Dua Film Hollywood dan Skandal Polri

A Few Good Man - Jack Nicholson

THE GENERAL DAUGHTER, film yang rilis 1999, diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Nelson DeMille, memikat bukan semata-mata karena akting John Travolta sebagai Paul Brenner, penyidik internal militer, James Cromwell sebagai Letnan Jenderal Joseph Campbell, serta peran kecil selintas dari Leslie Stefanson sebagai Kapten Elizabeth Campbell. Melainkan pada ketuntasan penyelesaian akhir suatu kejahatan pidana yang melibatkan kalangan militer.

Penyelesaian kasus hingga tuntas menjadi penanda yang penting bagi sistem lembaga yang bermartabat di setiap negara demokrasi dan modern. Tidak boleh ada isu-isu atau kasus apa pun yang dibiarkan berstatus hukum mengambang.

Ketidakjelasan status hukum seseorang terkait indikasi keterlibatan dan/atau tingkatan peran, serta tanggung-jawabnya dalam suatu kejahatan pidana sering membuat publik terpaksa menafsirkan sesuka hati dengan seluruh ketidakpastiannya.

Penyidik internal militer Paul Brenner (John Travolta ), sempat berkenalan dengan Kapten Elizabeth Campbell (Leslie Stefanson), sebelum putri jendral ini tewas mengenaskan – dalam film General Daughter. – IMDB.

Paul Brener, sang veteran Perang Vietnam, baru saja tiba di area dalam basis militer di Georgia. Keberadaan Brener di sana dalam rangka melaksanakan tugas Komando Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS, dengan penyamaran sebagai Sersan Satu Frank White.

Brener dikejutkan dengan panggilan telepon yang memberitahukan tentang kematian Kapten Elizabeth Campbell secara mengenaskan. Tubuh sang kapten jelita itu ditemukan di satu lokasi di area dalam basis militer tersebut. Sebelum dia terbunuh, diduga korban telah mengalami pelecehan seksual.

Untuk diketahui, Kapten Campbell adalah putri dari pucuk pimpinan tertinggi dari seluruh basis militer tersebut, yakni Letnan Jenderal Joseph Campbell.

Film ini mengekspose Brener selaku penyidik yang berhadapan dengan pelbagai kepentingan tersembunyi yang bermaksud menghalang-halangi pekerjaannya.

Upaya penyesatan informasi, penyembunyian bukti-bukti perkara, pembunuhan terhadap saksi-saksi kunci, dan bahkan harus menentang keputusan dari institusinya sendiri (Angkatan Darat) yang bermaksud menutup kasus itu secara permanen, dengan argumentasi yang kepada publik dipersepsikan mengatas-namakan kepentingan “jiwa korsa”.

Paul Brener yang berpangkat bintara tinggi (setingkat pembantu letnan satu) dengan seluruh kewenangan yuridisnya sebagai seorang penyidik, tidak sungkan berhadapan siapa pun, termasuk perwira tinggi berbintang tiga.

Brener menangkap Kolonel Robert Moore dan langsung menjebloskan dia ke dalam sel tahanan setelah menemukan bukti-bukti material yang menggugurkan alibi Moore. Namun, tanpa sepengetahuan Brener, Moore telah dikeluarkan dari penjara militer untuk dipindahkan sebagai tahanan rumah. Kemudian, riwayat sang kolonel berakhir dengan sebuah tembakan pistol di dahinya, yang dikesankan seolah-olah perbuatan bunuh diri.

Pembunuhan terhadap Kapten Campbell sebenarnya adalah akibat dari serangkaian perbuatan menutup-nutupi kebenaran, yang sebelumnya terus-menerus dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk oleh ayahnya sendiri, Letnan Jenderal Joseph Campbell.

Kapten Elizabeth Campbell telah lama “mati” sejak sang ayah mengkhianati dirinya dengan tidak bersedia membela kehormatan putrinya. Bahwa tindakan Jenderal Campbell yang terus-menerus menutupi kebenaran tersebut, akhirnya semakin menghancurkan kehidupan putrinya sendiri.

Sang anak sengaja “dikorbankan”, tidak dibela saat dilecehkan, untuk menjaga citra yang ayah yang ambisius. Sebab, jendral bintang tiga itu – menjelang pensiun dari dinas militer aktif – tengah bersiap-siap untuk terjun ke dunia politik sebagai kandidat Wakil Presiden AS.

Karir militer Letnan Jenderal Joseph Campbell berakhir secara tragis karena pengadilan militer memutus dia bersalah atas dakwaan menutupi kebenaran. Selain diberhentikan dari dinas kemiliteran, harapan sang jenderal untuk terjun ke dunia politik sebagai kandidat Wakil Presiden terpaksa ikut kandas!

“The General’s Daughter” menunjukkan standar kerja para penyidik profesional dengan sistem peradilan militernya di sebuah negara maju – yang di Amerika sendiri belum tentu melakukannya.

Orang Jawa berkiblat pada wayang sebagai kisah cermin manusia untuk mendapatkan kearifan dalam hidupnya. Warga dunia masa kini bercermin pada novel dan film. Dua duanya tak kurang mengajari bahaya ambisi yang membabi buta namun mereka yang ada di puncak kuasa mengabaikannya. Hingga mereka pun berjatuhan. ***

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.