Anda Jangan Tersesat Dalam Berobat. Internet Bukan Dokter (3)

Seide.id – Banyak obat dokter yang berkhasiat kemudian ditarik dari peredaran setelah sekian lama dipakai ternyata muncul efek samping yang membahayakan kesehatan.

Di kita, penyembuan dan pengobatan nonmedis begitu beragam. Orang Barat tersesat di websites, masyarakat kita tersesat di realita “kesembuhan satu-dua” yang belum tentu sahih. Masih untung kalau sekadar gagal sembuh saja. Kalau sampai berakibat kehilangan peluang mendapat terapi medis seperti kasus Pak Mun. di atas, betapa menyesalnya.

Amati websites dan minta pendapat medis
Banyak situs-situs di internet yang berorientasi komersial. Perlu menyangsikan informasi medis di websites yang berorientasi pasien, oleh karena kini diyakini memberi efek negatif terhadap sikap pasien dalam berobat dan mencari alamat berobat yang tepat.

Tidak semua websites punya reputasi baik. Popularitas sebuah situs juga bukan jaminan sahihnya informasi medis yang diberikan.

Berbeda dengan jurnal medis, yang lebih berwibawa dalam menawarkan informasi medis (baru), kebanyakan informasi medis websites tidak melalui penyaringan sebagaimana halnya laporan jurnal medis.

Bahkan setiap orang bisa mempublikasikan secara online, bahkan mungkin sekadar pengalaman medis pribadi belaka. Maka perlu disangkal, oleh karena nyatanya tidak semua informasi medis di websites terjamin kualitas dan kemutakhirannya.

Sikap kritis terhadap informasi medis websites perlu dibangun.

Caranya dengan mengamati:
(1) dari mana sumber informasinya; (2) siapa pemberi informasinya; (3) apa tergolong kredibel; (4) siapa sponsor uji klinis; (5) apa referensinya cukup; (6) apa referensi dari jurnal atau lembaga pendidikan yang punya reputasi; (7) apa ada lebih dari satu opini medis; (8) apa motivasi informasi medis; (9) apa tercium ada bau promosi suatu produk (obat, suplemen).

Akibat terpikat oleh informasi medis sebuah website yang menjelekkan khasiat obat kemoterapi kanker sambil menganjurkan produk berkhasiatnya, banyak kasus kanker payudara yang menjadi korban, mati lebih cepat dibanding yang memilih obat dokter.

Di AS setengah juta orang mati sebab kanker setiap tahun, hanya 2-3 persen yang memanfaatkan terapi dokter akibat terpengaruh informasi sesat websites yang dibukanya.

Tidak sedikit websites yang diamati yang terbukti menakut-nakuti pasien untuk tidak mengobati kanker dengan obat konvensional dokter, sehingga pasien gagal disembuhkan dan kehilangan peluang untuk sembuh dengan obat dokter.

Pasien bingung
Tidak sedikit pasien yang menjadi bingung setelah divonis dokter. Bukan saja di kita, di Barat pun begitu divonis kanker, pasien syok lalu menjadi cemas.

Dari riset terhadap ratusan websites, tercatat banyak pasien kanker yang mencari websites begitu mendengar dirinya kanker.

Namun informasi medis kebanyakan websites malah menambah resah pasien, tidak sedikit pasien yang terkecoh, lalu memilih alamat berobat yang tidak tepat. Pasien yang takut dioperasi lebih percaya dan meyakini penyembuhan (alternatif) yang ditawarkan website.

Disarankan bagi setiap pasien agar minta pendapat kedua dari pihak medis sebelum memutuskan pilihan berobat.

Ada beberapa websites yang memberi layanan jasa ini, antara lain Health Medical Assistance Online, organisasi internasional untuk belajar skeptis terhadap informasi medis (Health Skepticism), termasuk bagi kalangan dokter untuk tidak mudah percaya pada informasi medis yang mengaku “baru” dan mutakhir.***

Salam sehat,
Dr Handrawan Nadesul

Menggugah Animo Menulis