AHY: Menanti Calon Mempelai Pria Impian

Nasdem menyebut sejumlah sosok yang layak mendampingi Anies di Pilpres 2024, yaitu Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil, dan Andika Perkasa. Sama sekali tidak ada nama AHY dalam deretan bakal cawapres yang layak dipinang Anies.

Oleh SYAH SABUR

IBARAT calon mempelai wanita, Agus Harimuti Yudhoyono atau AHY sudah siap dengan (hampir) segalanya. Dia sudah punya busana pengantin yang paling bagus, punya penata rias jempolan, catering nomor wahid, juga tempat resepsi terbaik sekaligus tanggal pernikahan. Karena itu, dia begitu berbunga-bunga saat pidato di depan sang mempelai impian, Anies Baswedan yang berkunjung ke markas Partai Demokrat.

Tak pelak, sambil berseri-seri, dia pun menyampaikan segudang pujian untuk Anies yang dideklarasikan oleh Partai Nasdem sebagai capres di ajang Pilpres 2024. Demokrat pun memberi keleluasaan kepada Anies untuk memilih cawapres.

AHY mengawali pidatonya di depan Anies dengan menyebutkan kehadiran para kader, bukan hanya dari jajaran DPP Partai Demokrat, tetapi juga dari kader-kader berbagai daerah. Menurut AHY, bukan hanya DKI Jakarta, tapi juga Jawa Barat, Banten, bahkan daerah lainnya. “Juga hadir sejumlah gerakan relawan Anies-AHY yang berkumpul di DPP Partai Demokrat,” ujarnya sambil terus memamerkan giginya pertanda riang gembira. Wajah berbinar-binar juga dipertontonkan istri AHY (Annisa Pohan), para fungsionaris dan kader Demokrat yang mendamping Sang Ketua Umum.

Persahabatan Anies-AHY
Selanjutnya dengan bangga AHY menceritakan persahabatannya dengan Anies yang sudah berlangsung cukup lama, sejak mereka berdua belum menjadi politisi. Tepatnya, ketika AHY masih aktif sebagai perwira TNI dan Anies sebagai tokoh intelektual hingga keduanya bersama-sama mengikuti pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017.

“Itulah indahnya persahabatan kami tidak retak sedikit pun akibat sebuah kompetisi bahkan sebaliknya, setelah Pilgub berakhir kami justru semakin dalam membangun visi dan misi membangun bangsa ke depan,” ujar putra sulung SBY itu. Yang menarik, AHY sempat terhenti sejenak saat memuji Anies sebagai leader in crisis karena Anies masih mengurusi korban banjir menjelang akhir masa jabatannya. AHY sepertinya sadar bahwa banjir bukanlah prestasi seorang gubernur. Sebab, salah satu janji kampanyenya adalah mengatasi masalah banjir. Bahkan, banyak juga warga Jakarta yang menganggap Anies tak berdaya menghadapi masalah banjir di Ibu Kota.

Terakhir, AHY berharap agar silahturahimnya dengan Aniies menjadi awal yang lebih baik untuk “kebersamaan kita semua” guna mengusung perubahan untuk Indonesia yang semakin baik. “Mas Anies memiliki visi dan spirit yang sama. Oleh karena itu, tidak heran ketika chemistry yang terjalin semakin kuat karena kami dipertemukan oleh visi misi, prinsip dan etika untuk memajukan bangsa ke depan,” tegas AHY.

Anies mengaku dekat dengan AHY. Namun belum ada jaminan akan meminangnya sebagai cawapres. Foto foto instagram Partai Demokrat.

Sebagai balasan atas pidato AHY, Anies pun berterima kasih atas kehangatan sambutan dari Partai Demokrat dan berharap hal itu jadi penanda bahwa kita siap untuk jalan bersama-sama. “Bahwa keinginan untuk jalan bersama itu bukan keinginan dari puncak, keinginan jalan bersama adalah keinginan bergerak dari seluruh arah,” ungkap Anies.

Bukan Akhir tapi Awal Baru Anies juga mengungkapkan, silaturahmi dengan AHY bukanlah sebuah akhir tapi akan menjadi awalan baru. Anies pun mengakui, interkasinya dengan AHY dan Demokrat sudah terjalin sejak lama sehingga bisa membangun intimacy dan saling percaya. “Ketika ada kepercayaan, ada kedekatan maka perjalanan panjang bisa kita lewati bersama-sama,” kata Guberur DKI yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 16 Oktober 2022.

Lalu, apakah dalam pidatonya Anies menyebut AHY sebagai bakal cawapresnya? Anies memang berkali-kali menyebut kata “kebersamaan” namun dia juga menegaskan akan menindaklanjuti pertemuannya bersama AHY dengan menemui PKS setelah sebelumnya dia dideklarasikan Partai Nadem.

Sekadar catatan, barangkali AHY lupa bahwa kebersamaan itu tidak bisa hanya dimaknai sebagai langkah Anies untuk menjadikan AHY sebagai capres. Kebersamaan itu bisa juga dalam arti koalisi antara Nasdem, PKS, dan Demokrat.

Saya juga tidak yakin Anies berani langsung menggandeng AHY tanpa meminta restu PKS atau Nasdem, minimal meminta pertimbangan dari kedua partai tersebut. Memang di saat deklarasi, Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh (SP) berjanji untuk memberi keleluasaan kepada Anies dalam menentukan cawapresnya sendiri.

Deretan Cawapres Versi Nasdem

Tapi hanya beberapa hari setelah deklarasi, Nasdem menyebut sejumlah sosok yang layak mendampingi Anies di Pilpres 2024, yaitu Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil, dan Andika Perkasa. Sama sekali tidak ada nama AHY dalam deretan bakal cawapres yang layak dipinang Anies.

AHY juga tentu masih ingat saat dia menyambangi markas Nasdem awal Maret 2022. Saat itu SP tidak menyambutnya di lobi Nasdem Tower, juga tidak menemaninya saat konperensi pers seusai keduanya bertemu.

Hal itu sangat berbeda saat SP menerima Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, Presiden PKS , Ahmad Syaikhu atau Ketua DPP PDIP, Puan Maharani. SP menyambut mereka dengan sangat hangat dan bersama-sama menggelar jumpa pers.

Kalau alasannya SP menganggap AHY jauh lebih muda, usia Puan pun tak jauh beda dengan AHY. Bisa jadi sikap itu muncul karena SP menganggap AHY yang belum punya pengalaman, baik dalam politik maupun pemerintahan. Posisinya sebagai Ketua Umum Demokrat pun bisa dianggap karena dia diwarisi sang ayah.

Melihat gelagat seperti itu, sama sekali belum ada jaminan bahwa Anies akan meminangnya sebagai cawapres. Dari sisi Anies, bisa jadi dia pun berpikir, meminang AHY tak ubahnya merawat anak macan. Anak macan memang lucu ketika masih balita. Tapi setelah dewasa, sang macan bisa jadi akan memangsa pemiliknya. Setelah lima tahun mendampingi Anies, bukan tidak mungkin kepercayaan diri AHY akan meningkat berkali lipat untuk menantang Anies di Pilpres 2029.

Karena itu, AHY sebaiknya menahan diri untuk tidak terlalu mengumbar kebahagiaan di depan publik. Boleh jadi AHY sudah punya segala hal untuk menikah. Tapi semua itu tidak ada artinya karena sarat utama pernikahan adalah calon mempelai pria.***

Avatar photo

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi