Kas Kecil, Antisipasi, dan Solusi

Harga bahan kebutuhan pokok naik itu hal yang wajar, dan biasa. Tidak perlu reaktif, apalagi kita langsung mencari kambing hitam alias menyalahkan pihak lain.

Langkah pertama dan utama itu lebih baik, jika kita menyalahkan diri sendiri. Lho?!

Tidak perlu kaget, sewot, apalagi marah. Karena, marah itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya makin mengeruhkan masalah, dan melemahkan imun sendiri. Lebih suloyo, jika beban pikiran itu membuat kita jadi stres. Bahkan lebih gawat, jika kita lalu sakit atau terserang stroke.

Alangkah bijak, dalam menghadapi setiap perubahan itu, kita tetap bersikap tenang. Kita mawas diri agar kita jeli melihat perubahan itu dan menemukan solusinya.

Begitu pula dengan kenaikan harga kebutuhan pokok atau barang lainnya.

Perubahan harga itu sebenarnya hal yang wajar. Tapi, kenyataannya
kita sering kaget, terhenyak, bahkan shock, ketika barang itu ganti harga (melonjak).

Kita kaget, karena banyak barang kebutuhan pokok yang ganti harga berarti ada yang keliru dengan tata kelola keuangan kita.

Sekali lagi, jangan menyalahkan pihak lain!

Coba bertanya pada diri sendiri. Apakah kita menganut falsafah “besar pasak daripada tiang?”

Jika benar, maka hal itu mutlak jadi kesalahan kita. Sebaliknya, jika kita telah melakukan hidup hemat dan prihatin, kita juga salah. Karena kita tidak mau berjuang untuk mencari kerja atau obyekan yang lain guna menambah pemasukan.

Sama halnya dengan dunia usaha. Ketika terjadi ganti harga pada bahan-bahan kebutuhan pokok.

Langkah utama kita adalah perbaiki tata kelola keuangan perusahaan dengan benar. Apakah selama ini kita telah menerapkan garis kebijakan keuangan dengan baik dan seksama?

Padahal, ganti harga bahan-bahan kebutuhan pokok itu tidak termasuk masalah sulit untuk diantisipasi.

Caranya juga sederhana. Apapun bahan kebutuhan pokok untuk produksi perusahaan, kita tagih lebih mahal dari nilai harga beli yang sebenarnya. Tujuannya, selisih harga ini untuk mengantisipasi, jika terjadi lonjakan harga material. Sisanya dimasukkan ke kas kecil, atau ditabung.

Semoga, dengan tata kelola keuangan yang baik dan hidup hemat, keluarga kita mampu lewati badai resesi dunia.

Foto : Nattanan Kanchanaprat / Pixabay

Budaya Antisipasi untuk Temukan Solusi

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang