Bukan Karena Tidak Berbakti, Tapi Izinkan Kami Tinggal di Panti Wreda

Setiap kali mengenang Ibu, hanya ada airmata berkat berkilau di relung hati ini. Bagi Ibu, berbakti kepada orangtua yang utama adalah niat dan kehendak baik yang ikhlas. Bukan sekadar ben diarani dan basa-basi.

Sosok Ibu adalah wanita perkasa yang luar biasa dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Belum pernah sekalipun saya melihat Ibu memarahi kami, anak-anaknya. Ketika kami salah, Ibu tidak menegur, tapi mengingatkan dan memberi contoh yang benar.

Meskipun tidak sekolah, Ibu membuka wawasan kami untuk menjadi orang pintar, agar nasib kami jauh lebih baik dibandingkan dengan Ibu. Ia tidak menuntut kami untuk menjadi orang hebat, tapi yang utama adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain.

Menurut Ibu, ketimbang menuntut orang lain berbuat baik kepada kita, lebih bijak kita menuntut diri sendiri agar berbuat baik kepada sesama.

Intinya, hidup ini untuk memberi dengan ikhlas. Jika hidup untuk meminta, bersiaplah untuk kecewa dan sakit hati.

Ibu juga tidak neka-neka. Ketika orangtua bisa makan nasi, tahu, dan tempe, anak tidak usah memberi lauk daging sapi atau ayam. Apalagi, sekadar gengsi, mengada-ada yang tidak ada, atau untuk menyenangkan hati orangtua. Menurut Ibu pula, berbakti kepada orangtua itu yang utama menjaga martabat dan nama baik.

Saya jadi teringat peribasa yang mengatakan, seorang ibu bisa mengurus dan membesarkan enam anak, tapi belum tentu enam anak mampu mengurus seorang ibu. Sehingga saya menolak asumsi, orangtua itu ibarat menanam pada anak dan kelak akan memanen hasilnya. Kita memanen dari anak? Amit-amit. Hal itu tidak ikhlas dan bukan hidup untuk memberi.

Ketika saya menyampaikan niat saya kepada istri, jika saya menua ingin tinggal di panti wreda, istri saya langsung mencak-mencak. Lalu saya bertukar pikiran soal hidup ikhlas. Tinggal di panti wreda, kita tidak bakal kesepian, ketika anak-anak sibuk dengan keluarga atau pekerjaan. Akhirnya, istri saya mau memahami.

“Rumah kita adalah rumah anak-anak juga, tapi rumah anak bukan rumah kita, melainkan rumah keluarganya,” kata saya mengingatkan.

Dengan menyiapkan kemungkinan yang terjelek, kita belajar untuk berbesar hati menerima kenyataan secara ikhlas.

Kesadaran diri adalah kekuatan jiwa agar kita selalu eling lan waspada. Sejak jauh hari saya telah menyiapkan asuransi dan sedikit tabungan untuk menyongsong hari tua. Jika kelak menghadap Sang Kalik, kita tidak ingin merepotkan anak-anak.

Semoga anak-anak saya menemukan jodoh yang mampu menyatukan dua keluarga. (MR)

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang