Jangan Membagikan Informasi Yang Belum Tentu

Seide.id – Seorang sahabat membagikan informasi pengobatan kanker dengan bahan sederhana. Waktu saya bilang tolong jangan kirimkan informasi yang tidak jelas seperti itu kepada saya.

Hal itu amat bertentangan dengan sikap saya ingin mencerdaskan teman-teman dan masyarakat dengan informasi yang benar saja, dan menjadikan semua orang cerdas bersikap skeptis terhadap segala yang tidak benar. Sedihnya, jawab teman yang membagikan informasi yang tidak jelas itu “Kan hanya copas.”

Beberapa kali saya angkat bagaimana selayaknya kita bersikap cerdas untuk tidak begitu saja mendengar, apalagi meyakini dan meniscayai, lalu menerima sesuatu yang belum jelas kebenaran ilmiahnya.

Berkali-kali saya ungkap, kita harus bersikap kritis, tidak gampang percaya saja, apalagi untuk sesuatu yang belum ada bukti ilmiahnya (evidence based). Dunia medis perlu waktu lama dan biaya tinggi untuk menemukan suatu obat, dengan bukti ilmiah yang jelas. Hanya bila suatu temuan terapi ataupun healing yang ada bukti ilmiahnya, dunia medis, pihak dokter laik berpikir masuk akal untuk berpihak terhadapnya.

Pasien kanker kita banyak yang terlambat ditolong medis hanya karena mampir-mampir dulu ke orang pintar, atau memakai ramuan yang entah apa. Alih-alih sembuh, malah setelah beberapa tahun mengandalkan ramuan tak jelas itu, kankernya berkembang menjadi stadium yang dunia medis sudah angkat tangan.

Kalau saja sejak awal kanker yang masih stadium awal langsung ditangani medis, nasibnya akan berbeda. Copas yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab yang kita bagikan itu yang berpotensi menyesatkan masyarakat, ikut bertanggung jawab atas ketersesatan dalam berobat itu.

Sekali lagi tidak ada cara sederhana untuk menyembuhkan penyakit. Kalau bukan berasal dari profesi medis, tidak ada latar belakang medis, sebuah tawaran terapi datang dari pihak yang tidak berkompeten seperti itu, tidaklah laik kita terima. Bagaimana di Indonesia pengobatan alternatif apa saja membuat masyarakat pasien menjadi sesat dalam berobat. Bukan dokter menganjurkan obat, atau cara mengatasi masalah medis, hanya terjadi di Indonesia. Di negara maju, bukan dokter sekadar mengajurkan orang lain minum suatu obat saja, ada hukummnya. Di sini terapi alternatif masih terus hadir di beberapa stasiun TV.

Sudah saya ungkap lebih satu kali bukannya dunia medis tidak menerima penyembuhan atau pengobatan alternatif. WHO menerima terapi atau healing alternatif yang masuk akal medis atau tergolong complementary alternative medicine (CAM).

Namun tidak semua, tidak serta merta yang berjuluk alternatif, bisa masuk akal medis. Hanya yang masuk akal medis, yang diterima sebagai CAM. Accupuncture, accupressure, homeopathy, untuk menyebut beberapa contoh. Namun tidak kursi listrik, atau kursi magnet atau gelang, atau kasur, atau sandal apa yang mengkalim bisa menyembuhkan apa saja. Makin besar omongan klaimnya bisa menyembuhkan penyakit apa saja, makin besar bohongnya karena tidak masuk akal medis.

Ihwal memercayai, meyakini, meniscayai sesuatu yang berseliweran di media sosial, hendaknya kita cerdas melakukan seleksi. Hanya bila sumbernya pihak yang berkompetensi, sebut saja misal, Mayo Clinic, dan dari journal medis resmi, yang laik diterima kebenaran ilmiahnya.

Di antara temuan medis sekalipun tidak semuanya sahih (valid), kalau ada tujuan bisnis farmasi di balik laporan ilmiahnya. Kalau suatu informasi medis yang menyatakan bahwa terapi atau healing hanya bersifat “katanya”, “kata orang”, “kata internet”, “kata tulisan di koran”, sebaiknya kita perlu skeptis.

Bagi teman-teman, sahabat, membagikan sesuatu apa pun, apalagi yang bersifat ilmiah, ihwal terapi dan penyembuhan, hendaknya tidak gegabah. Copas yang belum jelas kebenarannya, sekadar renungan saja pun perlu kita pertimbangkan bila bermaksud baik ingin membagikannya, karena belum tentu memberi maslahat bagi orang lain, kalau bukan malah petaka.

Dalam hal berbagi apapun hukumnya sepatutnya mempertimbangkan hal demikian:
(1) Apakah yang hendak dibagikan suatu kebenaran?
(2) Kalau suatu kebenaran apakah perlu kita bagikan?
(3) Kalau dinilai perlu kita bagikan apakah ada manfaatnya bagi orang banyak?

Saya setuju dengan pertimbangan itu. Dengan pertimbangan berkepatutan demikian itu selama ini saya berbagi informasi, komunikasi, dan edukasi.

Salam sehat,
Dr Handrawan Nadesul

Kebodohan Atau Nasib?

About Dr Handrawan Nadesul