Tak ada lagi jurnalis yang intens mengamati musik tanahair dan akrab dengan semua mususi di Indonesia, begitu Mas Bens Leo dikabarkan meninggal pagi ini. Sejak awal, asisten Mas Bens Leo, Nini Sunny melalui twitter memohonkan doa para kerabat jurnalis bahwa Mas Bens sekeluaraga terkena covid19. Saat berada di RS Fatmawati Jakarta, rekan-rekan dekat mas Bens seperti Ati Ganda, Dion Momongan dan Nini Sunny selalu mengabarkan kondisi Mas Bens. Kemarin Dion Momongan mengabarkan, “ Mohon doanya, pagi ini kondisi Mas Bens drop”.
Pagi tadi pukul 06:00 rekan Dimas Supriyanto malah membuat tulisan khsus untuk meminta doa kesembuhan bagi Mas Bens Leo. Namun empat jam kemudian, tepatnya 08:24, Mas Besn Leo atau nama lengkapnya Benecditus Benny Hadi Utama, lahir di Pasuruan pada 8 Agustus 1952, pada usia 69 tahun, telah pergi untuk selamanya.
Menjadi Wartawan Musik
Menjadi wartawan adalah cita-cita Benny Hadi sejak muda. Terlebih ketika ia gagal tes di AKABRI, karena terlambat mendaftar di Curug. Apalagi Benny tak ingin memberatkan ibunya yang single parent jika ia meneruskan kuliah.
Maka, keinginan menjadi wartawan, khususnya wartawan musik semakin menggebu. Salah satu keinginan paling mendesak adalah menemui grup band kesukaannya, Koes Bersaudara di Jalan haji Nawi, Cipete, Jakarta Selatan.
Tonny Koeswoyo, dedengkot Koes Bersaudara, menyediakan waktu untuk ngobrol, mengingat zaman itu, jarang sekali penulis musik di tanahair. Saat ngobrol, Tonny tertarik untuk membina Benny. Ia minta wartawan penulis musik ini untuk datang lagi untuk diberi pemahaman mengenai jurnalistik musik dan pengetahuan soal musik tanah air.
Tercatat, tahun 1971 ketika tulisan profil Koes Bersaudara pertamakali muncul di koran Berita Yudha, Benny yang memakai nama samaran Bens Leo dan nama grup Koes Plus menjadi headline koran tanah air dan dikutip banyak media. Karir Bens Leo mulai moncer. Ia lalu menulis lagi grup-grup musik seperti The Mercy,s, Favourite Grup, dan grup musik serta penyanyi lainnya.
Tahun 2000, Bens diajak Maxi Gunawan untuk membuat. majalah musik, NewsMusik. Hanya bertahan 3 tahun. Bens merasa duduk di kantor bukan karakternya.
Pada tahun 2003 ia keluar dari NewMusik dan banyak menulis grup-grup musik serta musisi berbagai genre. Namanya malah kian meroket ketika ia banyak menulis di majalah musik Aktuil.
Ronin Dunia Musik
Bens Leo adalah seorang ronin di dunia musik. Ia tak perlu mencari kelompok. Justru kelompok itu yang mencari Bens. Terbukti, selain menjadi pengamat musik, Bens juga didapuk menjadi pencari bakat dan produser di dunia musik.
Album Cerita Cinta milik Kahitna, merupakan album pertama yang diproduseri Bens Leo. Sesudah itu ia banyak berkolaborasi dengan berbagai musisi. Baik sebagai mitra musik maupun konsultan.
Bens pula yang memberi kehidupan banyak aktivitas musik di tanah air. Nyaris semua musisi pernah bertemu dan dibantu Bens untuk menaikkan populariatas maupun kualiatasnya. Terakhir, Bens terlibat dalam penjurian musik keroncong yang diselenggarakan oelh Iyut Production. Beberapa acara musik di anah air baik di panggung mauun di teleavisi, banyak melibatkan tangan dingin Bens Leo. Ia bisa keliling daerah untuk urusan musik.
Tak seperti jurnalis kebanyakan, Bens hanya menulis musik. Sesekali ia menulis film, sebagai penghormatan karena ia juga aktif di dunia film. Bes masuk waratawan Sie Film dan Musik. Ia dibesarkan Aktuil, namun besar bersama Majalah Gadis. Tak mau ribet dengan urusan politik, Bens Leo dapat diterima semua pihak.
Kabarnya, sepulang dari keliling safari ke berbagai kota di Indonesia, serta di Papua, Bens Leo, isterinya dr. Pauline Endang dan putranya Addo Putera Gustaf terkena covid-19 . Beberapa hari, Bens dirawat di RS Fatmawati, namun tak tertolong. Bens Leo pergi meninggalkan dunia musik yang juga tak berkutik karena Pandemi.
Tak ada lagi jurnalis sekaligus pengamat musik dan sahabat yang santun, kalem, berjiwa piyayi, banyak membantu sahabat seperti Bens Leo ini yang akan menyertai kita hari-hari seterusnya.
Selamat Jalan Mas Bens Leo Bennedictus Benny Hadi Utomo.
Tuhan Memberkati
BACA JUGA:
Berbincang dengan Prem Singh, Saudara Kita dari Umat Sikh





