Awas, Perangkap Asmara!

Sekali dua curhat itu hal biasa. Ketika curhat itu jadi keseringan, apalagi yang dibahas masalah keluarga, hal itu harus diwaspadai agar kita tidak terperangkap ke dalam jerat asmara.

Jangan anggap sepele atau hal yang wajar, karena masalah keluarga itu sensitif dan membuka aib sendiri. Ketika kita peduli, berempati, dan jatuh kasihan padanya, semoga kita cepat sadar diri agar tidak salah langkah.

Bukan hal yang mudah bagi kita untuk mengendalikan perasaan itu. Melainkan, semakin sering bertemu dan kesempatan untuk berduaan itu mampu menumbuhkan benih cinta. Witing tresno jalaran soko kulino. Hal ini jelas makin perkeruh keadaan dan persulit diri sendiri!

Bagaimana persoalan tidak makin keruh, karena kita bisa dicap sebagai orang ketiga, biang kerok kehancuran keluarga, dan sebagainya.

Jangan karena ingin jadi pahlawan kesiangan atau sekadar iseng, kita bermain asmara hingga kecanduan, mabuk kepayang, dan lupa diri.

Kita mau mengelak atau membela diri juga sulit, bahkan percuma dan tidak ada gunanya.

Sama halnya, kita juga sulit untuk menjelaskan hal yang sebenarnya pada pasangan, anak, dan keluarga besar sendiri. Lalu, mau ditaruh di mana wajah ini? Mau dibuang ke mana pula aib itu?

Semestinya, sejak awal kita harus berjaga-jaga dan waspada. Ketika lawan jenis kita sering curhat masalah keluarga, itu tidak perlu ditanggapi. Bukan karena tak peduli, melainkan untuk menjaga perasaan pasangan kita atau pasangannya.

Sekiranya mau membantu untuk menyelesaikan masalah keluarga itu, lebih baik pasangan itu kita pertemukan agar bersikap jujur dan terbuka. Kenyataannya, hal ini juga sulit, karena bisa muncul salah paham. Kita dituduh ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Padahal kita juga tidak mempunyai kapabilitas untuk menyelesaikan masalah itu.

Alangkah bijak, jika kita sekadar urun saran. Bisa juga kita mengajak pihak ketiga, atau minta pasangan itu pergi ke konseling pernikahan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis keluarga itu.

Semoga kita tidak memancing ikan di air keruh agar wajah kita tidak terpecik air kotor sendiri. (Mas Redjo)

Hidup Jujur dan Bahagia, atau Curang tapi Menderita

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang