Glass Child dan Penerimaan Mau Tak Mau

Glass Child dan Penerimaan Mau Tak Mau

Mau tak mau, glass child harus diakui sebagai seorang anak, sekaligus manusia

“Tim, kenapa kamu nggak boleh makan kue kacangnya? Nggak boleh sama Ibu?”

“Bukan begitu, Bu Guru. Saya jadi tidak biasa makan semua makanan yang ada kacangnya, karena di rumah kami semua tidak makan kacang. Adik saya alergi berat pada semua olahan kacang dan bahaya banget kalau dia menemukan kacang, bahkan yang remah-remah sekalipun, lalu memakannya. Bisa tercekik dan masuk IGD.”

Familiar dengan situasi semacam itu? Posisi Timmy dalam keluarga tersebut dikenal dengan istilah Glass child.

Siapakah Glass Child ini? Untuk teman dan sahabat yang mungkin sudah membaca buku Atma dan Akcaya karya saya, yang mengungkapkan sibling relationship anak autistik dan yang non autistik, beberapa bagian buku ini membahas tentang hal tersebut.

Faktanya, bungsu saya memang salah satu di antaranya. Kakak lelakinya autis, punya keterbatasan untuk diajak komunikasi, dalam beberapa hal si bungsu setiap hari belajar tentang permakluman kondisi kakaknya. Meski saya dan ayahnya tak pernah meminta.

Dulu sekali, pernah ibu saya keceplosan memberitahukan si bungsu untuk seolah menjadi ‘pegangan’ kakaknya karena dia tidak berkebutuhan khusus. Saya segera menegur untuk tidak melakukan itu di waktu-waktu berikutnya, karena seperti membebankan hal yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.

Saya juga teringat seorang teman, yang menglorifikasi adik dari seorang remaja berkebutuhan khusus. Jadi, si adik yang tak punya kendala dalam hal apapun, tetiba disematkan harapan besar untuk menjadi yang terbaik, karena nantinya diminta bertanggungjawab terhadap kehidupan kakaknya (mungkin dengan pemikiran setelah ayah ibunya berpulang).

Hal yang terjadi kemudian, si adik demikian membenci kakaknya, dan  dengan sadar maupun tidak, suka melukai hati kakaknya. Anak itu merasa terbeban dengan hal-hal yang seolah musti dipertanggungjawabkan.

Bila asumsi kita Glass Children adalah anak-anak yang rapuh dan mudah terluka hatinya, faktanya mereka bahkan tampak kuat dilihat orang awam, ‘tampak’ tetapi tak berarti sudah pasti kuat juga hatinya

“Saya tahu, bagaimana bedanya antara kakak saya yang sangat tertutup dan tak banyak bicara dengan saya, bila kami dimarahi orang tua. Kakak saya akan ditegur sekadarnya. Kalau saya, bisa berpanjang-panjang kata. Dan itu nggak enak rasanya,” ujar Niken, bukan nama sebenarnya.

Glass children merujuk pada istilah untuk anak-anak yang bertumbuh dengan saudara kandung dengan kondisi khusus dan menyita perhatian orang tua.

Misal, punya kecacatan fisik dan mental, alergi berat akan makanan atau hal lain, memiliki kebutuhan khusus, mengidap penyakit kronis dan mematikan, punya perilaku yang destruktif maupun seperti cerita Niken barusan. Anak dengan karakter ‘fragile’ menurut pikiran orang tuanya.

Amatilah perbincangan berikut.

Anak : Ma, aku laper. Buatin nasi goreng, dong.

Ibu : Duh, Mama nggak bisa. Cari makanan di kulkas sana ya.. Mama lagi sibuk temenin kakakmu latihan terapinya.

Anak : Tapi …

Ibu : Ratna, kamu kan tahu. Kak Ratih perlu berlatih biar berjalannya lancar.

Anak ( Kak Ratih lagi, padahal aku anak Mama juga.) *Berbicara dalam hati.

Situasi yang umumnya terjadi tak hanya sekali, bisa membuat anak merasa orang tua saya sudah kewalahan mengasuh didik saudara kandung yang memiliki kondisi khusus. Keberadaan saya menjadi seperti ada dan tiada karena fokus perhatian keluarga hanya kepada kakak atau adik yang memiliki kebutuhan khusus itu.

Belum lagi bila anak biasa diminta mengalah, mengerti dan paham; padahal usia mereka mungkin masih dalam tahap mencerna semua proses itu.

Apa gejala dari Glass Child Syndrome  ini?

1. Mereka biasanya merasa sangat diabaikan secara emosional,

2. Kerap diposisikan untuk menjadi bebas masalah dan sempurna,

3. Ditempatkan untuk mengambil tanggung jawab dan role sebagai ‘orang tua’ dalam keluarga di usia muda,

4. Memiliki kecenderungan untuk menjadi People Pleaser – menyenangkan orang lain ,

5. Semua ini berjalan, dengan minimal pengasuhan yang cukup dan dukungan dalam tahun-tahun perkembangan mereka.

Jadi, sejak usia muda, mereka sudah dihadapkan dilema. Harus selalu mengalah, sekaligus dipersiapkan menjadi berprestasi tinggi dan menjadi tumpuan harapan orang tua. Mereka tak boleh atau tak diinginkan bersinggungan dengan masalah.

Beberapa di antaranya bahkan merasa bersalah dan mempertanyakan, apakah dirinya yang menyebabkan saudaranya punya kekurangan. Terutama bila ucapan orang kepadanya, “Kamu tuh harusnya bersyukur, kamu lebih sempurna, lebih normal daripada kakak.”

Pertanyaan yang muncul dan mengikuti pertanyaan selanjutnya yang diajukan kepada keluarga dengan anak berkebutuhan atau berkondisi khusus. Saya pun mengalami hal ini. “Tapi, maaf, Bu. Adiknya Arsa nggak apa-apa, ‘kan? Maksud saya nggak autis juga?”

Beberapa Glass Child ini juga diliputi kecemasan setiap hari, kalau-kalau tindakan dirinya maupun bukan menyebabkan kondisi si kakak atau adik ini memburuk. Tentu karena cemas disalahkan atau dipojokkan lagi.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan bila dalam keluarga ada kondisi berkebutuhan khusus dan ada glass child/ren?

• Cinta yang setara untuk semua anak. Walau kita mengingkari tentang tidak bersikap pilih kasih, anak jelas melihat bagaimana kita nemiliki perbedaan sikap kepada keduanya.

• Buatlah waktu yang berkualitas, meski sebentar kepada setiap anak, tanpa terkecuali. Agar glass childpaham mereka pun tetap memiliki tempat di hati orang tua dan sibling-nya.

• Tanyakan kabarnya, obrolin bagaimana perasaannya. Sebuah hal yang sederhana, tetapi bermakna.

• Mengajaknya mendiskusikan kondisi si kakak atau adik, termasuk kemungkinan terburuk, apa yang harus dilakukan bila kritis atau meninggal, termasuk apa yang mereka rasakan bila dihadapkan pada situasi itu.

• Sering melibatkan kegiatan antar sibling , bisa rekreasi bareng, olahraga ringan bersama agar mereka merasa masih menjadi bagian dari keluarga.

Mudah-mudahan dengan orang tua banyak berinisiatif melakukan hal yang saya sebutkan di atas, para Glass Children ini merasa diakui keberadaannya, baik sebagai anak dan tentu saja sebagai manusia.

SEPUTAR CHEATING: Hal Penting Lain Dari Sekedar Mengurus Perempuan atau Lelaki Lain

Parenting 101: Rasa Cinta, Kagum, Suka, dan Sayang, Tak (Seharusnya) Menyakitkan

Berbagi Virus Kebaikan  

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta