Deportasi

Kita semua tahu belaka, bahwa deportasi adalah: ketika seorang warga diminta keluar dari negara di mana dia berada, untuk pulang ke negara asal. Konotasi deportasi, terlanjur negatif. ‘Diminta keluar’ itu sesungguhnya: diusir.

Adikku pernah dideportasi dari Jepang, karena melanggar hukum. Sebetulnya deportasi itu sudah diduga dan ‘agak diharapkan’ olehnya. Hlo?

Begini,…dia sudah sekitar 4 tahun bermukim di Jepang. Menjadi pekerja di sebuah wilayah pertanian. Bolehjadi sudah jenuh di sana. Ditambah lagi, istrinya sedang sakit serius dan nampaknya tak kunjung membaik. Pelanggaran lalu-lintas dan penjara (penjaranya sih enak, katanya) mengakibatkan dia dideportasi. Menurut catatan imigrasi, dalam paling cepet 2 tahun ke depan, dia baru boleh kembali ke Jepang lagi. Semakin berat pelanggaran hukum yg dilakukan, maka semakin lama seseorang tak boleh masuk ke suatu negara. Bahkan ada yang tak boleh masuk untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan.

Adopsi dan deportasi, dugaanku sekarang-sekarang ini (atau sudah lama? menjadi masalah yang lumayan menjadi persoalan hukum yang krusial di Amerika.

Ketika booming anak-anak miskin dan yatim piatu, karena orangtua tewas atau hilang dalam perang, di Asia (terutama Vietnam dan Korea), anak-anak itu doadopsi oleh pasangan suami istri Amerika 25-30 tahun lalu. 25-30 tahun kemudian, anak-anak itu dewasa. Jika orang tua yang mengadopsi mereka kebetulan orang yang berkecukupan, beruntunglah anak-anak angkat itu. Sebaliknya, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika, di masa ketika anak-anak itu membutuhkan perhatian dan pendidikan, tiba-tiba orangtua angkat mereka bangkrut atau belakangan, ternyata sang bapak berangsur-angsur berperangai buruk bahkan kejam..?

Kemarin, aku menonton film menarik tentang dilema adopsi dan deportasi.

Awalnya, aku melihat sekelebat, pemainnya adalah Alicia Vikander. Aktris ini menarik perhatianku karena namanya berbau India (ternyata orang Swedia) dan wajahnya sangat mirip dengan sahabat anakku yang kebetulan juga bergiat -dan tentu saja mencari nafkah- di dunia seni peran.

Dari beberapa film yang aku ingat diperankannya adalah film-film eksyen. Tomb Raider dan Bourne Identity,…itulah film-film eksyen yang aku ingat. Jadi ketika sekelebat mengenali wajah Alicia Vikander dan adegan di film ini, aku menduga ini semacam film drama, maka aku semakin ingin menonton.

Antonio LeBlanc (Justin Chon, pemain utama sekaligus sutradara dan penulis skenario) adalah anak Korea yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika karena diadopsi. Antonio menikah dengan Kathy (Alicia Vikander), seorang janda beranak 1, seorang gadis kecil bernama Jessie, (Sydney Kowalske) berusia sekitar 5-6 tahun, yang cerdas, cantik dan sangat dekat dengan Antonio.

Mantan suami Kathy, Ace (Mark O’brien) ayah Jessie, adalah polisi tengil yang tak dekat dengan Jessie. Ketika suatu saat Kathy memuji kedekatan dan perhatian Antonio kepada Jessie, Antonio bergumam:

“Terimakasih atas pujianmu,…tapi apakah kau tak pernah memikirkan keinginan ayah Jessie untuk dekat gadis kecil yang cantik, menyenangkan, cerdas dan…anak kandungnya itu?”
“Ace, bahkan mungkin tak mengenal Jessie!”, kata Kathy.

Suatu ketika, keluarga kecil itu membeli perbekalan bayi (Kathy sedang hamil tua – anak Antonio) di sebuah pusat perbelanjaan. Secara kebetulan mereka bertemu dengan Ace dan temannya yang juga tengil, bahkan lebih tengil daripadaAce.

Mungkin berbeda 1 huruf saja, yaitu tengik. Pasangan polisi ini sedang berpatroli. Jessie nampak takut-takut terhadap Ace. Teman Ace langsung menuduh:

“Lelaki Asia brengsek inilah yang telah membuat persepsi buruk tentang ayahnya!”.

Antonio tersinggung. Mereka bertengkar. Beradu mulut. Bahkan nyaris berkelahi, jika Kathy tak melerai dan mengajak pergi.

Buntut dari cek-cok itu berakibat panjang dan serius. Karena Ace dan teman tengiknya adalah polisi, maka mereka dengan mudah mencari data-data tentang Antonio. Sialnya Antonio pernah memiliki catatan hukum yang kurang baik. Dia pernah melakukan pencurian sepedamotor. Meski itu termasuk pelanggaran biasa, tak ada yang terluka dan Antonio sudah menjalankan hukuman, tapi catatan buruk itu tentu tak bisa dihapus begitu saja. Antonio terancam dideportasi!

Tentu saja, Antonio dan Kathy sangat terkejut mengetahui hal itu. Mereka berusaha sekuat tenaga, supaya Antonio tak dideportasi. Bingung dan stress, Antonio menemui teman-temannya karena dia membutuhkan uang cukup banyak untuk membayar pengacara. Sebagai seniman tatoo, tentu Antonio tak sanggup membayar pengacara.

“Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan semua ini. Istriku ada di sini. Dia baru saja melahirkan anakku. Aku sudah 30 tahun berada di sini. Hidupku ada di sini. Bagaimana mungkin aku dipulangkan ke negri yang hanya aku ingat secara samar-samar saja ketika masih balita. Ke mana aku harus pulang? Apa yang akan aku lakukan di sana nanti. Bahkan aku tak tahu adakah aku masih memiliki famili? Jangankan pilihan, bahkan 30 tahun lalu ketika sebuah keluarga membawaku ke negri ini, aku tak tahu!”

Sang pengacara, yqng sudah ‘menekan’ biaya semurah mungkin, tetap tak bisa membantu karena menurut pengadilan, ada data tentang Antonio yang tidak sesuai dengan kenyataan. Data itu sangat diperlukan oleh pengacara sebagai salah-satu ‘senjata’ yang akan menguatkan supaya Antonio tak dideportasi, yaitu orangtua angkat.

Antonio selalu menyatakan kepada pengacara bahwa kedua orangtua angkatnya sudah meninggal. Ternyata setelah diselidiki, pengacara mengetahui bahwa ibu angkat Antonio masih hidup. Antonio, tak hendak melibatkan ibu angkatnya. Mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk. Mendiang ayah angkat Antonio, ternyata adalah lelaki berperangai buruk yang suka menganiaya ibu angkat dan dirinya.

Setelah dibujuk dan dimohon, akhirnya ibu angkat Antonio, bersedia menjadi saksi.
Tapi, Antonio diteror, bahkan dianiaya secara fisik oleh para begundal teman ayah Jessie supaya Antonio tidak maju ke pengadilan.

Naah, bagaimana cerita menarik ini selanjutnya? Dunsanak silakan cari sendiri aja filmnya, ya. Ini film baru, kok. Atau seperti aku, pasrah saja menunggu diputar lagi di HBO. Jika diputar lagi, mungkin aku nonton lagi, sebab kemarin itu, aku menontonya ketika filmnya sudah hampir separuh jalan…

(Aries Tanjung)

Nde Litel Haus Ngon Nde Prairi