Belajar Merenungkan Hakikat Pengorbanan dan Kasih Sayang Sejati – Menulis Kehidupan-110

Melakukan kebaikan agar mendapat balasannya, biasa ditemui. Namun, melakukan kebaikan dan sayang demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain, sering butuh pengorbanan dan tidak gampang dijumpai.

Apalagi, melakukan kebaikan dan kasih sayang kepada orang yang berbuat jahat kepada diri kita. Sungguh sangat jarang dan tidak mudah dilakukan. Perlu pengorbanan istimewa dan kualitas spiritual tertentu, iman. Karena, harus melawan pikiran umum, perasaan, dan gengsi pribadi.

Ajaran pengorbanan dan kasih sayang demikian, saya renungkan dan tulis dalam dua sajak berikut: Samudera dan Debu di Golgota dan Purnama Jumad Agung

  1. Samudera dan Debu di Golgota

Tetes tetes darah-Mu
membasahi Yerusalem peradaban
Adam dan anak cucu debu
berbaris silih berganti menoreh sejarah insani
tinggalkan jejak tapak pada lembar tanah.

Dan,
pada salib di Golgota
darah-Mu menjelma jadi samudera
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
Lalu,
Mentari bulan bintang
Kau lumat hancur jadi debu
dan tabur dalam rahim perempuan
agar anak cucu Adam
berubah dari debu menjadi putra-putri cahaya
“Ibu, itulah anakmu
anak, itulah ibumu.”

Wahai Putra Surga
Engkau pemilik semesta cinta
pada samudera kerahiman
putra-putri kehidupan
berbasuh
Engkau Alfa dan Omega
daripada-Mu kami tak bisa lari berpaling
debu tanah milik-Mu
Sinar cahaya punya-Mu
udara dan angin dari-Mu
Air dan samudera milik-Mu
Dan,
pada jalan salib itu
setiap insani berguru
menulis dan membaca sabda
melukis jiwa dengan cinta
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa ragamu, kasihilah sesama-mu seperti dirimu sendiri.”

Pada salib itu
Engkau ajarkan manusia
anak cucu generasi Adam
untuk bisa membuat mukjizat
untuk sakti menguasai jagat
mengubah debu jadi cahaya matahari, bulan, bintang
menggenggam samudera dalam telapak
“Ampunilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya engkau.”

  1. Purnama Jumad Agung

Hari terik penuh luka
derita sengsara anak manusia
memikul beban siksa dosa
berarak menuju senja
bergelimang darah jadi samudera
pada hari Jumad Agung
kisah sengsara Yesus dikenang
Jutaan umat diam hening
ratapi salah dosa pribadi
yang mendera Kasih Ilahi
yang salibkan Cinta Sejati.

Gulita malam datang
ingin tetap kuasai manusia
Langit tumpahkan air mata
Purnama pun ikut menangis
membasuh luka lara derita
membawa pergi menuju samudera
Kerahiman kasih tak bertepi
membalut luka insani
Keagungan cinta Sang Ilahi
membasuh dosa generasi
“Inilah tubuhKu, yang Kuserahkan bagimu, ambillah dan makanlah. Inilah darah-Ku, ambil dan minumlah, darah perjanjian kekal yang ditumpahkan bagimu demi pengampunan dosa…”

Purnama Jumad Agung
menahan pesona cahaya
keagungan misteri Ilahi
Larut dalam duka lara
ikut menangisi derita sengsara
perjalanan salib kehidupan
yang mendera peradaban
Ketika
nurani jiwa gelap gulita
pikiran waras dirasuki napsu
lupakan hakekat kodrati insani
putra-putri pewaris cahaya
pembawa sorga di dunia.

Purnama Jumad Agung
membawa cahaya keagungan cinta
mentari kasih sempurna
Sang Maha Cahaya abadi
Yang halau gelap kematian
dengan darah Maha suci
Yang pasung maut dosa
dengan tubuh Maha Kudus
pada salib palang hina
Hadiahkan Jalan Kebenaran Hidup
bagi semua anak manusia.

Purnama Jumad Agung
akan tampil pesona indah
dalam gempita lagu halleluia
dalam pujian merdu Paskah
Kemenangan Jaya kebangkitan mulia
Sang Putra Surga
yang kalahkan maut
yang menebus dosa
yang membawa keselamatan kekal
yang membuka pintu sorga
Manusia jadi anak Allah
memeluk Allah sebagai Bapa
Allah Maha Cinta
Allah Maha Rahim
Allah Maha Sempurna
Allah Maha Misteri.