Foto : Safrist / Pixabay
Penulis : Jlitheng
Tuhanku, ibarat kelor, saya bukan yang bergalih. Yang dicari banyak orang untuk jadi jimat. Daunku tidak lebar, mudah robek dan rontok. Batang rantingku lentur, mudah terkulai dan patah. Sosokku kurang diinginkan, tak dipedulikan dan mudah dilupakan.
Kalaupun tidak sempurna, jika Tuhan ijinkan, saya ingin jadi “teman bagi yang tidak diinginkan, jadi sahabat bagi yang tidak dicintai, jadi kerabat yang tak dipedulikan dan dilupakan semua orang.”
Tidak diinginkan, tidak dipedulikan dan dilupakan adalah wujud kemiskinan yang paling dalam, melebihi kemiskinan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan atau dipakai.
Tuhanku dan guruku, walau tak layak namun bila Engkau mau, maka:
# Rasa empatiku, yang terucap dan tertulis, jadi tongkat penguat bagi para sahabat yang terseok dan tertatih letih oleh beban hidupnya
# Buah nalar pikiranku, yang terucap dan tertulis, berguna jadi penyaring khabar serta isu-isu indah, namun palsu menyesatkan
# Kepedulian hatiku, yang terucap dan yang tertulis, menukar resah jadi damai, ketika ada silang selisih.
Marilah tetap seiring, jadi sahabat yang sejati. Jika berbicara tidak bohong, jika berjanji tidak ingkar, dan jika berbuat tidak jahat.
Salam sehat dan kalaupun tidak hebat tetaplah tekun berbagi cahaya.
Jika Imanmu Selebar Daun Kelor – Catatan halaman 168
Walau Kering, Ranting itu Penting – Catatan Halaman 167
Ibarat Sehelai Daun, Jatuhmu Tidak Sia-sia – Catatan halaman 166






