Bedanya Orang Kaya dan Orang Tidak Kaya

Bedanya Orang Kaya dan Oang Tidak Kaya

 penulis MAS SOEGENG foto DAILY MAIL

Di kampung Kemlayan, Solo dulu ada teman, panggilannya Dul Gaplek. Nama aslinya Abdulrohman Saiji. Karena suka judi kartu domino, ia dipanggil Dul Gaple, lama-lama jadi Dul Gaplek. Tak penting mengapa namanya bisa berubah. Tapi lebih penting cerita berikut ini.

Tiga tahun tak bertemu, Dul Gaplek yang biasa pakai sendal jepit dan kaos oblong, ketika ketemu di Jakarta, sekarang tampil necis, klimis dan mbois. Ia mengajak ketemuan di Aeon Mall, BSD untuk membicarakan bisnis.

Ia datang seperti itu: necis, klimis dan mbois. Pakaiannya rapi, pakai dasi, rambuatnya klimis seperti John Travolta dalam film Greese. Seribu lalat hinggap di rambutnya, ditanggung berjatuhan saking licinnya. Dan, ia datang naik  mobil Volkswagen Tiguan Allspace yang harganya di pasaran hari ini Rp 656,000,000. Tunai. 

Saya senang, teman sudah maju. Tapi, tiba-tiba saya berpikir. Bisnis apa ia dalam tiga tahun seberhasil begitu.  Tiga tahun bisnis saya saja masih seperti ombak naik turun.

Rahasia Sebuah Kertas yang Membuat Greysia Polli Memperoleh Medali Emas Olimpiade

“ Ini semua berkat trading forex pakai Robot,” ujanya membeberkan bisnisnya. “ Kalau mau, nanti saya ajari. Kalau perlu modal sebagian dari saya. Ini, saya mulai dari Rp 30 juta saja dari jual sawah bapak. Dengan robot, cuan per hari 2% dipotong beaya robot 10%, kita masih cuan banyak. Ditinggal tidur saja uang mengalir terus,” ujarnya sembari tersenyum, sambil mengunyah berbagai makanan di depannya.

Kami berpisah setelah mengobrol 2 jam,dan setelah saya bayar pakai Credit Card di Gyu Kaku Japanese BBQ di Lantai Ground Aen Mall. Sembari pulang, saya memikirkan robot forex yanag dikatakan Dullah Gaplek alias Abdulrohman Saiji. 

Bisnis Lorong Waktu

Sejak hadirnya kegiatan ekonomi dengan berbagai metode, juga menciptakan perilaku manusia. Di situlah kita, sebagai orang hidup, dinilai oleh orang lain seperti apa karakter atau posisi kita di dalam hal status ekonomi kita di masyarakat. Apakah kita ini termasuk orang kaya atau orang yang sok kaya atau pura-pura kaya.

Saat ini banyak orang seperti Dul Gaplek yang dengan santai memamerkan kekayaannya di media publik secara terbuka seperti di medsos ini. Pakai pakaian bagus, piknik ke luar negeri atau berdiri di sebelah mobil bagus yang pasti setiap orang yang melihatnya akan memiliki keinginan memiliki yang sama. 

Daya pikat kekayaan lebih mudah menular dibanding daya pesona kebaikan. 

Lukisan Van Gogh Perlu 139 Tahun Terjual 500 Miliar, NFT Pak 6 Bulan Terjual 1 Triliun

Berbagai bisnis seperti MLM ( Multi Level Marketing),  forex ( foreign exchanging), cryptocurrency, NFT, memang telah menciptakan orang-orang kaya baru. Di cryptocurrency, misalnya, orang yang 5 atau 10 tahun lalu memiliki 10 keping Bitcoin saja, pasti sudah jadi Sultan dan berhak berfoto di sebelah mobil mewah merk apapun. 

Sebagian lain, memperoleh kekayaan dari YouTube melalui unggahan apa saja, termasuk pamer kekayaan keluarga. Modalnya follower banyak.

Orang yang sekarang ini masih sibuk menjalani bisnis MLM, akan keluar masuk restaurant mewan. Orang yang bisnis forex, bisa keluar masuk mall, memborong barang-brang yang diinginkan. Mereka adalah orang-orang yang bisnisnya bagai lorong waktu. Waktu jua yagn akan membuktikan apakah mereka akan tetap dalam kegelapan atau keluar dengan sinar matahari yang cerah. 

Investasi Jangka Panjang

Tetapi, sesungguhnya, tidak semudah itu dalam waktu cepat berhasil menjadi orang kaya. 

Orang-orang kaya yang saya kenal, adalah orang-orang yang bisnisnya saham dan sebagian cryptocurrency, seperti Bitcoin dan Ethereum atau Yearn Finance. Itupun bukan dengan cara trading, melainkan long investment. Investasi jangka panjang. 

Mereka membeli saham atau koin kripto di saat IPO ( Initial Public Offering). Yakni penjualan saham atau koin perdana, sebelum masuk bursa atau perdagangan umum. Dengan cara inilah orang bisa memupuk kekayaannya lebih cepat, karena mereka membeli harga terendah dan menjual dengan harga setinggi-tingginya.

Prof.  Rhenald Kazalhi PhD menyebut orang-orang yang saat ini gemar pamer kekayaan dengan sebutan flexing ( pamer kekayaan semu ) adalah untuk menarik perhatian dan mempengaruhi orang lain. 

Di dunia kripto, kami biasa menyebut influencer. Yakni orang-orang yang sengaja menyebarkan berita untuk membuat orang terpengaruh dengan komentar atau kata-katanya. 

Baik flexing atau influencer itu dalam dunia bisnis tugasnya mempengaruhi orang lain untuk mengikuti cara dia. Kekayaan itu membutakan sehingga apa yang mereka pamerkan, dan ketika diikuti, menjerumuskan mereka ke dalam lumpur ekonomi yang dalam; jatuh miskin dan banyak hutang. 

Sebab hasil dari flexing atau influencer itu menjebak orang masuk dalam bisnis tipu-tipuan. Mereka melakukan flexing atau influencer itu karena dibayar oleh bandar yang memainkan kendali pikiran di belakang layar. Baik bandar ekonomi maupun politik.

Beda Kaya dan Tampak Kaya

Ada perbedaan mencolok antara orang kaya beneran dan orang pura-pura kaya.

Orang kaya seperti Bill Gates, Hartono Djarum, Elon Musk, jack Ma, Warren Buffet, Mark Zuckerberg adalah orang yang cuek soal penampilan dan tak peduli apa kata orang lain terhadap dirinya. 

Mereka tak pernah mikirin itu semua. Sementara orang. pura-pura kaya lebih sensitif terhadap penampilan dan omongan orang lain. Kalau ada yang bilang mobil yang dipakai disebut mobil sejuta umat, dia akan segera ganti dengan yang lebih wah. Mark Zuckerberg itu kemana-mana pakai mobil sedan usang milik ayahnya dan sering jalan kaki memakai kaos dan sendal dengan isterinya.

Orang kaya palsu atau pura-pura lebih membutuhkan status kekayaannya, sementara orang kaya beneran, selalu rendah hati jika disebut orang kaya. Mereka suka-suka makan di pinggir jalan, naik kereta ataun pakai pakaian seadanya. Anak bos BCA pernah bilang ia harus selalu berhemat. Tidur saja, begitu sudah mengantuk, langsung mematikan AC.

Belanjapun Berbeda

Yang lebih menonjol perbedaan adalah dalam hal belanja. Orang kaya baru atau flexing itu belinya barang-barang yang masuk dalam konsumerisme. Beli tas mewah, mobil bagus, cincin emas berlian, sepatu bernilai ratusan juta dan barang bermerk mahal semua. Kesan wah ingin ditimbulkan.

Sementara orang kaya beneran mengeluarkan uangnya untuk beli saham, kripto, forex, properti dan investasi yang menggandakan modalnya, dan memberikan uangnya untuk kemanusiaan. 

Dalam pergaulan, orang-orang sok kaya atau sedang kaya, biasanya suka mengobrol di cafe, hangout, lalu foto bersama di depan makanan yang beraenkaragam, pesiar bersama komunitas orang kaya sejenis dan foto bersama, sementara orang-orang kaya menghabiskan waktu untuk hal-hal produktif seperti membaca, diskusi, mencari informasi instrumen investasi atau santai di tempat sepi dengan celana pendek. 

Yang tak bisa ditiru oleh orang-orang kaya palsu atau pura-pura kaya, mereka ini jarang membantu atau memberikan uagnnya kepada orang lain. Apalagi memamerkan kebaikan perilakunya….

OPINI

Lukisan Van Gogh Perlu 139 Tahun Terjual 500 Miliar, NFT Pak 6 Bulan Terjual 1 Triliun

Memahami Bank dan Dunia Kripto Sebelum Masuk Uang Digital

Thomas Cup Tanpa Merah Putih Itu Menyakitkan

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.