Upaya Menyelamatkan Garuda Indonesia Menjelang Bangkrut

Oleh MAS SOEGENG

Empat hari lagi adalah detik-detik peringatan Hari Proklamasi Indonesia. Tapi dalam beberapa hari ini juga merupakan detik-detik kebangkrutan Garuda Indonesia ( PT. Garuda Indonesia Tbk/ GIAA).  My Indo Airlines mengajukan PKPU (Penuntutan Kewajiban Pembayaran Utang) kepada pihak Garuda. Gugatan PKPU telah diajukan sejak 9 Juli 2021 dan didaftarkan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Pihak pemohon My Indo Airline dan pihak termohon Garuda Indonesia. 

My Indo Airlines merupakan maskapai kargo yang berbasis di Bandara Halim Perdanakusuma. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan kargo terjadwal dan sewaan dengan rute domestik dan internasional.

Playanan premium Garauda dengan pramugari terbaik kelas dunia

Selama masa PKPU, akan dilakukan cara dan upaya damai dalam hal pembayaran utang atau negosiasi pembayaran. Jika tak disepakati, maka Garuda yang tak mampu membayar bisa dipailitkan. Memang tak ada opsi lain dari Garuda kecuali menghadapi permohonan PKPU tersebut. Namun jika mereka tak memiliki skema pembayaran utang, dipastikan Garuda masuk pailit.

Hari ini, Menteri BUMN Erick Thohir memperoleh karangan bunga dari karyawan Garuda indonesia di kantornya. Erick diminta untuk menyelamatkan penerbangan BUMN itu. 

Erick hanya punya dua opsi. Menyelamatkan Garuda atau membiarkan Garuda pailit. Jika ingin menyelamatkan Garuda, minimal Erick harus mempersiapkan dana segar senilai Rp 100 triliun. Rp 70- triliun untuk membayar utang setengahnya, sisanya untuk suntikan dana operasional agar Garuda bisa terbang lagi. Saat ini seluruh utang Garuda ke My Indo Airlines dikabarkan mencapai Rp 140 triliun. Belum yang lainnya. 

Total utang Garuda setiap bulan terus membengkak. Pada kuartal III tahun lalu saja utang Garuda mencapai Rp 148,16 triliun. Naik sebesar 177% dibanding tahun sebelumnya 2019 yakni sebesar Rp 53,5 triliun. Utang Garuda, jika tidak dibayar, sesuai perjanjian, akan terus membengkak sehingga Garuda terjebak dalam hutang beranak pinak.  Tidak membayar utang, sebulan dikenakan penalti dan bunga Rp 1 triliun.

Garuda dipaksa memakai masker di saat pandemi yang menimpa semua penerbangan

Persoalan lain, jika Garuda diselamatkan, bukan hanya menguras uang negara, melainkan juga, saat ini bukan waktu yang tepat bagi penerbangan manapun melakukan operasinya. Lion Air, Air Asia dan banyak penerbangan lain, menjerit minta pertolongan dan membatasi jumlah operasionalnya. 

Besok, Jumat tanggal 13 Agustus adalah RUPS Garuda Indonesia. Ada beberapa opsi pembahasan tentang masa depan Garuda yang bisa  diambil.

Opsi1 : Pemerintah atau BUMN akan memberi pinjaman pada Garuda. Tapi jika benar disuntik, selain tuman, beban Garuda akan semakin besar. Garuda akan kesulitan beroperasi dibebani utang melimpah. Perlu Dirut yang punya keahlian manajerial tangguh dan gagasan cemerlang dalam menjalankan operasional. Siapa ?

Opsi2: Membiarkan Garuda pailit, lalu membuat perusahaan maskapai penerbangan baru dengan strategi yang lebih cerdas. Tidak mengulang kesalahan terbesar yakni terletak pada beaya sewa yang dimarkup alias termahal sedunia. Persoalannya, siapa pejabat yang tidak korup yang mau kerja di Garuda ? Mungkin orang setingkat Ignasius Jonan atau Tanri Abeng. Saya tidak tahu persis, siapa yang paling layak duduk sebagai Dirut Garuda dalam kondisi seperti ini.

Opsi3: Berjuang dalam masa PKPU dengan melakukan negosiasi habis-habisan dengan pihak kreditur utama menyangkut utang, sewa dan kontrak kerja. Persoalannya kalau kreditur tak diberi pembayaran hutang atau kompensasi yang membuatnya aman, pasti akan ditolak.

Sejarah tak pernah melupakan perjuangan para awak pesawat. Baik pilot, pramugari dan pelanggan Garauda. Hanya karaena salah kelola oleh Direksi, brand Garuda yang telah mengangkasa di udara bebas kini di ujung tanduk.

Opsi4: Garuda Indonesia divestasi. Perusahaan ini dikeluarkan dari daftar BUMN, dikelola swasta atau anak perusahaan, lalu dilakukan diversifikasi usaha seperti mengurangi jalur rugi, gaji dipotong, karyawan dikurangi dan menggenjot pemasukan lain seperti iklan atau kerjasama dengan berbagai perusahaan. Ini yang paling masuk akal.

Ini empat opsi yang tidak mudah menurut saya, tapi layak diperjuangkan. Terutama yang terakhir.

Jika opsi-opsi ini tidak jalan, ya berharap saja, tiba-tiba muncul orang seperti Tony Fernadnez ( AirAsia), Richard Branson ( VirginAirline) atau JackMa (ALiBaba) dan orang yang duitnya tak ada serinya, yang berani ambil alih dan punya ide besar tentang penerbangan Indonesia. Inipun saya agak pesimis, mengingat bos AirAsia dan Virgin Airlines ini juga tengah pusing mengelola penerbangannya sendiri di saat pandemi seperti ini. Mereka banyak merumahkan karyawannya dan sedang pusing menghitung pesangon.

Terimakasih Tim Garuda atas pelayanan terbaiknya. Hanya keberuntungan dan keseriusan yang mampu mempertemukan kembali Tim Garuda dan pelanggan setianya.

Jika di RUPS tak ada pembahasan tentang skema penyelesaikan utang Garuda dan cara menjawab PKPU dengan cerdas, maka mungkin kita tidak lagi memiliki penerbangan BUMN yang pernah dibanggakan.  

Jika tidak, apa boleh buat jika Indonesia tak lagi punya penerbangan bernama Garuda Indonesia. Mungkin, besok harus mencari model pesawat Garuda untuk kenang-kenangan bahwa kita pernah bangga punya penerbangan yang heibat dalam menjaga brand, namun menyerah pada kekeliruan manajemennya…

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.