Frida, Sang Pelukis Legendaris

Seide.id – Ketika membaca berita populer sekilas, bahwa Julie Taymor -seorang sutradara wanita- ingin membuat film tentang Frida, seorang pelukis wanita legendaris Mexico, aku langsung penasaran, menunggu-nunggu dengan berdebar dan harap-harap cemas.

Julie Taymor adalah salah-satu sutradara wanita berbakat. Karya-karyanya sebagian besar adalah film-film drama musikal. Julie belum pernah meraih Oscar, tapi sudah meraih berbagai penghargaan, antara lain Tony Award. ‘Salah-dua” film-filmnya yang ‘nyantel’ bagiku adalah film: “Lion King” dan “Across the Universe”

Pemeran Frida yang langsung berkelebat di dalam benak …’tak bisa lain’, yaitu: Salma Hayek. Ternyata dugaanku (rasa-rasanya juga dugaan banyak orang) tak meleset. Karena keduanya adalah orang Mexico. Secara sekilas, wajah keduanya memang mirip. Keduanya memiliki wajah khas kecantikan wanita Mexico. Tapi, Salma Hayek, tentu lebih segar, terutama ekspresi dan garis wajahnya. Lebih segar? Yak. Wajah Frida, sedikit lebih tirus, lebih kuyu dan ekspresinya selalu terlihat seperti ‘menahan sakit dan kepedihan’. Yak, kepedihan,… (meski berusaha disimpan) aku rasa ekpspresi itulah yang kurang tertangkap pada wajah (yang diperankan oleh) Salma Hayek.

Kepedihan? Yak! Hidup Frida, menurutku lebih dari cukup sebagai ‘syarat’ untuk membuat cerita nan penuh drama. Bukan drama yang mengada-ada. Tapi hidupnya sendiri memang sudah penuh dengan dinamika kehidupan, kepedihan yang dramatis. Cerita apa pun, tentang Frida pasti menjadi kisah drama. Apalagi film.

Ilustrasi: Aku orat-oret beberapa menit lalu dengan media pensil dan akrilik di kertas bekas kalender. Berukuran sekitar 40x30cm. Idennya terinspirasi dari lukisan Norman Rockwell

Setelah menonton filmnya, aku jadi ingin mengetahui kehidupan Frida sedungguhnya. Mengintip kisah hidupnya melalui banyak info, Ternyata hidupnya jauh lebih dramatis daripada yang ada di film.

Sejak belia, Frida sudah menderita kelainan pada tubuhnya. Pertumbuhan tulangnya terganggu. Sehingga dia akan menderita sakit berkepanjangan. Salah-satu tulang tungkainya kian lama, kian mengecil. Itulah sebabnya, dia selalu mengenakan rok panjang untuk menutupi salah-satu tungkainya yang perlahan tapi pasti akan mengecil.

Sejak belia, bakat melukisnya sudah terlihat jelas. Menginjak remaja, dia tumbuh seperti keceriaan remaja pada umumnya. Kekurangan fisiknya seperti ‘terselimuti’ sejenak oleh bakat, hasrat melukis dan tentu saja percintaan remaja. Tapi kegembiraan itu hanya sejenak. Sungguh sejenak. Lalu, tiba-tiba keceriaan itu seperti direnggut oleh semesta dari hidupnya.

Suatu ketika, dia mengalami kecelakaan lalu-lintas nan tragis. Bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan lalu-lintas. Dalam kecelakaan itu, Frida terluka parah. Tulangnya patah di beberapa tempat. Ada potongan logam menusuk tubuhnya. Dokter menyatakan: “Hanya mukjizat dan keajaiban yang bisa membuatnya selamat dan melewati semua ini!”. Keajaiban itu sungguh terjadi. Frida selamat! Tapi paramedis memvonis bahwa dia tak mungkin bisa merasakan kodratnya sebagai wanita. Karena, akibat kecelakaan yang memang celaka itu,… Frida tak bisa hamil!.

Berbulan-bulan dia hanya bisa berbaring di tempat tidur untuk memulihkan tubuhnya. Menurut para kritikus, karya-karya lukisnya semakin “liar dan surealis”. Sangat bolehjadi karena dia hanya bisa berbaring itu. Yang bisa dilakukannya untuk “membunuh waktu”,… hanya melukis.

Setelah agak pulih, tapi fisiknya semakin ringkih, dia belajar melukis kepada salah seorang idolanya, yaitu pelukis mural Mexico terkenal Diego Rivera. Sering bertemu, membuat mereka terlibat asmara. Lalu menikah. Tapi, pernikahan bukan membuat Frida menjadi tenang dan bahagia. Pernikahan justru semakin membuat drama kehidupan mereka semakin rumit. Sebagai seniman (yang konon sebagian besar dialiri darah petualang), petualangan-demi-perualangan- semakin menjadi-jadi. Diego Rivera bersilingkuh. Frida tentu tak mau kalah.

Gaya melukisnya adalah gabungan antara gaya Spanyol dan gaya tradisional seni lukis Indian. Lukisan-lukisan suku bangsa Indian yang tegas, dengan goresan-goresan sederhana dan warna-warni cerah dan kontras.

Selama hidupnya, Frida berhasil melukis sekitar 143 karya. Hampir separuh dari tema lukisannya adalah serial potret diri. Yang paling terkenal adalah potret diri yang menggambarkan Frida sebatas torso, berbaju putih, berkalung ranting berduri, bermata kalung burung kolibri. Latar belakangnya adalah dedaunan tropis berwarna hijau muda dan hijau kekuning-kuningan yang cerah. Lengkap dengan habitat serangga hutan yaitu kupu-kupu dan lebah. Di bahu kiri-kanannya ada monyet capucine dan kucing berwarna hitam. Itulah salah-satu karya potret diri yang paling menarik menurut para kritikus senilukis. Bolehjadi karena monyet dan kucing hitam dalam mitologi Mexico adalah labang kegesitan, kelicikan, kecerdikan dan kebijaksanaan.

Tapi, menurut kritikus senirupa Mexico karya-karya terbaik Frida adalah potret diri yang “dilahirkan” justru ketika berbulan-bulan dia berbaring di rumah sakit. “Boleh jadi ketika aku berharap sembuh,… atau mati, ketika aku hanya bisa berbaring itulah, saat-saat terbaik dalam hidupku”

Frida Kahlo meninggal, ketika usianya masih relatif muda, yaitu 47 tahun.

Selamat ulang tahun Frida. Jika masih hidup usiamu 116 tahun sekarang.

( Aries Tanjung )