Guru Bangsa yang Menghidupkan Agama

Buya Syafii Maarif di Yogyakarta - Setpres

Sosok Buya Ahmad Syafii Maarif patut mendapat gelar Guru Bangsa,  tidak karena bergelar Profesor, Doktor, Haji, dan mengabdikan hidupnya untuk pengetahuan untuk kepentingan umat dan bangsa. Melainkan karena laku teladan yang ditunjukkannya dalam sikap dan kehidupan sehari hari. Menjadi agama yang hidup . foto SetPres

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

BUYA SYAFII MAARIF mendapat gelar Guru Bangsa. Sesuai falsafah dari sebutan “guru”  – digugu dan ditiru, dipatuhi dan dijadikan teladan  – Buya Ahmad Syafii Maarif menunjukkan hakekat guru sejati dalam perjalanan kecendekiawanan dan keulamaannya.

Buya Syafii Ma’arif adalah sosok “agama yang hidup”. Dialah ulama yang menghidupkan agama, bukan ulama mencari penghidupan, kedudukan, jabatan dan numpang hidup dari agama – sebagaimana para pendakwah dan ulama  pada umumnya.

Sebagai guru, beliau juga bukan semata mata mengajar di depan siswa dan mahasiswa,  menulis banyak risalah di media – sehingga menjadi buku. Serta melahirkan banyak pemikiran yang menjadi pengetahuan kaum terpelajar dan cendekiawan. Namun yang lebih utama karena Buya Syafii mempraktikkan apa yang dia ajarkan dan dituliskan.

Selama ini, kita mudah menemukan orang yang fasih bicara agama, paham agama, tampil dan “nampak”  beragama,  namun hanya berhenti di praktik ritual. Formalitas.  Sedikit yang mempraktikan kemuliaan ajarannya dalam kehidupan nyata. 

Bahkan melakukan hal yang sebaiknya. Melakukan tindakan tercela dan jauh dari kemuliaan agama.  Sedangkan beliau beragama yang sesungguhnya. 

Sebagai cendekiawan, Buya Syafii telah menulis lebih dari puluhan buku yang sebagian besar mengulik isu pembumian Islam, pendidikan, hingga kebhinekaan. 

Dari beberapa karyanya, di antaranya bertajuk Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi tentang Percaturan dalam Konstituante (1985), Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (2009), Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (1993), Membumikan Islam (2019) dan karya-karya lainnya. Buya Syafii merupakan sosok ulama dan pemikir Islam kontemporer.

Melalui karya-karya dan kontribusinya pada tahun 2008 Buya Syafii juga dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengenang Buya Syafii menjadi guru dan juga berperan menghantarkan dirinya memperoleh beasiswa untuk studi lanjut di McGill University dan mengajar di School of Law, Harvard University.

Kini, tulisan-tulisan dan pokok pokok pikiran Buya Syafii menjadi prasasti dari sosok guru bangsa yang rasanya juga harus kita jalankan sebagai anak bangsa.

Buya Syafii Maarif patut mendapat gelar Guru Bangsa,  tidak semata mata sebelumnya bergelar Profesor, Doktor, Haji, dan selama hidupnya, namun karena Buya mengabdikan pengetahuan dan intelektualnya untuk kepentingan umat dan bangsa. Juga laku teladan yang ditunjukkannya dalam sikap dan kehidupan sehari hari.

Jabatan jabatan mentereng yang pernah dipercayakan kepadanya tak menjadikannya lupa diri, gelap mata, sebagaimana ulama bergelar profesor dan doktor lainnya. Beliau bisa kembali ke kehidupan awal yang sederhana tanpa beban – setelah tak menjabat lagi.  Tidak nampak ada post power syndrom.

MUHAMADIYAH adalah organisasi besar keagamaan yang memiliki aset ratusan triliun, mengelola lembaga pendidikan,  ribuan sekolah dan universitas, selain rumah sakit, serta lembaga bisnis. Bahkan menguasai 21 ribu hektar tanah.  

Selaku Ketua Umum (1998 – 2005), Prof. Dr. Buya Ahmad Syafii Maarif berhak mendapatkan fasilitas mewah di sana. Nyatanya Buya menolaknya.

Di balik sosoknya yang pernah menjadi orang nomor satu di Muhammadiyah, Buya menjalani hidupnya dengan sederhana. Kisah kesederhanaan Buya terungkap dari testimoni banyak pihak, juga foto foto tentang kebersahajaannya dalm menjalani kehidupan.

Buya adalah orang yang tidak mau diistimewakan. Kultur egaliternya itu sangat kuat sehingga kalau mengantre Buya, mengantre sesuai dengan nomor, tidak mau melewati. Tetap mengantre saat berobat di klinik atau rumah sakit, juga saat mengurus paspor, ataupun ketika berada di bank.  Bagi Buya semua sama, semua orang punya hak yang sama.  Beliau masih ikut antre di klinik PKU, dan menolak digratiskan saat berobat. Beliau menunjukkan sikap sabar sebagai pasien, sebagaimana warga yang lainnya.

Hingga masa pensiunnya, Buya punya relasi kuat dengan pusat kekuasaan, namun rela naik KRL menuju Istana Bogor. Duduk bersama penumpang lain sejak di stasiun Tebet hingga Bogor. Beliau menolak difasilitasi kendaraan.   

“Buya selalu merasa tidak enak dan tidak mau merepotkan teman-teman MI (Maarif Institute), terutama supir MI, karena hari Sabtu adalah hari libur. Padahal di MI ada sistem lembur dan sopir MI disiap-sediakan untuk mengantar-jemput Buya kapan pun,” kata Darraz. Tawaran itu ditolak oleh Buya Syafii karena ia tidak mau merepotkan orang lain dan memilih menggunakan kereta menuju Bogor.

Buya Syafii Maarif di Stasiun KRL Tebet, dalam perjalanan menuju stasiun Bogor dan Istana Bogor. foto: FB

Semasa hidupnya, Buya Syafii juga pernah menolak tawaran dari Presiden Joko Widodo untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan alasan yang sederhana, usianya tak lagi muda. “Kemarin Deputi SDM Setneg menelepon saya, langsung saya jawab saya tidak bersedia. Saya ini sudah berumur,” ujar Buya pada 17 Januari 2015.

Amanah yang diberikan sebelumnya kepadanya dilaksanakan dengan baik, untuk selanjutnya kembali menjadi orang biasa, menjadi ulama, yang mengajar dalam laku kehidupannya yang bersahaja. Sejak 28 Februari 2018 hingga akhir hayatnya, Syafii Maarif menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Di balik kesantunan dan kesabarannya, Buya tak ragu melawan arus untuk sesuatu yang dirasanya benar. Dia tampil sebagai pembela Ahok, meski harus berhadapan dengan mayoritas ulama konservatif yang berseberangan dengannya. Tanpa ragu dia membela Basuki Ahok Tjahaja Utama, saat ulama lain menyudutkannya.  

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii Maarif meninggal dunia pada Jumat (27/5) pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan kepergian Syafii Maarif merupakan kehilangan bagi Yogyakarta. Sultan mengenang sosok Syafii Maarif sebagai pria sepuh berwawasan luas.  “Tapi lembut di dalam membangun komunikasi dengan kearifannya,” kata Sultan.  – dms.

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.