Buku Pelajaran Penista Agama

Buku Penista Agama

Sudah umum diketahui, bahwa jika minoritas menghina, menjelekkan agama lain, sudah pasti dianggap menista agama. Heboh, langsung masuk bui. Tak perlu pikir panjang, tak perlu pengadilan. Toh hasilnya akan sama. Sama-sama berlanjut ke bui.Saya yakin mereka yang telah dituduh penista agama, tidak pernah sekalipun berniat untuk menista, mengejak apalagi menghina. Mereka tidak sadar, tidak menyangka bahwa itu dianggap menghina. 

Kuis Masyarakat

Arswendo Atmowiloto itu seorang cerdas. Budayawan. Seniman. Serba bisa. Tak mungkin ia menghina agama. Baginya agama gak penting, yang lebih penting itu perilakunya. Namun ketika Wendo bikin kuis dan masyarakat mengisi idola mereka, hasil kuis menunjukkan nama Arswendo lebih populer dibanding nama Nabi. Arswendo dianggap menista dan langsung masuk bui. 

Meliana yang menegor pengurus mesjid karena suara toa keras sekali, tak pernah berpikir soal agama atau penistaan. Ia hanya tidak tahan telinganya terkena suara keras dari toa yang datang dari mesjid masuk rumahnya. Toh ia masuk bui. Tak cukup dari itu, rumahnya dibakar. 

Ahok Basuki Tjahaya Purnama hanya mengingatkan masyarakat jangan mudah percaya dengan ayat Al Maidah yang dipakai pesaing dalam Pilgub, untuk menyingkirkannya. Tapi seorang Buni Yani yang memelintir kalimat Ahok, mampu membakar masyarakat Muslim untuk menuduh Ahok sebagai penista agama. Ahok terpaksa masuk bui. 

Menista Melalui Buku Pelajaran

Itu penista agama perorangan oleh minoritas. Bagaimana kalau penista agama justru negara, melalui buku-buku sekolah dari SD sampai SLTA.

Bacalah Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP terbitan Mendikbud ini. Informasi dalam buku ini menyesatkan bahkan menista agama Kristen dan Katolik. 

Begini bunyinya.

  1. Kristen tidak pernah membuat dogma bahwa Maria adalah Tuhan. 
  2. Kitab Suci umat Kristen adalah Alkitab. Bukan Injil
  3. Tuhan agama Kristen, Protestan adalah Allah, Bunda Maria dan Yesus Kritsus. Sebagai Tiga yang Tunggal atau  Trinitas. 

Apakah buku semacam ini dibuat, di setujui tanpa editor dan angsung cetak dan diedarkan atau ada kesengajaan ?

Tanpa Editor Buku Bermasalah

Sebab ini bukan buku ngawur yang pernah dibikin. Tapi telah berulangkali terjadi. Menjadi perhatian masyarakat, viral, tapi terus diulang. Kalau gak buku SD, SMP atau SLTA. Begitu terus. 

27 Februari 2021, PGI pernah mengirim surat ke Menag soal Buku Pelajaran Agama Islam yang menyinggung agama lain; Kristen, Katolik dan Protesta. Isinya sangat menyesatkan.

Salah satu kesalahan fatal yang sering terjadi adalah kemungkinan besar tidak ada editor atau ahli di bidangnya yang dimintai informasi mengenai isi yang berkaitan dengan mereka. Namun logikanya, buku cetak tanpa editor itu pasti kacau. Apakah editor itu menyangkut isi atau tata bahasa atau data. Editor mutlak diperlukan. Kecuali memang sengaja menyusupkan rasa ketidaksukaan atau bermaksud mengacau melalui isi buku. Bukankah cukup mudah menggiring opini melalui buku sekolah. 

Perlunya Ahli di Bidangnya

Tanpa editor, tanpa ahli di bidangnya, buku jelas kurang bisa dipertanggungjawabkan. Hasilnya, selalu ada isi yang keliru karena penulis tidak paham pada subjek yang sedang ia tulis. Orang Islam menulis tentang Kristen, tapi tak pernah bertanya pada orang Krisen dan nekad menulis berdasar pemahamannya sendiri. 

Jika ini dibiarkan, anak-anak didik kita dari SD hingga SLTA akan mengalami pemahaman yang keliru sampai kapanpun. Yang disalahkan biasanya bukan penulis, melainkan pemerintah. Dalam hal ini Departemen Pendidikan yang menerbitkan buku keliru semacam ini.

Untungnya, kesalahan atau kesengajaan membuat keliru itu objeknya sering dari agama minoritas. Mereka biasanya lebih pemaaf.  Tidak menganggap hal seperti itu sesuatu yang luar biasa, sampai meminta Tuhan ikut campur. Kasihan, korbannya biasanya orang yang tak pernah berniat menista agama.  Lebih kasihan lagi negara melalui Departmen Pendidikan yang dikira menjadi pintu masuk intoleransi dan kesalahpahaman.

TULISAN LAIN:

Aktifis Perempuan dan Pakar Jender, Lies Marcoes: Pemimpin Agama Punya Otoritas Tanpa Kontrol

Islam-Kristen dan Jalan Tengah yaitu Toleransi Beragama

Simbol Agama Simbol Negara

Apapun Agamanya, Budaya Tetap Indonesia

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.