Energi (yang) Bukan Fisika, Tetapi Diri Manusia

Energi (yang) Bukan Fisika, Tetapi Diri Manusia

Tak ada yang tak mungkin untuk menjadi orang yang lebih baik. Membangun keluarga yang lebih baik dari hari ke hari, untuk kehidupan dan lingkunagan yang lebih baik

Pernah dengar kutipan ini?

Energi itu bersifat menular. Kamu bisa mempengaruhi orang lain, juga bisa meracuninya.

Ilustrasinya dalam kehidupan real kurang lebih demikian.

Suatu kali kamu lelah sekali setelah janji temu dengan seseorang. Dia teman lama dan kalian cukup dekat sebenarnya. Sayangnya ketika itu, sewaktu dia memulai cerita, kamu total menjadi pendengarnya. Komunikasi kalian sepihak. Dia terus mengeluh, tak memberi kesempatan kamu untuk merespons selain hanya duduk, diam, mengangguk dan mendengarkan.

Selesai bertemu, kamu hanya ingin makan makanan kesukaanmu sambil mendengarkan musik. Karena rasanya kamu seperti habis melakukan olahraga berat, padahal hanya diam mendengarkan.

Di hari lain.

Kamu berada di sebuah acara, di mana para narasumbernya memberi waktu dan ruang untuk peserta menyampaikan pendapat, saling merespons verbal dan non verbal, didorong untuk mendengarkan dan memberi feedback. Sepulang dari acara tersebut, kamu merasa seperti mendapat hal-hal baru dan menjadi bersemangat.

Bagaimana? Sudah lebih nyantol keterkaitan kutipan tadi dengan kasus yang dipaparkan setelahnya?

Sebelum kita sampai pada pertanyaan kok ada orang yang seolah ‘menyedot’ energi kita, ada yang malah ‘memberi’, dan apa penyebabnya?

Mari kita lihat karakter persona yang belakangan kita sadar bahwa karakter mereka (sungguh) menguras energi dan bagaimana trik untuk  menyiasatinya.

Huffington Post mengulas tentang tipe penguras energi orang lain ini sejak 2011.

1. Narsistik

Orang ini harus menjadi yang pertama dan bila bicara selalu mengenai dirinya.

Dia sangat haus kekaguman, perhatian dan rasa percaya dirinya sangat tinggi. Biasanya orang ini tidak memiliki atau hanya sedikit rasa empati serta terbiasa berharap imbalan atas hal yang dilakukannya.

Dia bisa sangat mengendalikan harga diri dan rasa percaya diri orang lain.

Karenanya jangan menaruh banyak harapan, atau sering memberi tanggung jawab kepadanya.

2. Orang yang rendah diri, kadangkala senang playing victim untuk kondisinya.


Ada saja alasan untuknya merasa tidak bahagia.

Bila seseorang menawarkan solusi untuk masalahnya ia akan selalu berkata ‘Ya, tapi…’ sebagai penanda dirinya tidak sanggup melakukan apapun.

Dengan orang seperti ini tetapkanlah batas yang tegas, tak mengikuti keluh kesahnya juga.

Jika tipe orang ini sedang menumpahkan masalahnya kepada kita, tegurlah ia untuk mau mendengarkan dan membahas solusi yang diberikan.

3.  Orang yang suka mengontrol orang lain


Orang-orang ini biasanya terobsesi untuk mengendalikan orang lain dan menentukan bagaimana seseorang harus melakukan atau merasakan sesuatu.

Mereka memiliki pendapat sendiri dan selalu berupaya mempengaruhi orang lain untuk memiliki pemikiran sejalan dengannya, apalagi ia terbiasa mendominasi.

Berhadapan dengan orang ini, kita perlu membuat pendirian tegas tentang apa yang diyakini, serta percaya diri saat berbicara. 

4. Orang yang selalu berbicara


Orang-orang ini umumnya tidak tertarik dengan perasaan orang lain dan hanya peduli dirinya sendiri.

Mereka senang mendekat dan berinteraksi dengan kita, tetapi tidak memberikan kesempatan untuk kita membuka pembicaraan. Mereka juga tidak pernah mau menanggapi isyarat non verbal.

Orang semacam ini sebaiknya langsung diinterupsi dan jangan segan untuk minta diberikan waktu bicara beberapa menit.

5. Drama queen
Orang yang senang membesar-besarkan insiden kecil dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Kunci untuk tidak tidak terjebak dalam dramanya adalah dengan tidak meladeni dan menjaga jarak.

Melihat penjelasan itu, kok sepertinya dunia begitu buruk ya?

Sekarang, mari kita bertemu dengan para pemberi energi.

Karakter seperti apa, sih, yang mampu dan bisa memberi energi.

Orang-orang dengan energi positif akan membuat kita merasa aman, senang dan rileks ketika berdekatan dengannya.

Kita merasa diterima, merasa mendapatkan sesuatu dari berinteraksi dengannya, dan selalu berharap ada pertemuan kedua, dstnya.

Selanjutnya kita akan bahas, darimana sikap pemberi atau penguras energi itu diperoleh.

Hubungan Energi pada Diri Orang Tua dan Pola Pengasuhan

Perlu diingat, segala sesuatu yang kita lakukan berpengaruh pada anak kita.

Berikut, bagaimana energi orang tua (dalam hal ini lebih tepat vibrasi) positif berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak-anak.

Rumah yang Homey

Pernahkah kita berkunjung ke rumah keluarga, teman, saudara di mana kita enggan untuk pulang, karena merasa betah dan nyaman. Padahal rumahnya sederhana, tak dilengkapi perangkat teknologi terkini.

Hal itu karena energi seluruh penghuni rumah yang positif. Sebagai penghuni pun mereka nyaman tinggal dan berinteraksi sebagai sesama anggota keluarga. Mereka sering dan betah melakukan aktivitas di rumah.

Sehingga, ketika ada yang bertamu, kenyamanan itu tersampaikan.

Namun, sebaliknya ada juga rumah yang tak hendak kita kunjungi kembali. Setelah singgah, rasanya ingin cepat-cepat pamit dan berpikir dua kali untuk kembali lagi.

Bayangkan anak-anak dan anggota keluarga merasakan semua hal negatif itu, setiap harinya.

Kesimpulan, tak semua rumah itu adalah rumah tempat penghuninya bertumbuh dan hidup bahagia.

Kecerdasan Emosi yang Lebih Baik

Anak-anak adalah peniru yang baik segala perilaku kita.

Bila di rumah, energi positif yang biasa terpancar, anak-anak akan lebih terkontrol untuk mengendalikan sikapnya menghadapi segala peristiwa.

Hal ini karena anak-anak tahu, paham, dan percaya diri; bahwa apapun yang terjadi, peer pressure, bullying, masalah di sekolah, kesulitan belajar, keluarga mereka selalu menjadi support system yang bisa diandalkan.

Termasuk tidak seketika mencari kesalahan orang lain, atau sebaliknya menimpakan kesalahan pada diri sendiri.

Anak-anak tidak mudah panik dan bertindak secara impulsif ketika ada kejadian yang mengejutkan. Bisa dengan sadar dan tenang melakukan hal-hal yang diperlukan saat ada kejadian tersebut.

Rumah yang Mendengar, Membuat Anak Mampu Mendengar

Rumah dengan anggota keluarga yang memiliki energi positif, mendorong satu sama lain saling mendengar pendapat, saling memberi masukan, pujian dan dukungan.

Dengan demikian, anak pun tak serta merta menjadi ‘pemotong’ pembicaraan saat ada diskusi, atau hanya mau perkataannya yang didengar saja.

Mereka juga tak segan memberi pujian dan mendukung orang tua, dengan cara mereka sendiri.

Bayangkan rumah dengan anggota keluarga saling mencela dan terus berebut bicara. Bagaimana bisa anak memiliki kehendak untuk berpendapat termasuk memberi dulkungan. Hal ini karena anak merasa diabaikan keberadaannya.

Memiliki Perspektif tentang Hidup yang Lebih Baik

Hidup manusia, tergantung bagaimana memandangnya. Termasuk ketika kita menemui masalah.

Dengan terus menggiatkan energi rumah tersebut adalah positif, hal ini mendorong setiap anggota keluarga bersikap optimis.

Bukan, “Ya udah, deh. Habis mau gimana lagi?”

Melainkan, “Setiap orang pasti punya masalah. Setiap orang pasti berbuat salah, dan itu bukan final. Ada masanya semua hal itu tersebut bisa diselesaikan dan diperbaiki.”

Mengakhiri tulisan ini, saya mau bilang. Semua yang saya bicarakan ini bukan hal sepele atau mudah. Kita juga tidak tahu apakah kehadiran kita di mata orang lain, diharapkan atau dihindari.

Kita juga tak sempurna sebagai manusia yang bisa selalu melepas energi dan atau vibrasi positif ke sekitar.

Hal yang perlu diingat adalah, tak ada yang tak mungkin untuk menjadi orang yang lebih baik, membangun keluarga yang lebih baik dari hari ke hari, plus tentu mewujudkan dunia yang lebih baik.

Percaya, deh!

Psikolog Lita Gading : Anak Jangan Dibuat Tameng

Tentang Kreativitas dan Menerbitkan Buku/Novel Secara Indie

Ajarkan Anak ‘Menikmati’ Bosan

Aplikasi Kecantikan di Medsos Bikin Penggunanya Mengalami Gangguan Psikologis

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta