Belajar dari Ketakutan dan Ancaman Perang, Menulis Kehidupan -79

Dalam kesunyian malam, ketika memikirkan aneka persoalan yang mengancam kehidupan pribadi dan manusia, apalagi adanya perang yang mengancam dengan kecanggihan senjata, yang bisa menghabiskan manusia dan alam ini, kutuliskan sajak: Disini Senyap – Disana Membara

Hujan baru saja redah
Hampir seharian awan penjarakan mentari
Wajah senja tak berseri
Malam ini sunyi sepi
gulita malam menawan nurani
disini senyap sepi mencekam
Ada tanya menikam jiwa

Sejumlah daerah bencana melanda
longsor banjir gempa
juga hujan es menimpah
Sengat pandemi corona
masih sebarkan derita
Ketakutan sakit dukalara
Dan
yang lebih ganas mengancam manusia
iri dengki dendam membara
menyebar lewat kata dan gambar aneka media
Pertikaian permusuhan dikobarkan
hasutan tipu muslihat digencarkan
Ancaman caci maki diwartakan
Bahkan atas nama Tuhan
dan keyakinan yang dimutlakkan
Disana membara
perang antar negara
dan bisa jadi perang dunia

Disini senyap
Sunyi sepi mencekam
derita lara gulita diam
Disana membara
senjata gencar menghujam
korban harta dan nyawa
perebutkan kepentingan
memproklamirkan kesombongan

Adakah kesejahteraan dan kedamaian
dirayakan dan dinikmati insan
para korban perang dan gelimpangan jenazah?
Adakah kejayaan dan harkat martabat manusia akan tumbuh berkibar di atas banjir darah dan puing-puing?

Disini senyap
dalam gulita malam
Disana membara
dengan perang dan nyala angkara murka
Apakah harmoni damai akan terlahir dari senjata dan kesombongan diri?

(Simply da Flores
Harmony Intitute)