Perut Kita Bukan Apotek

Seide Mengamati kebanyakan di antara kita begitu gampang minum obat, entah sudah berapa lama saya pernah menulis artikel di koran,bahwa sesungguhnyalah perut kita bukan seperti apotek, memuat begitu banyak obat-obatan.

Obat sebagai komoditi khusus, tidaklah sama sikap kita menyikapinya. Bukan karena ingin, melainkan karena butuh. Kapan obat dibutuhkan, hanya profesi dokter yang menguasai.

Tidak semua penyakit, keluhan, gangguan, gejala, memerlukan obat. Seberapa bisa apa pun keluhan dan gejalanya, dihadapi tanpa obat dulu atau non pharmaca. Kebanyakan keluhan atau gangguan orang sekarang lebih sebab keliru dalam gaya hidup. Maka perbaiki dulu gaya hidupnya.

Hipertensi yang bukan turunan, dan yang turunan itu hanya sepersepuluh kasus, lebih disebabkan oleh keliru memilih gaya hidup, yakni badan dibiarkan gemuk, kurang gerak, kelebihan konsumsi garam dapur. Maka koreksi dulu ketiga faktor risiko itu. Baru kalau setelah faktor risiko dikoreksi, tensi masih di atas normal, obat baru dipertimbangkan dipakai. Demikian pula bila diabetik, mungkin sebab kelebihan berat badan, tidak gerak badan, maka koreksi dulu faktor risikonya itu.

Boleh dibilang hampir semua penyakit umumnya sebab faktor gaya hidup. Kelewat cepat minum obat tidak selalu benar.

Hal lain, dokter diajarkan bagaimana menulis resep yang rasional. Artinya resep yang tepat sesuai diagnosis, dengan pertimbangan risk-benefit. Kalau manfaat obat lebih besar dari risiko (efek samping dan indikasi kontra) untuk suatu kasus, maka obat laik dipakai. Sebaliknya kalau lebih besar risikonya ketimbang manfaatnya, keliru kalau masih mengonsumsi obat. Misal kalau sedang kurang enak badan, dan dibawa tidur saja keluhan bisa mereda, minum obat dinilai tidak tepat, karena itu berarti hanya memikul risiko efek sampingnya.

Pertanyaan acap muncul, bagaimana kalau diputuskan dokter harus minum obat seumur hidup?

Kalau pertimbangannya, tanpa minum obat rutin, penyakitnya tidak terkendali, lalu muncul komplikasi, dan komplikasi bisa mengancam nyawa, maka obat wajib dikonsumsi sepanjang hayat. Artinya manfaat obat lebih besar dari risiko efek sampingnya. Obat pada kondisi ini menyelamatkan nyawa, dan mengendalikan penyakit sehingga bebas komplikasi.

Hanya profesi dokter yang tahu kapan obat harus tetap diminum, dan kapan boleh dihentikan. Resep yang rasional juga berarti kalau bisa satu macam obat untuk menyembuhkan, kenapa harus lebih? Kalau bisa setengah dosis kenapa harus dosis penuh? Kalau minum obat cukup beberapa hari kenapa harus berminggu-minggu? Kalau bisa tidak sepanjang hayat kenapa harus rutin mengonsumsi?

Prinsip resep rasional dengan dosis sekecil mungkin memberikan hasil sebesar mungkin. Dan tubuh manusia tidak semua sama. Maka dikenal “dosis tukang jahit” atau tailor dosage. Tiap orang diukur sendiri dosis sekecil mungkin yang memberikan hasil sebesar mungkin. Orang Jepang bahkan hanya minum separo dosis menyadari tubuhnya lebih kecil dari orang Barat tempat setiap obat diteliti.

Sekali lagi obat itu racun kalau ditelan berlebihan. Dan obat menjadi dewa kalau diberikan tepat pada kasusnya, cocok untuk orangnya, dan manfaatnya lebih besar dari mudaratnya. Kita tidak mungkin bisa mengelak dari efek samping obat. Bahkan obat warung sekalipun punya efek samping. Namun efek samping sebagai risiko mengonsumsi obat kita abaikan dan menjadi bagian dari konsekuensi memakai obat, bila obat benar tepat dan jitu menyelamatkan nyawa dan atau mengendalikan penyakit kita.

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL

Terapi Alternatif: Ayo Kita Belajar Bernalar Medik (1)

handrawan nadesul

About Dr Handrawan Nadesul