Dilahirkan Untuk Bahagia

Dalam suatu bincang santai, saya pernah ditanya oleh seorang teman.

“Apa sebabnya orang hidup menderita?”

“Orang itu lemah iman. Makin lemah atau tidak beriman, orang itu hidup kian menderita, karena menjauh dari Allah yang Sumber Hidup,” jawab saya santai.

Teman itu membelalakkan mata, ingin mendebat, tapi urung.

Saya lalu mengambil analogi hidup manusia yang lahir dan mati dalam ketelanjangannya, tidak membawa apapun. Penderitaan itu bersumber dari pikiran sendiri, tapi orang yang selalu mensyukuri hidup sebagai anugerah Allah, hidupnya dilimpahi sukacita. Dan Allah sumber hidup bahagia.

Saya ingat pada Ibu SK dengan anak gadisnya yang berkebutuhan khusus. Ibu itu tidak mengeluh atau sambat. Alasannya, urip kuwi mung sak derma nglampahi hidup itu hanya sekadar menjalani, apapun peran kita.

Saya salut sesalutnya dengan Ibu SK yang tabah dan pasrah. Ia tidak menyalahkan keadaan, tapi terus berusaha dan berjuang agar anak gadisnya mandiri. Ia memasukkan anaknya kursus menjahit supaya kelak tidak merepotkan orang lain.

Begitu pula dengan Ibu DW yang ngopeni suami, karena terserang stroke sejak 7 tahun yang lalu. Ia lalu mengambil alih tugas suami untuk mengais rejeki. Ia berjualan kue basah untuk menyambung hidup keluarga.

“Hidup ini berat, tapi makin berat jika dibebani oleh pikiran sendiri,” kata Ibu DW. Alasannya, pasrah tanpa usaha itu sia-sia dan tidak
mengubah nasib.

Menurut Ibu DW, hidup itu anugerah yang harus disyukuri. Ketika hidup ini dirasa berat dan makin sulit, kita diajak untuk makin mendekatkan diri pada Allah agar hati ini diteguhkan, beban hidup diringankan, dan kesulitan itu diatasi. Semakin dekat relasi kita dengan Allah, hidup adalah saluran berkat-Nya. Karena hidup itu untuk memberi.

Saya bersyukur bertemu dengan Ibu-ibu perkasa itu, yang mengajari saya makna dan arti perjuangan hidup yang sesungguhnya. Bahwa nasib itu ditentukan oleh kita sendiri untuk mengubahnya, dan atas seizin Allah.

Rahasia hidup bahagia itu sederhana, yakni kita diajak berani membuka hati untuk makin dekat pada Yang Ilahi.

“Aku ini hamba Allah, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Foto : Daniel Reche/Pixabay

Berbahagialah Selagi Bisa

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang