memahami perkara ini?

Merombak total judul dan isi berita yang diambil dari media lain jelas merupakan tindakan yang tidak etis, apalagi hasilnya jauh panggang dari berita asli.  Kejujuran sebagai laku etis yang terkandung dalam pengakuan itu runtuh seketika. Ia hanya terlihat sebagai tindakan basa-basidan penghindaran terhadap munculnya tuduhan plagiarisme.

Dari segi penggunaan bahasa munculnya kata kelakuanterlihat sebagai kemiskinan diksi –meskipun mungkin hal itu disengaja demi melayani mesin algoritma, ramah SEO dan ramah mesin pencari. Di dalam KBBI Daringkata kelakuan memiliki arti (1) perbuatan; tingkah laku; perangai; dan (2) perihal; keadaan. Namun pada judul berita kata itu menimbulkan konotasi negatif.

Layak pula diingat ajaran para guru jurnalisme yang menyebutkan bahwa judul adalah janji atau utang penulis (jurnalis!) kepada pembaca yang harus dibayar lunas dalam tubuh berita. Jika sebuah judul tidak sesuai dengan isiinformasi yang ada dalam tubuh berita berartiketidakjujuran bahkan penyesatan telah terjadi.Keduanya tentu tergolong pelanggaran terhadap KEJ.

Paragraf pertama juga mengandung kesalahan fatal dalam berbahasa. Bentuk kebahasaan tersebut memang berupa kumpulan kata tetapi ia sulit disebut kalimat,  apalagi paragraf. Jika ada pendapat bahwa bentuk tersebut tergolong klausa,ia belumtampak sebagai satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran utuh. Silakan simak kembali:  Kondisi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istrinya saat jasad Emmeril Kahn Mumtadz alias Eril tiba di Indonesia(,).

Terlihat jelas bahwa bentuk kebahasaan tersebut bukanlah kalimat. Apalagi penulisnya membubuhkan tanda koma (,) pada akhirkumpulan kata itu.  Dibandingkan dengan aslinya yang telah memenuhi unsur kalimat ia telah berubah menjadi bentuk yang rancu akibat hilangnya unsur terpenting:  predikat! Makna atau maksudnya pun berbeda jauh dari paragraf aslinya.

Dari segi etika,pilihan kata kelakuanmenunjukkan nihilnya empati. Nihilnya empati seperti ini juga terlihat pada banyak berita di media lain yang memberitakan peristiwa musibah yang menimpa keluarga Ridwan Kamil. Judul-judul berita pada contoh ke-2 hingga ke-5 di atas menunjukkannya.

Penghadiran jurnalisme berempati dalam konteks musibahhilangnya nyawa manusia, adalah obligasi. Jika empati tidak hadir berarti telah terjadi pelanggaran, bukan hanya terhadap KEJ melainkan juga terhadap etika sosial.

Etika sosial merupakan etika sehubungan dengan relasi antarmanusia dalam masyarakat. Ia menunjuk kepada etika yang berkenaan dengan suatu masyarakat yang secara khusus berhubungan dengan pengaturan secara normatif relasi-relasi sosial dalam rangka tatanan hidup bersama. Pelanggaran terhadapnya akan merusak tatanan hidup. (Xaverius Chandra; 2016) 

Bagaimana dengan media penyiaran?

Banyak orang merasa geram terhadap awak media televisi yang melakukan peliputan, terutama pada saat mewawancarai korban, baik orang dewasa maupun anak-anak, di area terjadinya musibah.  Siapa pun paham bahwa menghadapi musibah, siapa pun paham bahwa korban sulit menerima kenyataan yang menimpa mereka, mengalami kesedihan berlarut-larutdan berbagai persaaan menyakitkan lain serta trauma.

Namun kerap terlihat adanya awak televisimengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini.  Pertama, pertanyaaan tentang perasaan korban seperti: bagaimana perasaan Bapak/Ibu/Anda/Saudara  ketika/setelah tertimpa musibah ini? (Bahkan pernah ada yang tega menanyakan perasaan korban setelah anggota keluarganya meninggal!)

Kedua, pertanyaan tentang  firasat, mimpi, atau tanda-tanda lain kepada korban sebelum musibah terjadi. Ketiga, pertanyaan kepada paranormaldisertai permintaan memprediksi sesuatu yang sulit diverifikasi; dan wawancara dengan anak-anak tanpa didampingi orangtuanta/orangdewasa/ahli.

Nihilnya empati yang tercermin pada penggunaan bahasa tidak hanya terjadi pada peliputan dan pemberitaan tentang musibah. Di dunia media daring ia juga muncul dalam berita olahraga. Perhatikan penggunaan kata modardan goblokberikut ini.  (1) Hantaman Super Daud Yordan Buat Petinju Argentina Modar;  (2) Pukulan Maut Daud Yordan Buat Petinju Tengil Thailand Modar.

Beberapa waktu lalu, juga muncul berita berjudul (1)Mahasiswi Cantik Tapi Goblok Diperdayai Paranormal Cabul. Bahkan pada 2020 publik marah terhadap sebuah media yang awaknya menggunakan kata (me-)ngangkangdalam berita tentang atlet bulu tangkis. Contohnya antara lain (1) Duh, Pose Mengangkang Pebulutangkis Kanada di Gym Bikin Ngilu; (2) Duh, Pose Mengangkang Bidadari Bulutangkis Australia Bikin Ngilu.

Penulis sempat berharap bahwa setelah publik marah terhadap media yang memuat berita dengan diksi yang tak ber-empati dan vulgar,  media tersebut tidak lagi melakukan praktik serupa. Demikian pula kepada media lain. Ternyata hingga 2022 praktik serupa kembali terjadi.

***

Membereskan Hal yang Berbahaya

JURNALISME adalah profesi.  Setiap profesi menuntut pelakunya memiliki kompetensi standar dan bersikap patuh terhadap kode etik profesi dan etika sosial secara teruji. Wajib hukumnya bahwa setiap jurnalis bersikap profesional. Sikap itu terlihat pada produk yang dihasilkan bahkan pada cara kerja di lapangan.

Produk berita adalah informasi tetapi tidak semua informasi tergolong berita. Berita adalah informasi yang terolah sesuai dengan standar jurnalisme dan prinsip-prinsip pemberitaan (penulisan)  yang sudah dirumuskan secara baku oleh para pelakunya berdasarkan pengalaman empirik ratusan tahun.

Ada prinsip penting yang harus dipegang, yakni (awak) media hanya mengabdi kepada kebenaran(berbasis fakta dan disiplin verifikasi). Prinsip lainnya adalah bersikap jujur dan taat etik.  Oleh karena  itu ada ungkapan yang berbunyi jurnalis boleh bersalah tetapi tidak boleh berbohong.  Silakan melihat kembali isi elemen jurnalisme rumusan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Kovach juga mengingatkan bahwa loyalitas jurnalis hanya kepada publik  atau masyarakat  sebagai pemberi kekuasaan dan kebebasan. Oleh sebab itu kontrak kerja jurnalis itu sejatinya bukan dengan pihak manajemen kantor media melainkan dengan masyarakat. Perlu diingat pula bahwa masyarakat merupakan pemilik hak memperoleh informasi yang benar — yang akan diolah sebagai bekal untuk membuat keputusan, menentukan sikap,  dan mengambil tindakan guna meningkatkan kualitas hidup dan martabatnya sebagai manusia.

Produk berita yang buruk atau tidak memenuhi standar dan prinsip (ber-) jurnalisme dan penggunaan bahasa yang buruk atau tidak beres akan menjadi racun yang berpeluang besar menghancurkan kehidupan. Produk berita yang buruk kerap lahir dari nihilnya kompetensi dan berbahasa pada pelaku media yang mengidap berbagai penyakit berupa sikap negatif terhadap bahasa dan  rabun bahasa (Indonesia).

Bahaya besar yang mudah timbul umumnya berpangkal pada ulah kaum penguasa –termasuk penguasa di bidang media — yang kerap mendominasi ruang publik. Mereka mengisi ruang public  dengan informasi  dalam model komunikasi yang tidak bermutu bahkan penuh racun. Dampak yang segera timbul:  warga masyarakat sulit melakukan kegiatan dengan baik dalam hal olah pikir, olah rasa, olah cipta, dan olah refleksi.

Dampak berikutnya kegiatan komunikasi dalam bermasyarakat dan bernegara dalam semua bidang akan berlangsung dalam pola yang buruk dan bermutu rendah. Keadaan seperti itu sulit melahirkan karya kebudayaan atau peradaban yang unggul dalam bidang sistem pengetahuan, filsafat, seni, juga dalam system organisasi sosial, teknologi dan peralatan hidup, ekonomi dan mata pencaharian, bahkan religi dan bahasa.

Ada pandangan yang menyatakan bahasa mencerminkan isi kepala dan hati bahkan jiwa penggunannya.  Kita mengenal ungkapan bahasa menunjukkan bangsa.Juga ada ungkaoan menarik dari petesaurus cum penulis,  Eko Endarmoko, bahasamu kastamu

Diperlukan tafsir baru atas ungkapan tersebut yakni bahasa menunjukkan kelas seseorang baik dalam hal kecakapan hidup atau kompetensi dan laku atau sikap etis.Produk berita dan penggunaan bahasa juga demikian. Ia menunjukkan kasta penulisnya.

Mengikuti jejak kedua ungkapan itu kita dapat membuat ungkapan baru bahwa berita menunjukkan kasta (jurnalis dan medianya).  Ringkasnya: berita(mu) menunjukkan kasta (mu).

Catatan: Kisah tentang percakapan Konfusius dengan para muridnya yang dikutip pada awal tulusan ini adalah kisah yang ditulis ulang oleh sasytawan AS Laksana.

*Penulis adalah jurnalis senior/editor, guru jurnalistik/penulisan popular, dan penyuka bahasa (Indonesia).

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.