Catatan perjalanan: Pamukkale

Seide.id – Dalam perjalanan menuju Pamukkale, sang Osman berusahan bergurau, dia bercerita.

Suatu ketika di awal karir, dia membawa rombongan manula, semuanya perempuan. Dia mewanti-wanti para ibu untuk ‘pipis sebanyak-banyaknya’ di hotel, karena kala itu belum ada tempat peristirahatan, sementara jarak yang ditempuh, lumayan jauh.
Tapi apa mau dikata, di perjalanan beberapa ibu minta pipis. Osman berbisik kepada sopir untuk berhenti di tempat yang banyak semak.

Hari mulai senja. Beberapa orang ibu bergegas turun, menenuhi ‘panggilan alam’ itu. Rupanya menular, bukan cuma para ibu tapi juga Osman. Dia pun mencari semak-semak, tapi tiba-tiba ada suara berdehem: “eheemm!”.

Dia berpindah beberapa langkah ke semak-semak lain, juga terdengar “eheemm!”. Setelah melangkah agak jauh, barulah tak terdengar suara “eheemm!”. Aah, barulah sang Osman merasa bisa pipis dengan aman.

Sampai di bus, dia iseng bertanya, siapa yang “eheemm!” Pertama tadi. Rupanya tak ada yg berselera menjawab dan membahas, hehe…

Pamukkale artinya “Istana Kapas”. Dari kejauhan, puing-puing yang terbentuk dari tetesan air itu memang nampak seperti kapas. Tapi bagiku, mirip salju.
Air itu berasal dari bukit purba. Air yang kehangatannya bervariasi antara 35-70 derajat itu mengandung kapur sehingga endapannya mengeras.

Foto: Aries Tanjung

Selama ribuan tahun tahun, endapan mengeras berwarna putih itu menciptakan teras-teras mirip sawah yang bersusun di Ubud, Bali. Bedanya tumpukan ‘sawah’ itu ‘pematang-pematangnya’ berwarna putih. Kolam-kolam besarnya berisi air berwarna kehijauan.

Di dekat sumber air panas yang pernah terkena gempa bumi dahsyat itu, dulu berdiri banyak penginapan yang mengancam kerusakan. Ketika tempat itu dinyatakan semacam ‘warisan dunia’ karena keunikannya, maka penerintah Turki menghancurkan dan melarang membangun di sekitar tempat wisata itu.

Bus kami parkir agak jauh. Di area parkir saja sudah berserak puing-puing dan pilar bekas kejayaan zaman Hieropolis. Anak-anak gadisku menurunkan kursi roda, siap mendorong, karena perjalanan menuju lokasi cukup jauh.

Dekat pintu masuk ada beberapq sepedamotor dan kendaraan mirip ‘odong-odong’ yang bisa menampung 8 orang penumpang termasuk supir. Kami dan 3 orang lagi tadinya berniat menyewa ‘odong-odong’ itu dengan bayaran sekitar 20 lira per orang. Setelah seakat, ternyata ‘odong-odong’ tak mau hidup ketika distarter, …yaah terpaksa memakai kursi.

Jalan menuju ke lokasi agak menanjak dan berbatu-batu, sehingga aku harus berkali-kali turun dan jalan kaki. Pemandangan di kejauhan, bukit-bukit tertimpa cahaya matahari sore dengan puing-puing zaman Hieropolis di sana-sini begitu elok melahirkan suasana agak mistis.

Aah, ‘sawah terasering’ berwarna putih berisi air mengandung kapur yang tak henti keluar dari perut bumi itu memang menakjubkan.

Di perjalanan kembali ke parkiran, di kejauhan kami berhenti untuk melihat sebuah rombongan kecil, seorang fotografer dan beberapa orang asisten sedang membuat semacam foto-foto prewed. Sepasang wisatawan rombongan kami menggoda: “Pengen difoto seperti lagi, mbaak, maas.., sini saya foto-in, mbak dan mas berdua”.

Konon, Cleopatra dan Mark Antony pernah berendam di kehangatan air kapur di sekitar sini.

Aku membayangkan: Cleopatra dan Mark Antony berendam di kehangatan air yang dipercaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit, sambil memandang lembah indah Pamukkale, di temani hidangan Pecel lele, Mangut lele atau Pecak lele…

(Aries Tanjung )

“Ujung Kulon”