KARENA PAPA SAYANG KAMU

Cerpen



Kriiiing…. Aku bergegas mengangkat gagang telepon.

Belum lagi aku mengucap halo suara itu sudah bertanya, “Mama?” Mendengar suaraku ia melanjutkan. “Kok Papa…”

Kalau Karin menggunakan telepon rumah dan bukan video call atau skype, itu artinya ia tidak mau wajahnya kelihatan. Ada apa ini?

“Mama lagi ke minimarket, Rin. Ngomong sama Papa aja ya?”

“Mmmm ga usah deh.”

“Kok gitu?”

“Papa ngomongnya nggak enak. Pasti kalau aku cerita, Papa akan bilang, ‘Apa kataku?’”

Wah, aku dikritik pedas oleh anak sendiri….

“Belum tentu, Rin.” Lalu kusambung cepat, “Oke, Papa janji tidak akan bilang begitu.”

Diam. Lalu putri bungsuku yang kuliah di Australia itu berkata, “Pa, aku…”

“Ya…?”

Lalu katanya dalam satu tarikan napas, “Daddy, I broke up with him.”

Deg. Apa kataku? Kuliah baik-baik dan jangan pikirkan cowok dulu. Pikiranku ramai menyalahkan dia. Tapi selintas aku membayangkan dia: kecil, ringkih, jauh dari orang tua, sendirian, bingung, sedih….

“Papa?”

Yes, dear?”

“Papa gak bilang ‘I told you so’? Tidak menyalahkan aku?”

“Oh, tidak, Sayang,” kataku.

Swear?”

Swear. Kamu mau cerita pada Papa?”

“Mmmm… Pa, mulanya kami hanya berselisih paham. Please don’t interrupt. Biar aku cerita sampai tuntas.”

Aku memasang lakban imajiner menutupi mulutku. Paling-paling aku ber-hmmm supaya ia tahu, aku masih mendengarkan.

Rupanya percik-percik pertentangan pendapat mulai muncul antara Karin dan Eric, setelah mereka “jalan” dua-tiga bulan. Maklum, dua budaya, dua latar belakang, ditambah usia yang masih belum mantap.

Eric bukannya menyelesaikan masalah, malah mulai menjauh dan berulah. Ketika Karin mengancam akan putus, dia bukannya minta maaf atau mencari penyelesaian, melainkan secara demonstratif mendekati gadis lain.

“Aku tidak mau diperlakukan begitu, Pa,” anakku mengakhiri ceritanya yang lumayan panjang.

Sudah lama ia tidak bercerita sepanjang ini kepadaku. Aku memaknainya sebagai fase pra-remaja, kemudian remaja, dewasa muda. Tapi mendadak melintas pikiran, mungkin aku bukan ayah yang tepat untuk curhat. Aku terlalu banyak mengucapkan “apa kataku” yang ia sebal. Ketika ia jatuh dari motor, apa kataku. Ketika rapornya jelek, apa kataku. Ketika ia dikhianati sahabatnya, apa kataku.

Ya, aku memang ayah yang cerewet. Aku sering melarangnya ini dan itu, memperingatkannya begini begitu, membatasinya supaya selalu hati-hati. Tapi itu semua karena ia anak perempuan, itu semua karena sayang….

“Papa sudah boleh ngomong?” tanyaku mengisi pause yang agak lama.

Dia tergelak kecil. Suatu tanda yang baik. “Ngomong saja, Pa.”

“Karin, perasaanmu gimana?”

“Pa, aku sedih. Marah juga. Gengsi juga.”

“Kamu menyesal?”

“Banget, Pa. Aku menyesal sudah ‘jalan’ sama dia. Aku menyesal berharap dia akan selalu baik padaku. Tapi…ah sudahlah, Pa. Dari kejadian ini aku melihat sisi lain Eric. Tidak cocok, Pa.”

“Anak pinter.”

“Ah, Papa…”

Lalu, “Pa, lelaki jahat ya?”

“Ah, masa?”

“Lelaki tidak setia, ya?”

“Ah, masa?”

“Kok jawabnya begitu terus sih?”

“Habis harus jawab gimana, Yang?”

“Papa jawab gini dong: tidak semua lelaki jahat dan tidak setia.”

“Tuh, kamu sudah bisa menjawab sendiri.”

Diam lagi. Aku menunggu lagi. Lantas, aku terlonjak ketika mendengar ia berkata, pelan-pelan seperti mengeja, “Papa lelaki. Papa baik dan setia.”

Aku tersenyum lebar bak Joker. Mungkin mataku masih kelihatan sedih karena anak gadisku mengalami sengsaranya putus cinta, tapi bibirku tersenyum mengingat ia bisa menggunakan logika dan pelan-pelan mengatasi luka hatinya.

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.