Seide. id – Emosi – perasaan perlu dilatih dan dikendalikan dengan pengetahuan, pembiasaan, kesadaran, nilai hati nurani, dan iman dalam jiwa. Namun, sering kali karena ketidaksempurnaan diri sebagai manusia, kita masih bisa kilaf dan salah. Bisa marah dan tidak mampu mengendalikan emosi, lalu berkata dan bertindak salah.
Ketika disadari, sering terlambat, lalu muncul penyesalan setelah terjadi akibat buruk. Maka, demi kehidupan selanjutnya, mohon maaf dan ampun menjadi salah satu jalan memperbaiki diri, serta menyambung relasi yang rusak dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta
Titik api yang kecil
Sekonyong berubah menyala
Membakar wajah dan sekujur tubuhku
Emosi membara
Nalarku hangus seketika
Hati nurani jadi debu
Sampah keluar dari mulutku
bahkan kecoa cacing tikus
juga racun bisa berbusa
asap hitam mengepul berhamburan tak tentu
Ketika bara api padam
puing-puing penyesalan menggeliat merintih
Onggokan arang rasa bersalah menumpuk
di antara debu asap yang amis bau tengik
merasuk pikiran dan nurani
Aku menyesal bersalah
tak kendalikan api emosi
tak kuasai bara amarah.
Maksud baik apa pun
Jika tak mampu pilih kata dan cara yang baik
Ternyata jadi percik api dan menyala berkobar
Niat luhur apa pun
tidak bisa jadi alasan kobarkan bara amarah
yang membakar diri dan menghanguskan orang lain
Kuteteskan air mata penyesalan
hanya membasahi arang dan debu
karena ada yang sudah terbakar dan hangus rusak.
Hanya api cinta persaudaraan
yang tidak menghanguskan
jiwa raga pribadi dan sesama
Hanya bara kasih sayang
yang membawa manfaat hidup
Semoga dari sana
ada maaf dan ampun
untuk kilaf dan salah
yang telah kulakukan
Pada puing arang dan
debu-debu penyesalan ku
Sujudku memohon kerelaan maaf sesama
dan berkah ampun dari
Sang Maha Rahim.






