Bakat Alam, Intelektualitas, Kepribadian

Seide.id – Adalah sangat ideal bila perjalanan karier seorang pengarang melalui tiga fase pada judul di atas. Sebuah negeri seperti Indonesia yang memperoleh kemerdekaannya melalui aksi revolusi, bakat alam berlenggang sendiri cukup lama. Yang menonjol dari faktor-faktor penyebabnya adalah pendidikan formal yang tersendat-sendat. Di samping itu tidak adanya perpustakaan umum dan perpustakaan khusus (sekolah dan universitas) sangat menyulitkan bakat-bakat alam untuk berkembang sendiri. Hal inilah yang menyebabkan banyak pengarang Indonesia lari ke kota-kota besar.

Tetapi pertumbuhan bakat alam tanpa perpustakaan maupun pendidikan formal ada baiknya juga walaupun mengalami resiko kerugian waktu (usia). Baiknya adalah si bakat alam dapat mengasah kesadarannya sendiri. Secara orisinal si bakat alam menemukan bahwa hubungannya dengan misteri dan resiko timbulnya beban ketegangan, baik yang membikin ia menderita sehingga ia jadi pesimis, maupun beban ketegangan yang membikin ia betul-betul sadar bahwa hidup ini adalah ‘kerja’, ‘berjuang’, dengan cintakasih terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain, ketegangan yang membikin hidup ini penuh dengan rahmat keindahan, penuh optimisme.

Tetapi bakat alam terputus dari kesadaran sejarah. Ia berada dalam sebuah persemaian keindahan tetapi jauh dari pergumulan sejarah. Hanya dengan pendidikan formal maupun informal yang serius kita dapat memperoleh informasi mengenai refleksi-refleksi historis. Saya ulangi lagi, ketika aksi-aksi absolute Barat tiba di depan mata kita, kita belum banyak melihat dan membanding-banding, kita belum sempat memilih mana refleksi Barat yang patut diambil, dimodifikasi, diimprovisasi sesuai dengan kepribadian kita, demi untuk menentang aksi-aksi absolut Barat itu sendiri.

Kesadaran sejarah hanya bisa timbul oleh adanya pertumbuhan intelektualitas yang etis. Dalam diri manusia, seperti telah diketahui ada fenomena spiritual yang disebut intelek. Konon intelek itu berada di otak. Otak dan intelek dihubungkan oleh keyakinan adanya lagi sebuah fenomena yang disebut intuisi. Apa semua ini? Tidak tahu. Pertanyaan ini serupa dengan pertanyaan apa itu proton dan electron. Tidak tahu. Makin disorot, orang akan sampai kepada semacam puisi. Semacam pesona. Dan pesona itu adalah suatu aksi dari kesadaran kita. Aksi-aksi absolute dalam sejarah, ironisnya menimbulkan semacam pesona puitis yang lebih dari suatu goncangan psikologis.

Sastra ide selalu harus mempertahankan kesadaran intuitif di mana proses intelek bertumpu. Memang proses intelektif memiliki beberapa tingkat aksentuasi atau penampilan. Misalnya sebuah surat biasa harus melalui konsep, tetapi sebuah konsep surat biasa bukan sajak, cerpen, novel atau esei, melainkan semacam ‘kentut’ dari kekuatan intelektif. Karya-karya seni, termasuk Sastra Ide, selain memiliki kekuatan intelektif yang dalam, harus pula memiliki imajinasi dengan segala kondisi eksistensialnya, deep feeling, nurani kemanusiaan dan kaitannya yang utuh dengan naluri-naluri yang dijinakkan selain oleh intelek, imajinasi dan perasaan serta nurani yang dalam, dan juga oleh tubuh yang tahan banting (olahraga).

Jadi, seorang pengarang yang tidak berurusan dengan kelimpahan kondisi eksistensial manusia, mudah ‘dikentuti’ oleh indoktrinasi dan daya-daya absolut lainnya, misalnya uang, perempuan, korupsi, dan posisi empuk dalam institusi yang penuh dengan ‘kentut-kentut’.

Secara singkat saya akan menyimpukan bahwa, kalau saya berbicara tentang kesadaran, terutama kesadaran historis, saya berbicara tentang kesadaran moral (consciousness) yang memasuki kesadaran konkrit (awareness) yang selalu menyorot mekanisme dunia.

Sastra Ide hendaknya bukan saja berbicara tentang kesadaran moral yang universal itu, tetapi sangat diharapkan berbicara tentang kesadaran moral yang mendarah-daging. Ia harus memasuki kesadaran kongkrit, misalnya menyorot seorang polisi lalulintas yang mengadakan aksi-aksi ‘prit gocap’, centeng bergaji 1, 5 juta rupiah yang memandang tuannya belanja puluhan juta sehari, pelacur muda usia Indramayu di lokalisasi PSK, anggota partai yang membelikan tas dan jam tangan puluhan juta pada perempuan cantik, Direktur Bank yang main pat gulipat dengan kredit investasi kecil maupun KMKP, capital flight, over value, kapling kekuasaan dan kekayaan, dan seterusnya. Semua disorot oleh kesadaran, atau semua yang berada di depan kesadaran itu membikin kesadaran bekerja keras. Dan beban kesadaran kita sangat besar ketika melihat pembunuhan-pembunuhan absolut, dalam sejarah negeri kita.

Sastra Ide kita terbuka untuk refleksi-refleksi Barat yang etis-moderat, demi untuk melawan aksi-aksi Barat yang absolut. Sastra Ide kita adalah sebuah republik bagi kesadaran menghadapi dunia yang melahirkan beban bagi kesadaran kita. Beban kita sungguh berat, tetapi adalah tugas moral kita untuk meringankan beban itu.

Orang sering berbicara tentang akal sehat sebagai bentuk kesadaran untuk menghadapi dunia yang penuh dengan kontradiksi ini. Akal yang sehat adalah akal yang menghadapi kontradiksi antara logika rasional dan logika hatinurani. Aksi-aksi absolute tidak berurusan dengan logika hatinurani tetapi dengan logika rasional. Kita harus sadar bahwa kita, selain dibatasi oleh kefanaan kita, juga oleh hatinurani kita. Inilah keterangan yang kreatif, inilah kepribadian kita. Inilah yang tersisa untuk kita.


Oleh: Gerson Poyk

Perempuan itu Bernama Dada

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis