Awan

Menurut pelajaran sekolah dulu, awan adalah sekumpulan uap air. Uap air itu ‘besekongkol’ di tempat bersuhu dingin. Mereka ‘ngerumpi’ nanti suatu saat jika waktunya tepat, mereka akan turun bersama-sama. Itulah yang di sebut hujan. Bisa menjadi berkah, tapi bisa juga menjadi musibah bagi yang tak bisa mengelolanya.

Sebelum menjadi awan, uap-aup air itu melakukan perjalanan panjang. Uap air yang sebetulnya berbentuk kris-kristal kecil itu terbang terbawa angin. Berkumpul di suhu yg dingin. Bergabung dengan ‘teman-temannya’ sesama uap air.

Jika hari cerah, butir-butir uap air itu memantul dan berwarna sangat indah menyerupai gumpalan kapas. Gumpalan menyerupai kapas itu nampak semakin indah jika latar belakang langit berwarna biru cerah. Apalagi jika senja, pantulan sinar matahari yang berwarna jingga akan nampak sangat dramatis pada ‘sekelompok air’ itu.

Uap air yang berasal dari laut yang rasanya asin, setelah menjadi air hujan kok, menjadi tawar, seperti ada ‘alat’ yang menyulap uap air laut yg asin itu menjadi tawar? Wah, jangankan kita, para ilmuwan aja bingung.

Apa perbedaan dan persamaan antara awan dgn kabut?

Dalam hal air, sebetulnya sama. Uap air mengelompok bersama sama pada suhu udara dingin. Awan, jauh dari tanah, sementara kabut, yang juga uap air, bergerombol di udara dingin di atas permukaan tanah. Awan lebih ringan, sebingga lebih mudah terbawa angin. Kabut lebih berat. Dari kejauhan, misalnya dari kaki gunung, kita sering melihat awan yang menutupi gunung. Nah jika kita berada di ketinggian di mana kita melihat itu seperti awan, maka kita akan menyebutnya kabut.

Suatu sore, pernah aku berbincang sambil lalu dengan mendiang JS di depan rumah masing-masing. Sesekali kami terpesona oleh gumpalan awan yang berarak indah, berbentuk seperti sirip ikan. JS bahkan berlari-lari ke dalam rumahnya mengambil kamera.

Dia lalu mengabadikan keindahan itu. “Tidak setiap hari, kita menyaksikan bentuk awan yang menakjubkan ini !”

“Yak,…kataku. Dan bentuk awan itu berbeda setiap saat!”.
Orang Swis selalu membanggakan bahwa pegunungan Alpen di negrinya, selalu menyuguhkan pemandangan berbeda setiap hari! Betul, karena lelehan es di puncaknya tak pernah sama setiap hari. Apalagi bentuk lelehan itu tertimpa sinar matahari. Berubah setiap saat. Dari subuh, ketika sang matahari baru terbit, siang hari, sore, bahkan menjelang tenggelam yang dalam bahasa Inggris disebut ‘afterglow’ masih juga menyuguhkan ‘keindahan terakhir hari itu’.

“Eh, jika tetangga melihat kita ngobrol sambil mendongak-dongak memperhatikan awan,…pasti mereka akan nyeletuk,…itu orang berdua kayak kurang kerjaan…?!”

Di negri katulistiwa yang cuma beriklim dua musim seperti negri kita, keindahan bentuk-bentuk dan pantulan mentari senja pada awan, hanya salah-satu dari banyak sekali keindahan yg sebetulnya tak jauh dari tempat tinggal kita. Tak jauh-jauh dari rumah.

Suatu kali, ketika ‘masih diperbolehkan’ memancing (sekarang ibu mertua sdh kuatir, jika suaminya mengendarai sepedamotor untuk jarak lumayan jauh), mertuaku bergegas mengeluarkan sepeda motor untuk memancing. Bapak mertuaku begitu bergegas, seperti teringat sesuatu. Rupanya dia melihat awan berbentuk seperti sisik ikan. Konon itu pertanda baik bagi pemancing. Aku juga pernah mendengar-wah apa istilahnya ya?: dongeng (?),…’amsal’ (?) seperti itu. Jika awan berbentuk seperti itu, berarti kabar baik bagi pencari ikan. Tapi setauku, ‘amsal’ itu ‘berlaku’ hanya bagi nalayan atau bagi pencari ikan di laut. Tapi,…di sungai?,…di danau?. Begitu pun aku ikuti saja membonceng di sepedamotor bapak mertua.

Lokasi kami memancing kali ini tak telalu jauh. Sekitar 5 km dari rumah mertua ada lahan milik perusahaan minyak negara. Untuk rekreasi sekadar pengilang jenuh para karyawan dan warga sekitar, dibuatlah empang pemancingan. Empang itu, mungkin awalnya adalah danau kecil yang di sekitarnya di tumbuhi pohon-pohon rindang. Lumayan untuk terkantuk-kantuk dibuai semilir di bawah pepohonan.

Sampai dilokasi, kami terkejut. Danau itu kering!. Rupanya, warga ‘tak sabar’ memperoleh ikan lambat-lambat dgn cara dipancing. Danau itu pada bbrp sisi di mana lahannya agak melandai diberi pintu air. Naah, pintu air itu lalu…dijebol oleh warga. Maka pada menggeleparlah ikan-ikan seisi danau. Dengan mudah para warga berpesta.

Lalu kami pun pulang. Sempat kudengar bapak mertuaku menggerutu. “Dasar gemblung! Hla, tempat rekreasi, gratis, untuk sekedar menikmati semilir angin di bawah pepohonan sambil memancing, kok dibuat mencari nafkah? Bukannya dirawat baik-baik,…malah dirusak?!”…

Sampai sekarang danau itu kering, gersang, panas bedengkang. Jika hujan datang, paling-paling,hanya ditumbuhi ilalang…

(Aries Tanjung)

Mural