Bagi seniman berumur panjang, kita kerap mendengar istilah “Seniman Tiga Zaman”. Entah siapa yang kali pertama melontarkan istilah itu. Di kancah seniman dunia kita (paling tidak aku) tak pernah mendengar istilah “Three Era Artist” itu. Tapi, menurut dugaanku, istilah Seniman Tiga Zaman, itu aku rasa kita menerjemahkan atau paling tidak terinspirasi dari Lifetime Achievement.
Lifetime Achievement secara harafiah berarti Pengabdian Seumur Hidup.
Penghargaan itu ditujukan bagi seniman yang berusia panjang dan, dalam usia yang panjang itu, dia sudah (apa boleh buat, aku terpaksa menggunakan bahasa Inggris lagi nih) berkontribusi dan menghibur orang banyak seumur hidupnya. Kalau umurnya panjang doang, tapi tak berkontribusi bagi, boro-boro banyak, orang terdekat aja gak, yaaa gak layak disematkan Lifetime Achievement atuuuh.
Bob Tutupoly aku anggap layak diberi, baik gelar Seniman Tiga Zaman maupun Lifetime Achievement Award, untuk pengabdiannya kepada kesenian, khususnya dunia seni suara dan dunia pertunjukan, yang kita lebih sering mendengarnya dengan istilah dunia entertainment.
Tapi, aku bukan ingin bercerita berdasar data-data akurat atau informasi tentang sejarah hidupnya. Kalau tentang itu, dunsanak bisa mengintipnya di Mbah Google. Aku cuma ingin blanyongan berdasar ingatan, pengalaman mendengar lagu-lagunya dan cerita dari teman-teman saja.
Zaman pertama, mulai dari usia sangat belia pada 1960-an, penyanyi bernama asli Boby Willem Tutupoly berdarah Maluku kelahiran Surabaya ini sudah merintis karier mulai dari panggung kecil di tanah kelahirannya. Bergabung dengan Pattie Bersaudara pada sekitar 1965. Lalu, bergabung dengan band Bill “Louise Armstrong” Saragih.
Aku menyebutnya fase ini sebagai fase “Lidah Tak Bertulang”, sebuah lagu hit di awal kariernya.
…Memang lidah tak bertulang/ Tak berbekas kata-kata/ Tinggi gunung seribu janji/ Lain di bibir lain di hati...
Broery, penyanyi berdarah Maluku yang juga sudah almarhum dan melegenda, pernah bercerita nostalgia kepada teman wartawanku. Ketika Bob menyanyi di kampung halamannya, konon, Broery sampai mencuri-curi waktu sekolahnya, bahkan mencuri uang untuk membeli tiket menonton Bob Tutupoly menyanyi. Perjuangan Bob sebagai penyanyi di Tanah Air, aku anggap sebagai “zaman pertama”.
… Aku pergi tak kan lama/ Hanya satu hari saja/ Sribu tahun tak lama/ Hanya sekejap saja/ Kita kan berjumpa pula…
Zaman kedua, adalah ketika Bob merantau ke “kota dunia” New York, AS. Pada akhir 1970-an, ia dipercaya oleh Pertamina untuk mengelola restoran benama Ramayana di sana.
Di sana pulalah Bob mendapatkan jodohnya. Seorang wanita cantik. Rosmayasuti Nasution atau dipanggil Yosie. Seorang None Jakarte tahun 1972, yang setia menjadi teman hidupnya. Lhah, kok malah mengelola restoran.
Tentu saja untuk mendunia sebagai penyanyi di kota luar negri, di AS, di kota dunia itu, Bob harus menahan diri dan tahu diri untuk ujuk-ujuk menjadi penyanyi apalagi berharap menjadi terkenal di sana. Maka, dia memulai perantauannya, dipercaya oleh Pertamina sebagai pengelola restoran yang menyajikan masakan-masakan Indonesia di New York.
Perlahan-lahan, setelah bisa “mengatur napas dan irama hidup”, setelah dipercaya menjadi pimpinan untuk mengelola restoran, setelah restoran yang dikelolanya dianggap bisa survive, barulah Bob melangkah melanjutkan mimpinya, memenuhi panggilan yang selalu menggedor-gedor hati setiap seniman.
Lalu, dia membentuk band (aku lupa namanya, mungkin dunsanak ada yang ingat?), sebagai home band restoran itu. Aku tak ingat adakah band yang dibentuknya membawa nama Bob terkenal atau tidak sebagai penyanyi di sana, atau mendunia. Tapi, konon, Bob sempat dijuluki “Harry Belafonte dari Asia”. Harry Belafonte adalah penyanyi, penulis lagu, dan aktor terkenal dari AS berkebangsaan Karibia. Warna suara dan wajah Bob Tutupoly memang mirip dengan Harry Belafonte.
Fase kedua ini bolehlah disebut fase merantau dan mencari jati diri.
Zaman ketiga adalah ketika Bob kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Sebelum kembali ke Ibu Pertiwi, tentu Bob kembali ke ibunya di kampung halaman yang namanya seperti dua orang ratu, Inggris dan Belanda, yaitu Elisabeth Wilhelmina.
Fase ketiga ini aku menyebutnya Fase Widuri. Karena, setelah pulang ke Tanah Air, setelah mengembara sekian lama, dia seperti disambut hangat di Tanah Air. Disambut hangat, baik oleh para penggemarnya yang seperti “terputus” karena perantauannya, juga disambut hangat oleh dunia pertunjukan kita yang diwakili oleh televisi dan tentu saja disambut hangat oleh pencipta lagu. Lagu Widuri tak terbendung lagi menjadi hit di dunia musik pop Tanah Air.
…Widuri/ Elok bagai rembulan, oh sayang/ Widuri indah bagai lukisan, oh sayang/ Widuri bukalah pintu hati untukku/ Widuri ku akan menyayangi...
Selain sebagai penyanyi, Bob juga dianggap sukses menjadi host beberapa acara di TVRI. Beberapa yang aku ingat adalah: Pesona 13, Silih Berganti, dan Ragam Pesona. Suarannya yang mantap dan merdu ketika menyanyi, dipadu dengan pembawaannya yang hangat, rendah hati, dan menyenangkan, membuat segera saja penonton terpesona dan jatuh cinta kepadanya.
Bagi kaum wanita penggemarnya, tentu suara dan pembawaannya–yang selalu tampak rapi, perlente, mengenakan jas bercorak kain tenun dari Indonesia timur dipadu dengan pantalon putih dibalut kain mirip stagen di pinggang yang juga bercorak kain tenun dari Indonesia timur itu–selain mantap, merdu, menyenangkan, menenangkan, tentu ditambah dengan… menggairahkan.
Para penyanyi yang usianya jauh lebih muda, seusia adik, anak, bahkan cucunya, memanggilnya Om Bob, karena Bob memang selalu menawan dan awet muda.
Lagu hit Bob yang lain berjudul “Kerinduan” kerap aku bawakan, jika aku “dijoroki” disuruh menyanyi pada acara mantenan atau acara yang dihadiri oleh orang-orang jadul.
…Di dalam hatiku menangis/ Bila ku mengenang dirimu sayang/ Kini jauh sudah harapan hati/ Yang selama ini kurindu… ooo…
Selamat jalan, Om Bob. Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya. Terima kasih telah menghibur kami, selama setengah abad ini…
Aries Tanjung






