Absent Fathers

Seide.idWahai para ayah yang absen,
Jangan beranggapan bahwa para ibu mengajarkan anak-anaknya untuk membencimu.

Seorang anak bisa melihat apakah seorang ayah ingin terlibat dalam hidup mereka, atau tidak. Hentikan omong kosong itu, bahwa para ibu selalu meracuni pikiran anak-anaknya untuk membencimu.
Sesungguhnya, ketidakhadiranmu lah racun terbesar itu.

Paragraf di atas adalah terjemahan bagi gambar di bawah ini.

Memang, aku banyaaak sekali melihat emak-emak yang emosional dan menjelek-jelekkan mantan suaminya di hadapan anak-anaknya. Bahkan tidak sedikit ibu-ibu yang malah melarang anaknya ketemu dengan ayah kandungnya. Di mataku, sikap seperti ini adalah racun juga. Yang bermasalah kan kalian, mantan suami-istri. Ngapain melarang-larang anak untuk ketemu bapaknya…? Bagaimanapun itu ayah kandungnya.

Selama ayahnya bukan predator sex, bukan pelaku KDRT terhadap anak… dan bukan orang yang menolak untuk mengakui anaknya, mengapa kita memutus jalinan komunikasi mereka…?

Yuk, bersikap dewasa dan bijak. Pahamilah, bahwa dalam diri anakmu ada kerinduan untuk terhubung dengan ‘separuh’ dirinya….


Sekarang aku mau membahas gambar di bawah.

Ada banyaaaaaaaaaaaak sekali bapak yang kabur begitu saja dari hidup anaknya. Mereka menikmati kemerdekaan dan ketiadaan bebannya setelah menjadi duda. Lantas hidup layaknya bujangan.

Sedikitnya, ada 2 lelaki yang pernah berkata padaku, seperti ini (aku lupa persisnya gimana, tapi nuansa kalimatnya seperti ini) :

“Ya gue ngirimin duit kalau sedang ada aja. Ya kalau nggak ada duit, mau gimana!?? Gue kan nggak bisa berak duit.”

Ketika itu aku meradang. Aku berkata,

“Padahal, anak butuh makan setiap hari. Mereka nggak bisa disuruh menahan lapar sampai bapaknya ‘berselera’ untuk bekerja keras. Aku yakin istrimu tidak bersikap sepertimu ‘aku kasih makan anak, kalau sedang ada duit aja. Ya gimana, kan aku nggak bisa berak duit!’ Bisa mampus jutaan anak di dunia ini, kalau emaknya nggak menjadikan kepala sebagai kaki dan kaki menjadi kepala, kerja di 2-3 tempat, untuk menafkahi anak-anaknya.

Jujur ya, dua lelaki ini adalah lelaki yang tulisan-tulisan di wallnya penuh kata bijak. Mereka memang orang-orang pintar. Lelaki pemikir. Menyenangkan lho diskusi dengan mereka…

Tapi entah ada yang salah di bagian otak yang mana, sehingga di urusan tanggung-jawab, mereka bukanlah ‘pemikir’.

Dan jika sudah begini… Aku kembali menghimbau kepada kaumku sendiri :

  • Jadilah perempuan kuat, dan bisa ‘berak duit’
  • Milikilah anak dalam jumlah yang sesuai kekuatanmu untuk menafkahi mereka, seandainya bapaknya meninggal, sakit keras, atau kabur… Kabur sambil tidak bersedia membuat dirinya mampu ‘berak duit’ untuk menafkahi anak-anak kandungnya…

Pada akhirnya, siapa yang mengandung dan melahirkan, akan diharapkan bertanggung-jawab pada yang dikandung dan dilahirkannya sampai anak-anaknya mampu mandiri.

Nana Padmosaputro

Ikuti : 4 Hal Yang Harus Ada

About Nana Padmosaputra

Penulis, Professional Life Coach, Konsultan Tarot, Co.Founder L.I.K.E Indonesia, Penyiar Radio RPK, 96,3 FM.