IHWAL NAMA DALAM CERPEN

MENULIS ITU ASYIK (17): Memilih Nama

Oleh BELINDA GUNAWAN

Seseorang bisa memiliki sederet nama, apalagi bila semasa kecilnya ia imut dan nggemesin. Keponakanku memiliki nama resmi Amelia Jonan, dan nama itulah yang dipakainya ketika ia tumbuh dewasa dan bekerja di sebuah bank swasta kenamaan. Tapi sehari-hari ia biasa dipanggil Mimi hingga nama resminya itu jadi kalah tenar. Suatu kali ia  menunggui rumahku ketika aku dinas ke luar kota. Selama menginap ia berangkat ke kantornya diantar oleh supir kantorku. Sorenya, supir menjemputnya lagi. 

Apa yang terjadi ketika pak Supir mengatakan kepada pak Satpam, bahwa ia datang menjemput Mbak Mimi? “Gak ada yang namanya Mimi,” kata satpam. Supirku tak kalah galak. “Bagaimana mungkin gak ada, wong saya yang mengantarnya ke sini tadi pagi?” Pas saat itu Mimi keluar. “Saya Mimi,” kata Amelia J,  tersenyum-senyum. Kesalahpahaman ini  terjadi gara-gara nama resmi dan nama sehari-hari jauh berbeda.  

Mungkin di keluarga Anda begitu juga. Nama panggilan si kecil berkembang dan bertambah, berubah jauh dari aslinya di akte kelahiran. Ada nama depan, nama tengah, nama baptis, nama rumah, nama julukan, nama sayang, nama plesetan, nama ledekan. Makin banyak nama, makin seru. Tapi tentunya tidak semua nama itu dikenal semua kalangan, bisa saja satu nama populer di satu komunitas, tapi  tidak rings the bell di lingkungan lainnya.

Itu dalam kehidupan nyata, dan baik-baik saja. Tapi dalam cerpen yang jumlah katanya terbatas,  di mana kontak antara penulis dan pembaca hanya sekilas, di mana pembacanya (diharapkan) datang dari kalangan luas, lain lagi aturan mainnya. Emi ya Emi, tidak ujug-ujug berubah jadi Nyonya Herdiman, Bu RW, Nyah Katering, Mama Danis, Ibunya Rini, atau Oma Bawel. Bila gonta-ganti begitu tentu pembaca jadi bingung. Kecuali, jika penamaan itu perlu dalam  kaitan cerita dan ada keterangan jelasnya.

Soal nama akui juga, bahwa pada umumnya nama memiliki jenis. Ada nama-nama yang lazim dipakai wanita, ada pula yang biasa dipakai pria. Walaupun ada wanita yang dipanggil Alex (singkatan dari Alexandra) dan pria yang dipanggil Yuli (kependekan dari Yulianto), dalam fiksi pilihlah nama lain yang lebih jelas jendernya.

Baru-baru ini aku membaca sebuah cerpen yang tokohnya bernama Chandra,  dan satunya lagi Yasni. Nama Chandra memang bisa  disandang laki-laki atau perempuan, tetapi  selama beberapa menit membaca aku masih bimbang …  Chandra ini perempuan atau laki-laki, ya?  Apalagi ia berdampingan dengan seorang bernama Yasni, yang notabene mirip nama perempuan.  

Nah … agar tidak membuat pembaca mengerutkan alis, usahakan dari awal kita sebagai penulis sudah memberi gambaran yang lebih pas tentang who’s who kita, walaupun tentunya tidak perlu blak-blakan seperti: “Namaku Chandra dan aku wanita.” Dalam hal ini, apa salahnya kita memilih nama  yang lazim, sesuai jender si karakter.

Tina tentu si manis, dan Tino si ganteng.

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.