7 Prinsip Persuasive Parenting (3)

Seide.id- #4. Menanamkan Nilai dengan Kata-Kata

Kita bisa membantu anak belajar mendengarkan dengan lebih fokus memikirkan apa yang ingin mereka dengar, daripada apa yang ingin kita katakan. Selain itu, sekadar mengingatkan akan lebih efektif ketimbang menceramahi panjang lebar. Untuk anak usia sekolah, contohnya, catatan singkat di atas secarik kertas, akan sangat membantu ketimbang perintah dibarengi teriakan membahana.

Bila kita sering memuji perilaku yang kita sukai dari dirinya, anak pun akan lebih menyadari perilaku apa yang harus mereka perbaiki. Prinsipnya, earn the right. Artinya, kalau kita ingin mendapatkan hak untuk didengarkan dengan cara kita, maka kita pun semestinya bersedia mendengarkan lebih diulu. Caranya? Dengan memberi ruang kepada anak untuk merasa nyaman dengan orangtuanya. Kalau sudah begini, nilai-nilai yang ingin kita tanamkan akan mudah masuk ke dalam hati anak.

Membentengi Diri

Sebaliknya, bila kita hanya mau didengarkan, semua values yang ingin kita sampaikan juga akan mental. Kenapa? Karena saat anak merasa tidak dipahami orangtuanya, ia pun akan segera membentengi dirinya. Dengan mempersepsikan orangtua pun tak punya hak bicara kepadanya. Sedangkan ketika sudah merasa didengarkan, anak pun akan mau mendengarkan.  

Jadi, ketika anak lebih suka bicara pada orang lain daripada dengan orangtuanya sendiri, orangtua seharusnya introspeksi. Ingat, anak bukan benda mati lho. Komunikasi pun harus dibangun dua arah. Bukan cuma searah dari orangtua, sedangkan anak dipaksa untuk menerima semua yang dikatakan orangtua. Anak itu bisa diibaratkan seperti spons yang akan menyerap banyak hal. Termasuk bagaimana kita bertindak ataupun bertutur kata dan bersikap.

#5. Jangan Pernah Memaksa

Awalnya, pemaksaan mungkin akan ampuh diterapkan selagi anak-anak masih kecil. Akan tetapi strategi berdasarkan “pamer kekuatan” semacam ini tak akan mampu bertahan lama. Anak akan protes yang kemudian ditanggapi oleh orangtua dengan berusaha semakin menunjukkan taring atau power-nya. Kalaupun orangtua mampu “menyelesaikan” masalah demgan caranya ini, anak tak akan pernah belajar bagaimana memecahkan masalah versi anak.  

Ingat, orangtua yang mengenalkan dan mengasah kemampuan bernegosiasi kepada anak sejak kecil, di kemudian hari akan menuai keuntungan berupa kesediaan anak untuk bekerja sama. Anak akan memposisikan orangtuanya berdampingan, bukan berhadap-hadapan sebagai musuh.

Kesatuan antara orangtua dan anak ini selanjutnya akan membangun strategi dan membina relasi yang mampu berttahan melewati badai di masa remaja. Bahkan kelak sampai anak masuk usia dewasa.

#6. Membangun Disiplin Secara Bijak

Selama ini disiplin kerap diartikan sebagai ketaatan yang bersifat one way. Artiya, anak harus melaksanakan sepenuhnya aturan yang berlaku, tanpa boleh mempertanyakan atau bahkan membantah.

Tak heran kalau pembentukan disiplin sering diwarnai dengan kekerasan. Padahal disiplin pada hakikatnya adalah proses belajar yang bersifat timbal balik dan berlangsung terus-menerus mengingat disiplin memang bukan barang sekali jadi.

Harus dimaklumi, sangat mungkin proses pendisiplinan ini akan diwarnai dengan jatuh bangun. Ingat, gagal itu sesuatu yang wajar kok. Jangankan anak, orangtua yang sudah cukup umur dan kaya pengalaman pun kerap gagal mendisiplinkan diri. Disiplin seyogianya harus mulai dibina sejak awal, bukan secara tiba-tiba menjelang akhir proses.

Awali dengan memberi kepercayaan, bersamaan dengan tanggung jawab dan penghargaan. Semakin hari tingkatkan kepercayaan, tanggung jawab dan penghargaan tadi. Terus begitu, perbesar sedikit demi sedikit. Bukan pula mempercepat proses dengan menjejali anak berbagai aturan ini dan itu.

#7. Tak Semua Hal Bisa Dinegosiasikan

Kalau Anda merasa sudah menegosiasikan terlalu banyak hal dengan anak, tak ada salahnya  untuk mundur sejenak dari garis yang ditetapkan semula. Begitu juga ketika Anda kelewat khawatir sudah bersikap sedemikian liberal membebaskan anak berbuat apa saja. Karena dengan pertimbangan apa pun, orangtua tetap dituntut untuk pegang kendali dalam mengarahkan anak.

Jadi, dalam hal tertentu adakalanya orangtua harus mengambil keputusan cepat, tegas dan tanpa kompromi.

Puspayanti  

Avatar photo

About Gunawan Wibisono

Dahulu di majalah Remaja Hai. Salah satu pendiri tab. Monitor, maj. Senang, maj. Angkasa, tab. Bintang Indonesia, tab. Fantasi. Penulis rutin PD2 di Facebook. Tinggal di Bogor.