Seide.id. Seorang ahli senior dari Pusat Iklim Nasional China (NCC) mengatakan bahwa perubahan iklim memicu peristiwa cuaca ekstrem yang melanda dunia tahun ini seperti kebakaran hutan, gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, banjir, dan badai.
“Terjadinya anomali iklim disebabkan oleh percepatan pemanasan global. Jika tren pemanasan global tidak berubah, kejadian cuaca ekstrem yang sering, kuat dan bersamaan tidak akan berubah,” Zhou Bing, kepala ahli layanan iklim, NCC, kepada CGTN.
Suhu permukaan tanah global selama periode 2011-2020 naik sekitar 1,09 derajat Celcius dari tingkat pra-industri. Dipicu lagi peningkatan sekitar 1,07 derajat Celcius disebabkan oleh aktivitas manusia. Suhu rata-rata global pada tahun 2020 sekitar 1,2 derajat Celcius lebih tinggi dari tingkat pra-industri. Demikian laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.
Menurut Administrasi Meteorologi China (CMA), dari tahun 1950 hingga 2018, jumlah hari panas meningkat di sebagian besar dunia. Peningkatan sekitar dua hingga delapan hari per dekade.
Rata-rata jumlah hari panas dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan angka antara tahun 1961 dan 1990. Sementara itu curah hujan ekstrim meningkat di sebagian besar wilayah di dunia dengan curah hujan tinggi meningkat sebesar 1 persen per dekade.
Kuban Panas
“Pemanasan global mengintensifkan ketidakstabilan sistem iklim dan siklus air,” kata Zhou.
Apalagi banyak bagian dunia mengalami peristiwa cuaca ekstrem tahun ini.
Pada akhir Juni, Kanada barat terperangkap di bawah “kubah panas” dan memecahkan rekor suhu tinggi beberapa kali. Suhunya bisa mencapai 49,6 derajat Celcius di desa Lytton pada 30 Juni.
Pada pertengahan Juli, Eropa barat dilanda bencana dahsyat. banjir setelah hujan deras.
Pada 25 Agustus, kebakaran hutan di California telah membakar lebih dari 1,59 juta hektar. Badai hebat menyapu Yunani pada 15 Oktober hingga membanjiri ratusan rumah di Athena.
“Peristiwa cuaca ekstrem sensitif terhadap pemanasan global. Frekuensi perubahan dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem berdampak besar pada lingkungan regional dan masyarakat ekonomi,” kata Zhou.
COP26 diadakan di Glasgow dari 31 Oktober hingga 12 November ini bertujuan untuk mempercepat tindakan terhadap Perjanjian Paris dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.





