Belajar Menikmati Keseruan dari Anak-Anak

Belajar Menikmati Keseruan dari Anak-Anak

Tak seharusnya anak-anak menjadi halangan untuk kita bahagia, atau disalahkan karena menjadi penyebab kita sedih atau marah. Anak-anak tak pernah bertanggungjawab atas apa perasaan orang tuanya. Kitalah yang bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri

‘Mami, si Jhon belum dikasi makan. Nti dia kabur lho!’

Saya pun bersegera bersama si bungsu sibuk menekuri ponsel lalu saling berkomentar tentang berapa stage yang perlu kami lewati dalam game Angry Bird 2.

Kok malah Our Time bersama anaknya main game, gadget time lagi? Masak bareng dong … jalan bareng hewan peliharaan gimana …

Silakan pembaca bebas berkomentar ya … karena (sungguh) saya juga BUKAN orang tua sempurna seperti digambarkan parenting influencer, hehe.

Label yang diberikan si bungsu kepada saya memang variatif dan kekinian. ‘Ibu-ibu ras terkuat’ saat kami nge-game bareng. Berbeda lagi ketika jalan beribu-ribu langkah di jogging track taman kota, ‘ah, kamu bukan ibuk-ibuk. Mereka ‘kan bo*ty-nya besar. Kamu lebih kayak laki’, lalu kami tergelak bersama. Atau ketika sedang main lempar tangkap atau kejar-kejaran bersama hewan peliharaan kami, si bungsu bilang dia jadi gorilla, anjing kami jadi hyena lumping, dan saya biasa ‘ngereog’ bersama mereka, meski nanti ada bekas cakaran kaki di tangan dan kaki.

Seru dan heboh. (Mungkin) orang juga melihat si bungsu kok tampak tak ‘respect’, suka ngasal dengan saya. Namun, masyarakat kita terbiasa melihat tampak luar saja. Dalam beberapa momen, kami malah bisa berbagi problematik orang dewasa. Seperti mengkritisi pemilik hewan yang meninggalkan hewan peliharaan ketika bepergian berbulan-bulan dan tak bertanggung jawab. 

Atau membicarakan mengapa saya berdua suami perlu sehat dan bugar karena kami ingin punya momen bepergian sana sini bersama keluarga lebih lama. Atau yang lebih sederhana, mengobrol tentang masa pra teen puberty dengan segala leluconnya, yang tetap serius dibahas ‘benernya tuh kayak apa’’

Keseruan ini saya temukan juga ketika beberapa waktu lalu acara Syawalan di kelas si bungsu. Beberapa orang tua tampak menyanyi karaoke dengan riang di ujung acara, bergantian dengan anak-anak. Semua seru, gembira, tanpa perlu malu-malu atau merasa sungkan. Saya pun menemukan tak ada anak yang merasa jengah melihat orang tua tampil seru dan gembira.

Kesadaran tentang keseruan sebagai orang tua, akhir-akhir ini menggedor benak. 

Mengapa? Memiliki si bungsu di usia saya yang bukan mamah muda lagi, sehingga age gap kami cukup lumayan; membuat saya ekstra untuk menyejajarkan diri dengan tumbuh kembang si bungsu. 

Termasuk tahu-tahunya, menemukan banyak hal kecil, tampak remeh, mungkin biasa di mata orang, tetapi istimewa bagi saya.

Memiliki sulung yang autistik, jumpalitan dalam proses asuh didiknya yang menguras peluh dan air mata, sempat ‘mendorong’ saya untuk menutup jauh-jauh dan merasa bersalah bila punya keinginan untuk seru-seruan. Ah prioritasnya untuk si sulung dulu, ah aku nggak bisa … ada si sulung yang membutuhkan banyak perhatian, dan seterusnya, dan seterusnya.

Sempat juga sebuah momen menyadarkan saya tentang ME TIME untuk orang tua anak berkebutuhan khusus sama krusialnya dengan penanganan dan upaya keras memfasilitasi mereka. Namun, seiring si bungsu bertumbuh, saya makin menyadarinya lagi. Ndilalah, saya kebetulan menemukan sebuah cerita di sebuah laman pengasuhan.

Berikut ringkasan dari terjemahan bebas saya.

Dalam perjalanan berkendara, seorang anak berusia 6 tahun, mengobrol dengan ibunya. Anak itu terus menerus menyatakan kesukaan ayahnya melakukan ini dan itu. Lalu, ibunya membenarkan bahwa Ayah memang banyak melakukan kesukaannya, dan menanyakan apa sebenarnya yang hendak disampaikan si kecil.

Sang anak lalu berujar bahwa dia melihat ibunya tak melakukan sesuatu yang seru untuk diri sendiri. Sibuk bekerja atau mengurusi rumah tangga, dan anak-anak. Tidak seperti ayahnya, sering melakukan keseruan bersama anak-anak.

Sang ibu membenarkan fakta itu, meski dalam hati merasa ‘aku sudah seru-seruan kok’. 

Dengan penasaran Ibu menanyakan kira-kira saran apa yang akan diberikan anaknya. ‘Bu, kamu perlu belajar bagaimana serunya bermain. Main adalah hal terbaik dalam hidup.’

Sang Ibu tersentuh dengan pernyataan itu, demikian juga saya yang membacanya. Apalagi menjadi pas dengan cerita tentang apa yang saya alami.

Lalu, saya sungguh bertanya dalam hati. Apakah sebagai ibu kita memang kehilangan keseruan untuk kesenangan diri? Sejak kapan? Apakah sejak bekerja dan membangun karir, atau sejak menikah?

Apa karena kesibukan dan tanggung jawab usai menjadi ibu, mulai hamil, melahirkan, perubahan fisik dan mental membuat kehilangan, atau menekan keinginan itu?

Apa karena ada perasaan tidak nyaman dan bersalah sebagai ibu bila masih melakukan kesenangan-kesenangan untuk kebahagiaan diri sendiri?

Padahal ahli parenting sendiri mengemukakan anak-anak juga perlu melihat bahwa ibunya bahagia. Ahli parenting lain Dr. Priscilla J S Selvaraj, malah menganjurkan hal yang utama sebagai orang tua untuk belajar, adalah tentang mengalami kegembiraan, menikmati keseruan dan tak segan mengekspresikannya, seperti anak-anak.

Dia mencontohkan untuk kita lebih menengok dunia anak-anak yang identik dengan keseruan atau kegembiraan, tanpa beban apapun. Priscilla menyarankan untuk ‘meniru anak-anak’ dan sesekali belajar menyisihkan waktu untuk kegiatan melepas penat, bonding, dan rekreasi bersama. Hal yang mudah dan biasa dilakukan anak-anak karena hidup mereka ‘untuk saat ini’ dan menikmati setiap detik sepanjang hari.

Dengan menunjukkan bahwa kita, ibunya mampu mengalami dan menikmati keseruan, termasuk tak segan mengekspresikannya baik secara personal maupun bersama suami dan anak-anak, tindakan itu akan melekat dalam memori anak-anak. Bahwa kita bukanlah  pribadi yang judes, bitter, yang tidak ‘fun’ menurut mereka. Umum sering dikatakan berbeda dibanding karakter kita di masa muda.

Seperti kata Alissa Dann, ahli parenting Australia “Tak seharusnya anak-anak menjadi halangan untuk kita bahagia, atau disalahkan karena menjadi penyebab kita sedih atau marah. Anak-anak tak pernah bertanggungjawab atas apa perasaan orang tuanya. Kitalah yang bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri.”

Jadi … siapkah pembaca merancang keseruan bersama anak-anak dan merasai kegembiraan yang diekspresikan mereka?

Lha Kowe Ki Sopo Jawaban Pintar Menyikapi Netizen Pintar Berkomentar

1,000 Orang Dipaksa Melakukan Penipuan Kripto. Dari Indonesia ada 143 Orang

Dompet Ledger Tidak Aman ?

Dompet Ledger Tidak Aman ?

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta