Apapun Agamanya, Budaya Tetap Indonesia

Apapun Agamanya, Budaya Tetap Indonesia

Kita ini lahir, tinggal, hidup dan bekerja untuk kenikmatan hidup di Indonesia. Seharusnya bersyukur dengan bangga mempertahankan budaya Indonesia, apapun agamanya. ( Foto: Cantik Menawan)

Abd Al Fatah sedang keluar rumah menuju tempat ia biasa berkotbah. Ia memakai busana yang biasa dikenakan layaknya ulama di Arab Saudi. Penampilannya bisa dilihat di kanal YouTube dalam berbagai ceramaah keagamaan.

Saat mau ke tempat ibadah itulah beliau bertemu dengan serombongan haji Indonesia yang baru selesai menunaikan ibadah haji, dan sedang mencari tempat berfoto bersama. Beberapaorang yang selintas mengenal Abd Al Fadli, lalu mengajak foto bersama. 

Saat foto itu selesa dan di upload, beberapa orang yang paham apa yang terjadi protes. Abd Al Fadli yang memakai busaha seperti halnya ulama Arab Saudi, bukan ulama Islam. Melainkan ulama Kristen. Sontak banyak jamaah yang berfoto bersama ulama Katolik terkenald i Arab itu kemudian menghapus fotonya.

Dikira Orang Islam

Al Fadi, ulama Kristen di Arab Saudi

Abd Al Fadli hanya tersenyum melihat kelakukan jamaan Indonesia. Di kanal YouTubenya, banyak pengikutnya yang sering kecele mendengarkan khotbahnya. Karena memakai bahasa Arab, dan berpakaian Arab dikiranya beliau beragama Islam. Beliau asli Arab namun agamnya Kristen. Banyak pendengar di luar Arab mengeluhkan, mengapa Abd Al Fasdli ini memakai busana mirip ulama Islam pada umumnya. 

Dengan senyum khasnya, ulama Kristen ini menjawab mengapa ia slalu berpakaian ala Muslim, “ Saya ini berasal dan hidup di Saudi dan saya bangga dengan budaya saya. Menjadi pengikut Yesus tidak berarti saya meninggalkan identitas budaya saya seorang seorang Arab.”

Di banyak negara seperti Jepang, Korea, kita tidak bisa membedakan mana orang Islam, Katolik, Budha atau Atheis. Semua mempertahankan budaya asli mereka. Mereka adalah masyarakat berbudaya yang bangga dengan pakaian khas mereka sendiri. Apapun identitas agama yang mereka percayai. 

Mengikuti pola pikir Clifford Geertz, kebudayaan memiliki dua aspek penting; kebudayaan sebagai Pola TIndakan ( Pattern of Behaviour) dan Pola Untuk Tindakan ( Pattern For Behaviour). Clifford James Geertz adalah seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat. Ia paling dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia dan Maroko dalam bidang seperti agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional, serta kehidupan desa dan keluarga.

Terjadi Kesenjangan

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, memberi contoh oang agala Islam dengan budaya Indonesia ( Foto: Detik.com)

Sebagai pola bagi tindakan, maka kebudayaan dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan tindakan. Sedang sebagai Pola Untk Bertindak, maka kebudayaan adalah apa yang dilakukan oleh individu di dalam masyarakat. 

Menurut Nursyamcentre, maka sering terjadi perbedaan atau kesenjangan antara apa yang menjadi pedoman untuk kehiduan dan apa yang dilakukannya. Banyak orang tidak melakukan apa yang telah menjadi pedoman dari suatu kebudayaan. Pola kebiasaan seperti ini bisa meninggalkan kebudayaan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sekarang ini, banyak orang yang lahir, besar dan tinggal di Indonesia, sadar atau tidak, telah menerapkan budaya orang lain. Telah menjadi orang lain. Meniru orang Arab, sebab dianggapnya beragama Islam itu harus seperti orang Arab. Tidak semua orang Arab yang berbusana Arab otomatis Islam. Di Arab Saudi ada tiga agama mayoritas; Islam, Kristen dan Hindu. Semua kebanyakan memakai busana Saudi, kecuali mereka yang memang bukan warga Saudi. Jika banyak orang Indonesia datang ke Arab, akan kaget,s ebab Arab sekaranga, tidak seperti yang mereka bayangkan. Modernisasi telah membuka mata masyarakat Arab Saudi.

Disitu Langit Dijunjung

Sebuah suasana pengajian di pesantren di Indonesia ( Foto Al Iqra)

Orang Indonesia yang tinggal dan menikmati kesejahteraan di Indonesia, jika pikirannya sehat dan modern, mestinya tetap mempertahankan busana dan kebudayaan Indonesia, meski mereka beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Akan menjadi kebanggaan tetap menjadi orang Indonesia, dibanding mereka yang selama ini menjadi orang lain dan bangga pada kebudayaan lain.

Sebagai orang Islam, harus bangga menjadi orang Indonesia yang beragama Islam. Menjadi Katolik atau Hindu dan Budha bangga dengan agamanya namun tetap mempertahankan budaya Indonesia. Apa yang ada di Saudi sana adalah budaya Islam yang ada di Arab Saudi.

Penyair Kiai Zawawi Imron menulis begini ,” Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Di facebook, kini setiap hari banyak kaum perempuan memakai kain berbalut batik, baik perorangan atau berkelompok, berfoto bersama. Tanpa penutup rambut tampak bangga dengan busana yang mereka kenakan dan bangga menjadi orang Islam atau Kristen. Tampaknya ini mulai menjadi trend sekaligus keterbukaan perempuan untuk bangga menjadi orang Indonesia, apapun agama mereka.

Kita ini lahir, hidup, dibesarkan dan mencari kenikmatan hidup di atas tanah air Indonesia, tetapi kehidupan sehari-hari kita justru membanggakan budaya orang lain. Semoga semua dari kita diberi cahaya terang dan rasa syukur yang tak terhingga…..

TULISAN LAIN
Stop Mempromosikan Orang Buruk

Dari Mana Datangnya Kasih Sayang?

Ini Alasan Mengapa Masih Lebih Baik Investasi pada Kripto

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.