penulis IVY SUDJANA editor Seide foto IVY
Aroma parfum, helaian rambut atau bekas pemulas bibir yang tertinggal, ponsel yang tak bisa dihubungi, struk kartu kredit dengan transaksi rahasia , tindak tanduk di luar kebiasaan atau chat dengan nama anonim yang sering tak bisa dilacak. Kata orang berhati-hatilah, kemungkinan besar telah terjadi perselingkuhan.
Layangan Putus menjadi booming karena bertemakan cheating. Meski secara ending, drakor Show Window, The Queen’s House lebih memuaskan, isu ini menjadi alasan orang memaki atau sekadar telinganya memerah. Bahkan ada akun mewakili kaum pria yang minta series ini dihentikan agar mereka tak melulu menjadi obyek kecurigaan istrinya.
Lalu bagaimana dengan survei JustDating tentang perselingkuhan yang mengungkapkan Indonesia menempati peringkat kedua di Asia? Bukankah hal tersebut menjadi bukti selingkuh atau cheating adalah realita. Meski bentuk, wujud dan kadarnya sangat variatif.
Berbagai teori pun dikemukakan. Selingkuh terjadi karena suami atau istrinya kurang cerdas, jadi tidak seimbang ketika berkomunikasi. Atau selingkuh terjadi karena perempuannya terlalu dependen, ngandel istilahnya serta kurang berinisiatif. Pendapat lain bilang istrinya kurang patuh, bawaannya membantah mulu jadi memusingkan suami.
Namun, faktanya suami atau istri; yang diperlakukan seperti raja atau ratu pun, atau pernikahan yang tampak happily ever after pun tak menutup celah kemungkinan salah satu atau keduanya berpaling.
Lalu pertanyaannya, apakah tipe attachment dengan pasangan mungkin mempengaruhi orang berselingkuh.
Attachment style dalam ilmu psikologi merupakan pendekatan emosional yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi berbeda menurut bagaimana mereka dibesarkan. Ketika masih anak-anak attachment style ini dibentuk dari ikatan emosional anak dan orang tua.
Jika seorang anak sudah terpenuhi ikatan emosionalnya selama pertumbuhannya menjadi dewasa, tentu saja ia menjadi individu yang memiliki emosi yang sehat, demikian juga sebaliknya.
Attachment style ini ditenggarai mempengaruhi cara pendekatan emosi yang akan terbawa sampai mereka dewasa dan mempengaruhi bagaimana menjalani kehidupan cintanya.
Dengan mengetahui karakter pendekatan attachment style, kita bisa mengetahui bagaimana relasi tersebut bisa bermasalah.
Berikut di antaranya.
● Dismissive Avoidant
Seseorang dengan pola kelekatan ini umumnya akan menghindari interaksi sosial seolah-olah tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya, menarik diri dari pergaulan, serta menolak meminta bantuan orang lain atau menjaga jarak.
Orang dengan kelekatan ini memiliki kecenderungan untuk secara emosional menjauhkan diri dari pasangan atau rekan kerjanya.
Mereka sering terlihat fokus pada diri sendiri dan terlalu memperhatikan kenyamanan dirinya. Bahkan dalam situasi yang memanas atau emosional, mereka mampu mematikan perasaan dan tidak bereaksi. Misalnya, jika pasangan mereka tertekan dan mengancam untuk meninggalkan mereka, mereka akan menjawab dengan mengatakan, “Saya tidak peduli.”
Memiliki pasangan yang memiliki kelekatan seperti ini, perlu kerja keras untuk bisa menggugah kepeduliannya. Pendapat saya sih, tak semua orang mampu sabar dan bertahan dengan individu yang masih sibuk dengan dirinya sendiri.
● Anxious – Preoccupied
Seseorang dengan pola kelekatan ini justru sangat bergantung pada seseorang yang menjadi tumpuan kepercayaannya. Ia sendiri memiliki kepercayaan diri yang rendah. Hal ini terjadi sebagai bentuk kurangnya kelekatan terhadap orangtua di masa kecilnya.
Mereka selalu merasa haus akan rasa kasih sayang, perhatian dan cinta, serta sulit percaya terhadap pasangan atau orang-orang disekitarnya. Seringkali menuntut agar orang lain dapat selalu menolong atau membantunya.
Meskipun selalu menuntut rasa aman (safe and secure) dari pasangan atau rekan dengan menggantungkan dirinya, namun sering kali perilakunya malah membuat pasangan atau rekan mereka menjauh karena sikapnya yang menuntut dan posesif.
Misalnya, jika pasangan mereka mulai bersosialisasi lebih banyak dengan teman, mereka mungkin berpikir, “Nah … ia tidak benar-benar mencintaiku dan akan meninggalkanku. Keputusanku benar untuk tidak mempercayainya. ”
Memiliki pasangan yang memiliki kelekatan seperti ini, perlu usaha keras dan kesabaran untuk membuatnya percaya kepada dirinya dan percaya kepada kita.
Menurut saya, masalah kepercayaan dirinya dan trust issue perlu dibenahi langkah demi langkah.
● Securely attached
Orang yang memiliki attachment style ini merupakan orang yang memiliki rasa percaya diri yang kuat dan tidak takut mempercayai pasangannya. Ia merasa sudah nyaman dan mampu menjalani hubungan cinta yang sehat.
Mereka cenderung memiliki kepuasan dalam hubungan sosialnya maupun hubungan romantik. Ia juga dapat menunjukkan perasaan aman dan saling percaya, walaupun mereka memiliki kebebasan menjalani aktivitas masing-masing.
Selain itu, individu ini umumnya mampu memberikan dukungan saat pasangannya sedang merasa stress. Begitupun sebaliknya, merasa nyaman untuk meminta bantuan apabila sedang ada masalah dan butuh dukungan dari orang lain. Mereka bisa saling terbuka dan setara dalam menjalani hubungan.
Memiliki pasangan yang memiliki kelekatan seperti ini tentu menyenangkan. Asal keduanya memiliki kelekatan yang sama. Akan tetapi bila salah satu saja, individu dengan securely attached yang jadinya challenging dengan pasangan yang memiliki kelekatan berbeda. Kemungkinan membandingkan satu sama lain juga ada.
● Fearful avoidant
Individu tipe ini cepat mengalami perubahan suasana hati sehingga sulit membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Mereka takut terlalu dekat atau terlalu jauh dari orang lain. Mereka berusaha menjaga perasaan mereka tetapi tidak mampu. Mereka tidak bisa menghindari kecemasan mereka atau lari dari perasaan mereka yang cenderung campur aduk atau tidak terduga.
Mereka butuh orang lain untuk memenuhi kebutuhannya namun juga khawatir apabila terlalu dekat, mereka akan disakiti.
Sebagai orang dewasa, orang-orang ini cenderung menemukan diri mereka dalam hubungan yang penuh drama, dengan banyak suka dan duka.
Mereka sering takut ditinggalkan tetapi juga berjuang untuk menjadi intim.
Seseorang dengan pola kelekatan ini bahkan mungkin berakhir dalam hubungan dengan berbagai bentuk kekerasan.
Memiliki pasangan yang memiliki kelekatan seperti ini, memerlukan jiwa besar dan cinta untuk berproses. Karena mereka sendiri sudah bingung dengan diri mereka sendiri, yang mengecilkan kemungkinan kehendak mereka untuk saling mendukung satu sama lain.
***
Melihat berbagai kelekatan ini membuat semua orang mengevaluasi bahwa relasi pernikahan tak cuma seperti yang terjadi dalam film romansa saja.
Perjalanan sampai menjadi sebuah karakter dewasa yang kelak menjadi pasangan kita ternyata ada kaitannya dari bagaimana mereka melewati masa kanak-kanaknya.
Bagaikan sebuah siklus, hal tersebut akan terus berulang bila tak disadari dan diintervensi. Kondisi mental anak-anak keluarga yang memutuskan perceraian karena perselingkuhan menjadi lebih penting diperhatikan daripada sibuk mengurusi perempuan atau lelaki lain yang mengganggu dalam hubungan.
Suami istri bisa berpisah atau mengakui kesalahan dan rukun kembali, tetapi rekaman segala tindakan yang anak-anak pernah lihat sehari-hari terus saja terekam dalam memori, sadar maupun bawah sadar.
Bahkan ketika nanti mereka ditanamkan oleh orang tua bahwa saling mencintai, percaya termasuk bisa menerima kekurangan dan perbedaan satu sama lain akan cukup melanggengkan pernikahan, pada kenyataannya mereka akan bersaksi hal itu memiliki kemungkinan fail juga.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu dewasa bila menemukan attachment style yang ternyata membuat relasi menjadi sedikit kompleks :
- Sadar posisi ketika tipe kelekatan kita bukanlah sesuatu yang sehat ketika berinteraksi dengan org lain. Hal tersebut adalah langkah awal untuk menjadi lebih baik.
- Mencari bantuan dan dukungan dari psikolog atau terapis yang memahami relationship.
- Melakukan refleksi diri, mengapa, bagaimana dan kapan saja saya memberi reaksi tertentu atas sikap orang lain
- Beberapa tipe kelekatan yang menetap sampai dewasa mengkondisikan seseorang merasa cemas ketika berinteraksi dengan orang lain.
Karenanya relaksasi maupun meditasi umumnya bisa membantu kondisi ini
Hal terpenting dari semuanya adalah kesadaran bagaimana diri kita untuk present-merespons apa yang terjadi pada saat itu-bukan di waktu lalu. Tidak terjebak terus bahwa masa lalu sedemikian buruk sehingga menyebabkan kita seperti ini sekarang dan sulit diubah.
***
Kembali lagi pada isu selingkuh, sepatutnya kita menyadari perempuan atau lelaki lain tak perlu terlalu menyita waktu untuk diurusi. Pasangan yang sudah meninggalkan kita juga biarkan menjadi histori.
Seperti pandangan umum, pada dasarnya hati seseorang yang tak bisa setia pada satu orang saja, akan terus demikian sampai sungguh-sungguh bertobat dan menyadari kesalahannya.
Lama kelamaan mungkin otak kita akan otomatis berpikir begini.
“Jika ada orang lain mengambil pasanganmu, justru dia telah membantumu. Kita tak sepantasnya dimiliki dan didampingi seseorang yang sedemikian mudah jatuh cinta pada orang lain yang ada di hadapannya.”
Bicaranya sungguh mudah. Namun, bisa menyadari sebelum mengintrospeksi dan memperbaiki diri, prakteknya harus sekuat baja.
Hal yang perlu kita ingat, diri sendirilah yang menciptakan kebahagiaan dan mau merasa bahagia. Bukan karena dibuatkan atau tergantung kepada orang lain.
Setuju?






