Wanita Arab Bebas Melepas Jilbab di Depan Umum 

Perempauan Arab Bebas Melepas Jilbab. Foto: GeoTimes

Wanita Arab bebas melepas jilban di depan umum atas kesepakatan negara dan ulama Arab. ( Foto: GeoTimes)

Ketika Putra Mahkota Arab Saudi mengumumkan bahwa wanita tidak wajib berjilbab lagi, disambut dengan gegap gempita para wanita yang selama ini merasa terkungkung. Salon rambut pria penuh antrian, Para wanita menginginkan potongan rambut pendek seperti pria. Ini memudahkan mereka bergerak dan tidak canggung bekerja di antara para pria. 

Pelepasan kewajiban untuk tidak memakai jilbab merupakan revolusi dunia Islam, khususnya dimulai di Arab Saudi.

Kerajaan Arab Saudi, Pusat Agama Islam dunia, kini sedang memasuki era modernisasi di hampir seluruh kehidupan bangsa Arab dalam mewujudkan visi 2030 yang diluncurkan Putra Mahkota Arab Muhamad bin Salman ( BMS). Visi Arab saat ini adalah mewujudkan Arab Saudi sebagai Pusat Perhatian dunia dan Islam untuk Kekuatan  investasi dunia di 3 benua: Asia, Afrika dan Eropa ( AAE). 

BACA: Sejarah dan Keistimewaan Seni Kaligrafi Islam

Sejumlah langkah diambil. Salah satunya yang revolusioner adalah memberi kebebasan wanita Arab melepas jilbab di depan umum. Para ahli agama Islam telah diajak diskusi di kerajaan dan itulah hasilnya: tak ada kewajiban memakai jilbab di depan umum. Wanita boleh bekerja apa saja sesuai kekuatan dan kodratnya. 

Mengapa Jilbab ?

Aksi melepas jilbab banyak wanita Arab. Foto: Detik.com

Saya teringat wawancara yang menarik sekian tahun lalu antara Ade Armando dan seorang ulama, profesor dan peneliti Sastra Arab bernama 

Musdah Mulia. Beliau tokoh terpenting dalam gerakanm jender di Indonesia.

Ada suatu masa dimana para ulama Islam utama berkumpul dan memutuskan; apa cara yang akan ditempuh Islam dalam melakukan islamisasi masyarakat ke seluruh dunia. Ada dua pilihan waktu itu; pendidikan dan jilbab. Usai adu argumentasi, dilakukan semacam voting dan mayoritas mengatakan untuk mempercepat islamisasi, tanda yang dikenal adalah dengan jilbab. Bukan dengan pendidikan. 

KIni tampak hasilnya, jilbab ada di mana-mana sebagai simbol Islam, namun masyarakat Islam ketinggalan jauh dalam hal pendidikan dan kemajuan penemuan-penemuan dunia. 

Bukan Tanda Kesalehan

Menurut ulama Musdah Mulia, jika ingin memulai Islamisasi harusnya dengan pendidikan. Jangan dengan jilbab yang gampang mengislamisasi. Negara harus tidak membiarkan pemaksaan jilbab di tempat paud atau di sekolah publik. Publik itu milik negara. Tak ada unsur pemaksaan agama. Dalam hal ini, negara abai. Kesalehan seseorang itu bukan dari jilbab. Itu bukan ukuran.

BACA JUGA: Sumanto al Qurtuby : Busana Muslim/Muslimah itu Tidak ada!

Ia memberi contoh, kelompok masyarakat yang terbuka, tidak tertutup ( berjilbab) akan mudah melakukan perjumpaan dengan banyak orang yang akan membuka wawasan dan pemikiran luas dan kritis. Perjumpaan membuat orang belajar dan mampu membuat perubahan. 

Kita beragama tapi tidak bermanfaat bagi alam semesta jika kita tertutup. Beragamalah secara kritis.

Memilih Pembenaran

Begitu pusat Islam dunia, Arab Saudi melepas jilbab, apakah mayoritas Islam di Indonesia akan melakukan hal yang sama ? Kita lihat. Bisa jadi mereka akan mempertahankan kebenaran sendiri. Namun sebetulnya, jika anda aktif di facebook atau Instagram, beberapa pemikir dan pelaku perempuan Islam modern di Indonesia, telah lama melepas jilbab dengan memamerkan pakaian tradisional Nusantara. 

Jumlahnya tidak banyak, namun mampu mempengaruhi wanita lain untuk bebas merdeka dan tentu saja lebih sehat. Namun soal jilbab itu sendiri, tentu tergantung dari komunitas Islam itu sendiri. 

Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pembangkit Sastra Islam Kejawen

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.