CARA KHAS ORANG JEPANG MENYAMBUT HARI BARU

Refleksi oleh Belinda Gunawan

Suatu kali, ketika mengomentari salah satu statusku di Facebook, temanku Thata Pang menulis begini: “Membaca tulisan ini, Ibu (ia memanggilku Ibu) sudah menjalani ikigai, kata orang Jepang mah.” Ketika kutanya apa maksudnya, dia bilang arti kata itu panjang, silakan nge-google sendiri. Memang panjang. Aku kutip sebagian saja dari Wikipedia, selebihnya silakan ikuti saran Thata juga.

Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru.

“Pada tahun 2001 dalam penelitiannya, Akihiro Hasegawa—seorang psikolog klinis dan profesor di Universitas Toyo Eiwa—menempatkan kata ikigai sebagai bagian dari bahasa sehari-hari Jepang. Itu terdiri dari dua kata: iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai.

Menurut Hasegawa, asal mula kata ikigai muncul di periode Heian (794 ke 1185). “Gai datang dari kata kai (tempurung kerang dalam bahasa Jepang) yang dianggap sangat bernilai, dan dari situ ikigai diartikan sebagai kata yang berarti nilai kehidupan.” Hasegawa menemukan bahwa orang Jepang percaya apabila mengumpulkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari akan membuat hidup lebih berarti dan penuh.”

Aha… dari banyak yang kubaca dan sedikit yang kukutip, kata-kata yang langsung menyangkut di kepalaku adalah “alasan untuk bangun pagi”. Juga, bahwa alasan itu tidak usah yang besar alias heboh. Tidak usah grand. Setelah kuingat-ingat, ternyata aku menerapkannya juga setiap pagi. Sekalipun mood lagi jelek dan badan lagi mager alias malas bergerak, aku bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju ke dapur. Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri, “Pagi ini kopi apa ya?” Oh iya, ada kopi bubuk yang Minggu lalu kubeli ketika mampir di gerai kopi kenamaan berinisial S. Kucoba ah. Siapa tahu lebih enak dari yang sebelumnya kubeli online, keluaran S juga.

Setelah hmmmm… menyeruput kopi yang masih mengepul, mata terbuka dan aku pun mengikuti misa pagi online, suatu kebiasaan yang keterusan kujalani sejak awal masa Covid.

Setelah itu, hari berjalan lancar-lancar saja tuh. Hanya kopi saat sarapan? Ecel banget? Terlalu kecil tak berarti? Ya memang menurut literatur yang kubaca tentang ikigai, alasan bangun pagi tidak usah hal-hal yang besar. Yang kecil juga rapopo. Misalnya keluar ke kebun dan melihat tanaman. Bakal bunga melati yang kecil saja, yang sudah lama kutunggu-tunggu kehadirwnnya, bisa membuat senyumku mengembang.

Sebenarnya aku sudah menulis tentang hal ini, cuma saja dulu aku istilahkan dengan “wortel” yang kita perlukan untuk bergerak maju. Ya, ini perumpamaan tentang keledai yang baru mau melangkah menggeret gerobak karena supirnya pinter: menggantung wortel di depannya sebagai iming-iming. Hewan yang secara stereotipi dianggap bodoh itu rela mengejar makanan kesukaannya.

Dulu selain menggambarkannya dengan wortel, aku istilahkan juga dengan kalimat panjang: something to look forward to. Atau dalam bahasa kita: sesuatu yang ditunggu.

Ternyata orang Jepang menyebutnya hanya dengan satu kata. Yuk, kita tiru si Jepang mengadopsi ikigai sebagai nilai kehidupan? Siapa tahu kita jadi sehat jiwa raga dan berumur panjang seperti rata-rata penduduk Okinawa. (BG)

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.