Eucalyptus?

Boleh percaya boleh enggak. Gue kalau memeluk dan mencium kedua anak gue, baik yang laki-laki atau yang perempuan, kok gue merasa harumnya masih sama dengan harum ketika mereka masih kecil. Harum khas yang seperti gak mau hilang.

Waktu anak yang paling gede kuliah di Bali dan ngabarin sakit, gue nyusulin ke kosnya. Entah kenapa waktu ketemu dia seneng banget. Mungkin kangen. Sehingga separuh dari sakitnya seperti mendadak sembuh.

Lalu dia manja minta dimandiin, ya gue mandiin, handukan, dan saat tiduran gue urut-urut badannya, itulah pertama kali gue mendapat pengalaman mencium aroma tubuh khas anak gue.

Entah kenapa, sampai hari ini, sudah sebesar itu, gue kok masih mencium aroma yang sama pada tubuh mereka. Juga pada anak perempuan gue.

Apa salah satu dari 12 saraf kranial yang berhubungan langsung dengan otak gue ada yang korslet. Atau semua itu cuma halusinasi akibat gue total mengurus dan.menyayangi mereka sejak kecil. Mulai dari mandiin, nyebokin, ganti popok, gendong ke sana kemari dan sebagainya. Gue gak tahu.

Dari literatur yang pernah gue baca, indera penciuman manusia ternyata dapat memicu ingatan serta mempengaruhi suasana hati dan perilaku kita.

Hubungan antara indera penciuman dan emosi katanya terhubung langsung ke struktur otak dari sistem limbik.

Bau dapat memicu emosi positif atau negatif karena aroma bisa menembus waktu dengan ingatan tertentu. Bahkan ekspresi emosional orang lain saja dapat memengaruhi indera penciuman kita.

Tapi pikiran aneh-aneh soal aroma anak gue yang gak berubah itu sudah lama gue tepis jauh-jauh. Enggak pernah gue bahas sama orang lain. Kagak penting juga. Entar gue dibilang gila pula.

Eh ndilalah pertanyaan aneh lama itu tiba-tiba menyeruak lagi ketika kemarin tulisan Kang Emil lewat di beranda gue setelah jasad anaknya diketemukan.

Pada paragraf ketiga tulisannya dia menulis begini:

“… saya bersaksi, jasad Eril wangi seperti wangi daun eucalyptus.”

Pertanyaan gue selama ini akhirnya terjawab sudah. Hidung gue (juga hidung banyak para orangtua barangkali) gak salah. Penelitian para ahli gak salah. Hidung Kang Emil gak salah. Dia baru saja mencium aroma anaknya yang memicu emosi positif lalu berkait dengan ingatan panjang perjalanan membesarkan anaknya. Lalu aroma eucalyptus itu pun secara emosional menyeruak memenuhi rongga pikirannya.

Gue sih menangkapnya begitu.

Eucalyptus adalah tanaman asli Australia, Tasmania, dan pulau-pulau terdekatnya yang di negeri kita daunnya diolah menjadi minyak kayu putih.

Cuma yang gue sangat sayangkan kok ya Kang Emil gak menyimpan pengalaman personal spiritual itu buat diri pribadinya saja. Tapi malah dibagikan kepada khalayak ramai yang bisa menimbulkan rasa penasaran dan persepsi macam-macam. Khususnya persepsi mistis yang melekat erat dalam budaya Indonesia walau katanya relijius.

Begitu juga rasa bahagia Kang Emil yang mengabarkan bahwa walau sudah lewat 14 hari, jasad anaknya masih utuh lengkap tidak kurang satu apapun, wajahnya rapih menengok ke kanan. Masya Allah, serunya di tulisan.

Dan gue kok yakin Kang Emil pasti sudah mengabadikan jasad anaknya untuk kenang-kenangan sebagaimana yang dia gambarkan.

Cuma yang agak mengkhawatirkan, bagaimana kalau foto jasad anaknya bocor ke khalayak? Atau malah sengaja dishare ke media? Buat gue, seganteng apapun di mata bapaknya, sangat gak etis dan gak patut.

Jika Kang Emil melakukan hal itu, maka kisah “tubuh wangi dan jasad utuh” itu bakal jadi konsumsi empuk media dan akan diekspos habis-habisan, lengkap dengan berbagai cerita mistis yang selalu tayang tiap malam Jumat.

Belum apa-apa aja, demi konten, seorang ustad mansos sudah ambil bagian koar koar bahwa dia sudah berdialog dengan korban dalam mimpinya. Juga seorang Youtuber Indonesia yang tinggal di Swiss lewat kontennya merasa sukses dengan tebakannya di mana jasad Eril akan ditemukan.

Saat ini, di era medsos, kita memang makin sulit memahami perilaku seseorang. Sama sulitnya gue memahami bagaimana orang demi konten bisa nekad menghadang bis atau truk dengan resiko yang pasti dia sudah tahu, tergilas dan mati.

Ah, semoga Kang Emil dan keluarga gak berlaku sembrono sampai mempublish foto jasad anaknya. Cukup untuk dokumentasi top secret keluarga saja. Cukuplah sampai di aroma eucalyptus saja yang aroma ulasan ngelindurnya mulai merebak ke mana-mana.

Ramadhan Syukur

Foto: Pohon Eucalyptus yang nama minyaknya serasa lebih keren ketimbang menggunakan nama minyak kayu putih.

About Ramadhan Syukur

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah HotGame, dan K-Pop Tac, Penulis Skenario, Pelukis dan menekuni tanaman