Seide.id – Karapan Sapi merupakan sebuah kesenian tradi yang berasal dari Madura.
Seperti namanya, kesenian ini memanfaatkan sapi sebagai medianya.
Karapan Sapi sendiri merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang dimana pada lomba tersebut, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan sapi lain.
Lantas, bagaimana sejarah Karapan Sapi?
Munculnya Karapan Sapi dilatar belakangi oleh ketidak suburan tanah di daerah Madura sehingga menghambat aktivitas pertanian.
Melihat kondisi tersebut, Pangeran Katandur yang merupakan ulama dari Sumenep memiliki solusi agar tanah menjadi subur dengan memperkenalkan cara bercocok tanam menggunakan sepasang bambu yang disebut “nanggala” atau “salaga”.
Sepasang bambu tersebut yang nantinya akan ditarik oleh dua ekor sapi.
Pangeran Katandur mempopulerkan Karapan Sarapi pertama kali di Madura pada abad ke-13 tepatnya pada tahun 1248 di Desa Parsanga, Pulau Sapudi, Sumenep.
Melihat gagasan Pangeran Katandur tersebut, masyarakat secara perlahan mengikuti jejaknya dalam menjalankan kesenian Karapan Sapi.
Tanah yang awalnya gersang di Pulau Sapudi berubah menjadi subur sehingga bisa dimanfaatkan untuk menanam padi.
Pada akhirnya Karapan Sapi yang dipelopori Pangeran Katandur bisa eksis hingga sekarang.
Pangeran Katandur yang diketahui merupakan cucu dari Sunan Kudus memiliki nama asli Habib Ahmad Baidawi.
Beliau dipanggil dengan sebutan Pangeran Katandur karena beliau berdakwah dengan “nandur” atau menanam.
Sehingga beliau berdakwah sambil memajukan pertanian masyarakat setempat.
Keturunan dari Pangeran Katandur ada yang menjadi pemimpin Kerajaan Sumenep yakni Bendoro Saud, beliau raja yang ke-29 pada masa kepemerintahan tahun 1750 – 1762.
(Khoirunnis Salamah)





