Chairil : Aku mau hidup/ Seribu tahun lagi…

Aku beruntung pernah ngobrol ngalor-ngidul dengan salah seorang penggagas “Tiga Menguak Takdir”, yaitu Asrul sani. 3 orang pesyair penting dan ‘tak bisa dilupakan’ jika kita bicara tentang pesyair dan sastra modern di negri ini.

Ke-3 orang itu adalah: Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani. Yang dimaksud dengan takdir itu adalah Sutan Takdir Alisyahbana, juga salah-seorang pemikir hebat sastra modern Indonesia. Ketika itu Takdir belum lama pulang dari luar negri. Dan pemikirannya (paling tidak oleh 3 orang ‘penguak’nya) dianggap kebarat-baratan.

Asrul Sani, yang juga salah-seorang penulis skenario film cerdas, tajam dan orisinal itu bercerita tentang si “Binatang Jalang” itu, kurang-lebih begini.

Chairil itu, cerdas, kritis, gila membaca dan senang berdebat. Seperti anak muda pada umumnya waktu itu. Penampilannya selalu necis. Dia agak badung, sembrono tapi pintar merayu. Banyak gadis tergila-gila kepadanya. Sajak-sajaknya yg banyak dan berserak, tak cuma layak disimak, tapi juga terkadang miris mengiris-iris.

…cemara berderai sampai jauh/ terasa hari akan jadi malam/ ada beberapa dahan di tingkap merapuh/ dipukul angin yang terpendam…

Tulisan-tulisan terjemahannya banyak, tajam dan bagus. Kecerdasannya, dengan keterbatasan materi dan usianya (Chairil meninggal dalam usia belum lagi 30 tahun, kalau tak salah) sangat mencengangkan.

“Chairil, suatu sore pernah meminjam mesin ketik kepada saya. Mesin ketiknya rusak, katanya. Tapi, mesin ketik itu tak pernah kembali kepada saya. “Bolehjadi dilegonya, hahaha”. Tapi Asrul tak pernah bisa marah kepada sahabatnya itu. “Selain sajak-sajak, tulisan-rulisan dan pemikiran-pemikirannya yang memang cerdas, bolehjadi,…mati muda adalah salah-satu yg membuat Chairil dikenang sampai sekarang”.

…aku sekarang orangnya bisa tahan/ sudah berapa waktu bukan kanak lagi/ tapi dulu memang ada suatu bahan/ yang bukan dasar perhitungan kini…

Seorang teman memposting lukisan. Lukisan itu wajah Chairil Anwar, konon lukisan Affandi. Dibuat tahun 1946. Teman yang memposting lukisan itu mengatakan bahwa ia, diberi amanat oleh seseorang, untuk menjualnya dengan harga yang…fantastis. Seharga sebuah rumah yg cukup mewah!.

…hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu ada yg tetap tidak terucapkan/ sebelum akhirnya kita menyerah…

Aku bukan sedang ingin mengatakan lukisan itu palsu atau asli. Karena banyak sekali pelukis yg meniru gaya melukis Affandi dan itu tidak ada yang melarang (istilah di kalangan pelukis: ‘ngAffandi’).

Seorang teman lain mengatakan bahwa lukisan Affandi sudah seperti barang antik atau benda keramat, seperti batu bertuah atau keris kuno yang konon peninggalan pangeran anu yang banyak dijual di toko-toko barang antik. Tapi terus-terang, lukisan itu telah memancing beberapa pertanyaan.

Affandi, sebelum bergaya ekspresionis, impresionis (bukan abstrak, banyak orang mengartikan bahwa lukisan di luar realis adalah abstrak) adalah pelukis realis yang dahsyat. Anatominya matang, kuat dan (ini yang penting: benar!). Tapi lukisan yg konon lukisan Affandi itu, anatominya sangat lemah.

Lukisan itu adalah lukisan wajah Chairil Anwar dgn posisi agak menunduk, sedikit nenyamping, mata menatap tajam kepada kamera, tangan kanan memegang rokok yg sedang terselip di bibir. Sebuah foto tentang Chairil Anwar yg sangat terkenal dan ikonik.

Pertanyaan di luar soal teknis melukis. Munkinkah Affandi, seorang maestro senilukis, melukis Chairil Anwar dari sebuah foto?.
Adakah gaya melukis Affandi pada tahun 1946 itu sudah seperti itu?.

“Aku mau hidup Seribu tahun lagi” kata Chairil. Tentu saja keinginan itu bukan secara fisik. Melainkan karya-karyanya. Bukan juga persis, tepat 1000 tahun.

Tentu saja, setiap seniman menginginkan karyanya dikenang. Seperti Chairil,…meski ‘baru’ sekian puluh tahun,…karyanya terus dikenang sampai sekarang…


Ilustrasi: Gambar ini aku buat berdasar foto Chairil nan ikonik. Aku buat baru beberapa menit lalu, dengan akrilik di atas kertas bekas kalender, berukuran sekitar 50x35cm…

(Aries Tanjung)