Indonesia Telah Melewati Puncak Prestasi Sebuah Bangsa? (2)

Yustedjo Tarik - Rudy hartono - Utut Adianto

Oleh HERMAN WIJAYA

PADA masa itu semua orang, terutama generasi muda terpacu untuk menjadi orang berprestasi. Di bidang olahraga kita mengenal nama-nama Yustedjo Tarik, ada Ronny Pattinasarani (sepakbola), dan tim sepakbola Indonesia ketika itu tidak terlalu buruk.  

Tahun 90-an dan Yayuk Basuki (tennis), Utut Adiyanto (catur), trio Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani (panahan), Maria Natalia Loda (lompat jangkit), Susi Susanti (bulutangkis). Tahun 2000an kita masih memiliki Dedeh Irawati (lari gawang), Lindswel (wushu).

Di bidang bulutangkis, jangan ditanya lagi. Indonesia selalu diperhitungkan di tingkat dunia sejak era Tan Yoe Hok, Rudi Hartono, sampai Taufik Hidayat. Sejak Susi Susanti sampai Liliana Natsir.

Dengan kembalinya BJ Habibie ke Indonesia, Indonesia yang telah lama merintis industry penerbhangan sejak era Nurtanio, mencoba membuat pesawat sendiri, hingga lahirlah pesawat pertama yang bisa mengudara CN 250 Gatotkaca PA01.

Terlalu banyak orang-orang berprestasi yang telah mengisi kemerdekaan Indonesia di masa lalu, dalam berbagai bidang. Apalagi bila kita mundur ke masa Soekarno masih muda. Tak mungkin dimuat semua dalam tulisan ini.

Indonesia sebenarnya berpeluang memiliki banyak ahli di berbagai bidang, jika Presiden Soeharto yang berkuasa sejak menjatuhkan Bung Karno tidak melakukan pemotongan satu generasi, tidak menghalangi anak-anak muda Indonesia yang disekolahkan oleh rejim Orde Lama ke berbagai negara di Eropah Timur, untuk kembali.

Ketika itu Soeharto melarang mereka kembali ke Indonesia jika tidak menyatakan kesetiaan kepada Orde Baru atau stigma tertentu. Padahal rejim Orde Lama menyekolahkan  mereka untuk mempraktekan ilmunya kelak untuk kemajuan Indonesia. 

Di masa Orde Baru semuanya dibuat mudah. Kebutuhan dalam negeri yang berkaitan dengan teknologi, diimpor atau mengundang investor asing untuk membuka pabrik-pabrik di Indonesia. Pemerintah tidak berusaha memperbaiki mutu pendidikan, meningkatkan skill masyarakat,  maupun membangun moral dan spiritual bangsa.

Kebiasaan itu berlanjut hingga saat ini. Sementara pemerintah fokus pada pembangunan fisik yang dulu tercecer, lupa membangun manusia Indonesia. Mutu pendidikan tetap rendah. Akibatnya Indonesia makin miskin anak-anak muda berprestasi atau yang melahirkan karya kreatif.

Saat ini yang banyak adalah orang-orang yang berusaha mengambil jalan pintas untuk meraih sesuatu, dengan tujuan akhir menguasai materi! ***

About Herman Wijaya

Wartawan, Penulis, Fotografer, Videografer