Dua Film Hollywood dan Skandal Polri

A Few Good Man - Jack Nicholson

Pada dekade 1990an beredar dua film seputar militer yang kisahnya berkait dengan skandal di Polri hari hari ini, yakni “A Few Good Man” dan “The General Daughter”. Ke dua film Hollywood itu menampilkan tokoh ambisius yang sangat ditakuti di institusinya. Tokoh jumawa yang nyaris tak tersentuh. Siap mengorbankan apa pun dan siapa pun yang menghalangi ambisinya. Namun akhirnya tumbang secara tragis.

A FEW GOOD MAN (1992) menampilkan Tom Cruise yang saat itu lagi ganteng gantengnya (sekarang pun masih), Jack Nicholson lagi sangar sangarnya dan Demi Moore masih cantik cantiknya.

Film ini mengajarkan aturan baku di militer, bahwa dalam diri setiap prajurit kesetiaan pertama ditujukan pada Unit (Kesatuan), selanjutnya setia kepada Corps (Korps), barulah setia kepada Tuhan dan kemudian kepada Negara ( Unit – Corps – God – Country) .

Karena itu, hal hal yang membahayakan Unit bisa mendapat kode merah (“red code”) dengan hukuman paling ringan, dikurung seminggu di sel tanpa makanan kecuali air dan biskuit.

Letnan Daniel Kaffee (Tom Cruise) seorang perwira AL, pengacara berpangkat letnan lulusan Fakultas Hukum Harvard mendapat tugas membela 2 klien mereka di pengadilan militer. Dia dibantu oleh Letnan JoAnne Galloway (Demi Moore).

Klien mereka, Harold Dawson (Wolfgang Bodison) dan Louden Downey (James Marshall), didakwa atas kasus pembunuhan William T. Santiago (Michael DeLorenzo). Ketiganya sama-sama ditugaskan di Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo – Kuba, di bawah komando Kolonel Nathan R. Jessup (Jack Nicholson).

Dawson dan Downey melakukan eksekusi semata mata menjalankan perintah dari atasannya.

Duet Pengacara Militer Letnan JoAnne (Demi Moore) dan Letnan Daniel Kaffee (Tom Cruise ) dalam film A Few Good Man – imdb.

Kolonel Jessup dikenal sebagai komandan yang tegas, namun angkuh dan gila hormat, merasa paling berjasa bagi negara. Ia menginstruksi Letnan Kendrick untuk memberikan kode merah (hukuman di luar peraturan) kepada Santiago. Kendrick menyuruh dua anak buahnya, Dawson dan Downey, untuk menghabisi nyawa juniornya, Prajurit Santiago.

Setelah bekerja keras mengumpulkan fakta dan menyusun strategi, akhirnya sidang dimulai. Daniel Kaffee yakin bahwa Kolonel Jessup bersalah atas tindakannya.

Kesalahan Kolonel Jessup adalah menganggap Kaffe sebagai plonco, anak sekolahan sedangkan dia patriot yang berhadapan langsung dengan musuh.

Dengan trik kemampuan bertanya yang cerdik dan gigih, pada sidang terakhir Kaffe berhasil membuat Kolonel Jessup mengaku bahwa ialah yang telah memerintahkan “kode merah” dan menghilangkan nyawa Prajurit Santiago. Maka ditangkaplah Kolonel Jessup sebagai penjahat. Sedangkan kedua terdakwa, Dawson dan Downey, dinyatakan tidak bersalah oleh hakim.

Selanjutnya Korbankan Anak demi Citra Ayah

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.