Perilaku berbohong semacam ini umumnya dibarengi dengan gangguan kepribadian. Seperti kehendak untuk memanipulasi, dan mengendalikan orang lain. Dan, tentu saja frekuensi berbohongnya lebih banyak dari teman sebayanya.
“Bukan aku! Kenapa aku yang disalahin? Itu kakak tadi yang ambil.”
Atau
“Waktu ke rumah Tante Eli, aku bener dikasi uang sama Nana. Ini uangnya yang kubilang tadi sama Mama.”
Ketika Mamanya baru saja mau bicara,
“Iya … iya aku ngaku. Itu tadi ambil dari celengan. Aku nggak pernah dikasi Nana.”
Sebuah percakapan sehari-hari, tetapi banyak hal yang bisa kita amati dan pelajari dari situ. Salah satunya tentang tahap perkembangan anak sebagai manusia.
Menurut psikologi perkembangan, perilaku berbohong adalah hal yang normal untuk anak-anak dari segala usia, bahkan bila dilakukan seringkali.
Perilaku ini menurut para ahli membuka kemungkinan anak-anak untuk menguji batas antara khayalan dan kenyataan, belajar strategi melindungi diri dari konsekuensi tindakan mereka, dan sebagai proses pembelajaran untuk memahami bagaimana orang lain berpikir.
Beberapa kebohongan mungkin saja menandakan masalah yang lebih dalam, seperti masalah kesehatan mental atau kecenderungan untuk memanipulasi orang lain.
Untuk hal ini, sebagai orang tua kita perlu lebih cermat mengamati, untuk bisa membedakannya.
Perilaku berbohong yang umumnya terjadi, bisa digambarkan seperti ini. Ketika anak-anak menggunakan cerita bohong untuk menghindari dimarahi, dikenai hukuman, atau malah untuk mendapat apa yang mereka inginkan.
Apakah pernah menemukan anak kita dengan bibir dikelilingi remah-remah, tetapi dia tidak mengaku mengambil kue dari dalam kulkas, padahal baru saja menyikat gigi?
Atau, mungkin si Leo bercerita dengan penuh semangat tentang kehebatan tip ex trondol (yang dilihatnya di youtube) padahal belum pernah memainkannya, dengan harapan besar agar dibelikan?
Kenyataan ini menunjukkan fakta yang penting sebenarnya untuk kita perhatikan. Bahwa, berbohong pada usia anak menunjukkan kemampuan berpikir yang tinggi.
Berikut alasannya. Anak-anak tak hanya harus mengimajinasikan bahwa sesuatu itu tak benar, mereka juga harus mengantisipasi bagaimana respons seseorang akan cerita bohong mereka, mengingat cerita yang dikarangnya itu, dan mengontrol dorongan untuk menahan diri membeberkan kebenaran. Makin anak bertumbuh, keahlian itu akan makin terlatih.
3 Tahap Kebohongan Anak
Victoria Talwar dan Kang Lee dari Universitas McGill pernah melakukan penelitian terkait proses perkembangan perilaku berbohong pada anak, dan membuat penjelasan tentang tahap-tahapnya.
Tahap 1 : Usia anak 2-3 thn
Fase ini adalah usia seorang anak belajar berbohong. Biasanya seputar mangkir mengakui apa yang dilakukannya. Berdasarkan riset, kebohongan ini bukan yang disengaja, tetapi lebih menunjukkan bagaimana kemampuan kreativitas berpikir anak. Dengan pemikiran sederhana anak usia 2-3 tahun, anak-anak berpikir seperti ini. Bila orang tua percaya saya tidak melakukan perbuatan tersebut, orang tua tidak marah, perbuatan itu akan terlupakan dengan sendirinya.
Tahap 2 : anak usia 4 tahun
Pada usia ini, anak-anak mulai berpikir, bagaimana pikiran orang lain terutama orang tua akan perbuatan mereka. Cerita mereka akan memiliki tingkat kebohongan yang lebih tinggi, karena mereka mulai memperkirakan hal ini akan mencurigakan atau tidak. Di usia ini pun anak-anak sudah paham bahwa berbohong tidaklah baik, akan tetapi agar orang tua menjadi senang, tidak apa-apa bila berbohong untuk menutupi perilaku mereka yang tidak baik.
Tahap 3 : anak usia 7-8 tahun
Anak-anak tidak hanya mampu dengan sengaja membohongi seseorang atau berbohong, tetapi mereka juga dapat mempertahankan cerita bohong itu untuk terlihat dan terdengar meyakinkan saat menceritakannya. Anak-anak seusia ini cenderung berbohong karena mereka tidak ingin terkena masalah, dan karena mereka sedang belajar tentang self image. Tidak ingin menganggap diri mereka sebagai sosok yang “jahat”, tetapi anak baik-baik.
Setelah memahami tahapan-tahapan tentang perilaku berbohong ada baiknya kita mewaspadai hal-hal berikut.
Pada kenyataannya, anak-anak melakukan tindakan berbohong, selalu dilatarbelakangi alasan tertentu. Mengidentifikasi alasannya lebih KRUSIAL dan PENTING daripada kita memberi cap kepadanya sebagai tukang bohong, atau menghukumnya.
Berfokus pada keinginan menghukumnya, tanpa mengajak ngobrol alasan anak melakukan hal tersebut, hanya akan mendorongnya memikirkan bagaimana cara-cara berbohong di lain waktu, dengan skill lebih tinggi agar tidak ketahuan.
Berikut beberapa tanda perilaku yang perlu diwaspadai bila orang tua mencurigai perilaku berbohong anak BUKAN perilaku khas psikologi perkembangan.
• Sering berbohong tanpa alasan yang jelas
• Mengalami masalah kepribadian lainnya, seperti kemarahan yang berlebihan, tidak memperhatikan perasaan orang lain, atau perasaan anak setiap hari mudah berubah-ubah
Perilaku berbohong semacam ini umumnya dibarengi dengan gangguan kepribadian. Seperti kehendak untuk memanipulasi, dan mengendalikan orang lain. Dan, tentu saja frekuensi berbohongnya lebih banyak dari teman sebayanya.
Untuk situasi seperti ini, yang perlu dilakukan adalah dengan mengajaknya berkonsultasi ke dokter tumbuh kembang atau psikologi, agar tidak mengindikasikan atau berlanjut ke arah pembentukan perilaku yang kurang baik.
Salah Merespons, Anak Makin Berniat Berbohong
Fakta mengejutkannya, ketika ada kasus anak berbohong, atau dicurigai menyembunyikan sesuatu; respons para orang tua yang cenderung memilih A akan makin menyudutkan seorang anak, dibanding respons B.
Kondisi itu memperbesar kemungkinan anak berbohong untuk kasus yang sama atau berbeda, di waktu dan tempat yang berbeda, dengan orang yang sama atau berbeda.
Situasi 1
Kita meyakini anak merebut mainan dari saudaranya.
Respons A :
Benar ‘kan kamu merebut mainan dari adikmu?
Respons B :
Yuk kamu bantu Ibu pikirkan ini. Ada satu mainan, tapi adikmu dan kamu sama-sama ingin main. Gimana ya caranya?
Situasi 2
Mengecek anak sudah mencuci tangan sebelum makan
Response A :
Nah, belum cuci tangan ‘kan! Ketahuan ya, kamu!
Respons B :
Gimana kalau kita cuci tangan bareng? Ayah juga belum cuci tangan nih!
Atau
Menurut kamu, kenapa sih kita perlu cuci tangan? Apa bisa sakit perut kalau nggak melakukannya?
Situasi 3
Ketika kita tahu anak sudah mencoba-coba barang yang tak boleh dia gunakan. Misal barang elektronik atau perhiasan, kosmetik dll
Respons A :
Kamu sudah utak atik barang ini ya, posisinya kok di tombol On?
Atau
Kamu pakai lipstik mami untuk corat coret tembok ‘kan?
Respons B :
Hei, apa sih yang buat kamu penasaran sama mesin ini? Kamu ingin tahu ya?
Atau
Menurutmu, lipstik bisa digunakan untuk menulis seperti pensil?
Situasi 4 :
Ketika ada banyak coretan di tembok.
Respons A :
Ayo ngaku, siapa yang corat coret tembok?
Respons B :
Apakah kita perlu membuat tembok jadi poster besar, siapapun boleh melukis di situ? Atau, kita bikin gambar apa ya agar bagus?
Tentu saja, kemampuan orang tua untuk bisa memberi respons B, memerlukan kesabaran, pengendalian diri dan kedewasaan berpikir; yang tak serta merta muncul, atau terlatih sesegera Anda selesai membaca tulisan ini.
Yuk, adakah dari para pembaca tulisan ini yang ingin bersama-sama saya mencobanya?
Aplikasi Kecantikan di Medsos Bikin Penggunanya Mengalami Gangguan Psikologis
SEPUTAR CHEATING: Hal Penting Lain Dari Sekedar Mengurus Perempuan atau Lelaki






