Eksotika Mentawai (1) – Kuyup ke Seminar Tradisi Lisan

Pongpong (sampan kayu) bermesin motor-bensin tempel, ojeg-air mengantar profesor dan para doktor itu ke hulu Rereiket (sejauh 42 Km) di punggung hutan sagu Desa Matotonan di kecamatan Siberut, Mentawai. foto : HSS.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI 

Seide.id 21/08/2022 – Filolog dan Peneliti BRIN Dr. Mujizah mencopot serta menenteng sepatunya, lantas melompat turun ke pinggir Sungai Rereiket yang melintasi Dusun Rogdog, Desa Madibag, Kecamatan Siberut Selatan – Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tapi siapa nyana,  tanah yang dipijaknya ternyata lumpur liat, menjadikan kakinya terbenam sebatas betis.

Hal sama juga dialami Ketua Asosiasi Lisan (ATL) Sulawesi Tenggara dan mantan rektor Universitas Halu Oleo;  serta Ketua Prodi Tradisi Lisan Universitas Halu Oleo Dr Rahmat Sewa Suraya yang sama copot sepatu, melangkah dengan kaki nyeker terbenam lumpur, oleng dan nyaris tercebur sungai saat harus naik dan duduk diam di lekuk dalam pongpong.

Pongpong adalah abak (sampan kayu) bermesin motor-bensin tempel, ojeg-air yang hendak mengantar profesor dan para doktor itu ke hulu Rereiket (sejauh 42Km) di punggung hutan sagu Desa Matotonan di kecamatan sama. “Mau seminar kok repot banget, ya…?” gurau penyair Yahya Andi Saputra, sejarawan UI dan Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi serta Ketua ATL Jakarta kepada peneliti/penyair Bambang Widiatmoko yang juga suami Dr Mujizah.

Seminar nasional umumnya memang digelar di gedung pertemuan atau hotel berbintang yang nyaman ber-AC. Tapi tak demikian dengan Seminar Nasional dan Festival Budaya Liat Eeruk / Liat Pulaggajat yang digelar ATL dan BPNB (Badan Pelestari Nilai Budaya) Sumatera Barat, yang 5-10 Agustus 2022 sengaja digelar di pelosok negeri yang cucuk buat pehobi ajang petualangan.

Seminar dan bertualang di kawasan pedalaman : kombinasi unik dan langka. Foto Heryus Saputro S.

Petualangan sudah terasa di Muaro Padang di Kota Padang, saat berangkat dengan kapalcepat. Bareng para wisatawan Eropa yang hendak menunggang ombak di Mentawai. Kapal melaju menerobos utara Samudra Hindia  dan baru 4 jam kemudian merapat di Pelabuhan Desa Mailepet, Kecamatan Siberut Selatan – Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.

Pelabuhan Mailepet merupakan muara Sungai Rereiket yang meliuk-liuk sejauh 82Km dan berhulu di hutan sagu Desa Matotonan. Dari muara itu pongpong bisa berlayar hingga ke hulu. Tapi waktu tempuhanya  apalagi karena melawan arus  bisa sepuluh jam. Karena itu kami potong kompas, lebih dulu melalui jalan darat (berupa tanah merah dan sedikit jalan cor-semen), naik angkot nuju Dusun Rogdog.

Dua jam untal-untalan (terpental pental) di angkot, karena Uda Sopir mengemudi seperti kesetanan, kami tiba di Rogdog, Desa Madibag. Sebenarnya ada jalan tanah ke Matotonan, bisa naik ojeg sepedamotor atau becakmotor ( yang berpelat polisi ataupun yang bodong) dengan waktu tempuh 4-5 jam. Kami disarankan naik pongpong, lebih cepat lebih nyaman.

Bagi profesor dan doktor yang akan baca makalah ilmiah di ajang seminar di Matotonan, kesempatan naik pongpong ini barangkali tak kan terlupakan. Sepanjang arung misalnya, Mujizah harus membungkus sekujur tubuh dengan ponco plastik, agar tubuh tak kehujanan langsung.

Hujan mengguyur sepanjang perjalanan. Ada yang kebagian mantel ada yang tidak. Foto Heryus Saputro

Entah mengapa, Profesor Usman tak memperoleh ponco dari panitia saat dibagikan di dermaga Rogdog, sementara hujan mengguyur nyaris sepanjang arung yang berlangsung 2 jam. Akibatnya  profesor berusia 60 tahun ini bukan cuma kedinginan, tapi juga tiba di dermaga Matotonan dengan jas dan pantalon basah kuyup.

Yang apes Ketua ATL Pusat Prudensia MPPS. Mbak Tety, begitu biasa kami menyapa, bukan cuma basah kuyup kedinginan sepanjang arung, tapi juga sempat hilang dari pantauan kami. Diawali mesin pongpong yang beberapa kali ngadat di tengah jalan, hingga tertinggal rombongan, hingga kemudian mesin pongpongnya terpaksa mendarat karena kehabisan bensin

Bensin memang mahal dan langka di Mentawai. Pom BBM Mini di Pelabuham Mailepet, yang tiap bulan dipasok tanker Pertamina, selalu ludes diserbu masyarakat. Pedagang menyimpan bensin dalam drum dan menjualnya lewat warung dengan harga (Petralite) Rp16.000/liter.

Kemana harus cari bensin saat mesin pongpong mogok, sementara waktu  sudah Magrib  tak ada lagi pongpong lewat. Sementara listrik dari Depo PLN di Desa Matotonan menyala  hanya dari pk 18:00 s/d 00:00 Wib. Sinyal ponsel juga susah didapat. Sementara kami yang tiba lebih dulu di Matotonan, tidak ‘ngeh’ bahwa ada pongpong habis bensin di tengah jalan. Untung ada satu teman menangkap sinyal SOS dari Mbak Tety. Tapi mencari dengan balik ke sungai di malam hari  sungguh berrisiko. ***

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.