Alasan Jepang Tetap Menerapkan Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi Covid-19

JEPANG

Oleh ICAD N.G.

Seide.id – Meski sedang terjadi lonjakan kasus Covid-19 varian delta di Jepang, sekolah tetap buka, “Pemerintah tidak melihat penutupan sekolah secara menyeluruh sebagai solusi,” kata Menteri Pendidikan Jepang,  Koichi Hagiuda. Walau demikian, ia tetap menghormati kebijakan pemerintah daerah untuk memperpanjang liburan sekolah di musim panas atau menutup sekolah sementara.

Pembukaan sekolah di Jepang sudah berlangsung selama satu tahun lebih. Juga akhir-akhir ini, di tengah ganasnya virus Covid-19 varian delta, Jepang tetap tidak menutup sekolah secara menyeluruh. Tentu hal tersebut tidak akan mungkin terjadi, bila para guru di Jepang tidak memiliki sifat altruistik yang mulia.*

“Kita akan melindungi kesempatan anak-anak untuk belajar semaksimal mungkin,” kata Hagiuda, merujuk pada pemberlanjutan pendidikan, (bila diperlukan) dengan menerapkan kelas online dan teknologi lainnya untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Akan tetapi, pada hari jumat lalu, Hagiuda dan Perdana Menteri Jepang, Yosihide Suga. mengkonfirmasi bahwa tidak ada kebijakan menutup sekolah secara menyeluruh di negara tersebut.

Menteri pendidikan, memberikan saran pada dewan pendidikan di prefektur atau provinsinya masing-masing dalam mengatasi pandemi. Terutama memberi tahu cara-cara untuk menangani virus Covid-19 varian delta yang sangat menular. Dalam sarannya, menteri pendidikan menekankan tindak pencegahan Covid-19. Salah satu caranya adalah dengan mempromosikan vaksinasi bagi para guru dan staff sekolah.

Walau demikian, sekolah-sekolah di Jepang sudah memiliki program kesehatan sebelumnya. Program kesehatan di sekolah, selama pandemi antara lain, seperti kapasitas ruang kelas dikurangi setengahnya, menggunakan masker di dalam ruangan, menjaga jarak, ketika makan tidak boleh berbicara, dan siswa harus menjalani tes temperatur secara rutin.

Akan tetapi, pada bulan Februari 2020, pemerintah Jepang meminta agar seluruh sekolah dasar, SMP, dan SMA yang ada di negara tersebut, ditutup sementara. Permintaan tersebut, dikeluarkan setelah meledaknya kasus Covid-19 di Jepang. Sejak saat itu, pemerintah jepang tak pernah mengusulkan kebijakan untuk menutup sekolah secara menyeluruh.

Sekolah di Jepang mulai dibuka kembali pada bulan Juli 2020, sedangkan kampus masih menerapkan pembelajaran jarak jauh. Sachika Sato, seorang guru yang mengajar di Sekolah Dasar Funabori merasa senang karena bisa kembali mengajar secara langsung.

Hal tersebut begitu kontras dengan di Amerika Serikat dan mayoritas negara lainnya, di mana para guru dan dosen masih memperdebatkan tentang keamanan kelas tatap muka. Sedangkan di Jepang sendiri, tidak ada satu pun orang tua atau guru yang protes dengan pembukaan kembali sekolah. Padahal Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki ruang kelas yang padat bila dibandingkan dengan negara maju lainnya.

“Ruang kelasdan siswanya  di Jepang begitu besar dibandingkan dengan negara maju lainnya. Sehingga bila melihat dalam sudut pandang social distancing, maka di Jepang lebih berisiko tinggi untuk menyebarkan virus dibanding dengan negara lain,” kata Masatoshi Senoo, seorang penasihat lepas dan konsultan manajemen sekolah.

Japan Teacher’s Union (JTU) atau perserikatan guru Jepang, sejauh ini belum memberikan protes terhadap pembukaan kembali sekolah.

“Tak pernah terpikirkan dalam benak kami untuk memprotes pembukaan sekolah. Berada di dekat anak-anak adalah tujuan dari sekolah. Dasar pijakan kita adalah, bahwa sekolah harus tetap buka dan sebanyak mungkin dibuka,” kata juru bicara JTU, Nobuyuki Uchiyama. Selain itu ia juga menambahkan, bahwa JTU lebih mengkhawatirkan tentang dampak penutupan sekolah, yakni pada kesehatan mental dan proses belajar anak-anak.

“Para guru di Jepang memiliki tempat yang lembut untuk ide demi kebaikan anak-anak,” kata Uchiyama, yang pernah mengajar di sekolah dasar dan SMP sebelum ia bekerja di JTU.

Tanno, pengajar di SMP selama hampir 20 tahun sebelum memiliki posisi di JTU, setuju dengan pendapat Uchiyama.

“Ketika saya berpikir tentang pertanyaan tentang mengapa para guru di Jepang tidak protes dengan adanya pembukaan kembali sekolah, saya merasa bahwa selalu ada pikiran seperti ini dalam benak saya ‘mau melakukan sesuatu untuk anak-anak,” kata Tanno.

Ia juga menambahkan, “Rasa tanggung jawab yang besar, sudah berada dalam diri guru Jepang. Ketika kami melihat anak-anak dalam masalah. Kami merasa harus untuk membantu mereka, tidak peduli kapanpun.”

*Icad N.G., mahasiswa FIB Universitas Indonesia

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.