Seide.id – Jenuh baca tulisan politik di mana-mana semingguan ini saya lagi kangen baca buku kayak kebiasaan dulu. Maka saya baca-bacalah sisa koleksi lama yang masih tersimpan rapi di rak buku.
Dimulai dengan novel Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari), Sirkuit Kemelut (Ashadi Siregar), lalu Raumanen (Marianne Katoppo). Ternyata tetap mengasyikan baca buku cetak.
Buku keempat yang sedang saya baca adalah kumpulan tulisan Muharyo, “Sepanjang Jalan Kenangan”. Tulisan kocak ala situasi komedi, berisi kritik membangun, yang bisa bikin kita malu hati, tapi juga jadi introspeksi diri. Meski latarnya jadul banget, ternyata masih relevan kalau dikaitkan dengan situasi sekarang.
Nah selagi asyik-asyiknya baca buku, pas iseng diseling ngintip berita di Google, eh ada kabar novelis legendaris Marga T. meninggal dunia.
Maka saya obrak abriklah koleksi novel lama mencari karya beliau “Karmila”, pingin dibaca lagi juga. Ternyata eh ternyata entah ke mana, di mana, dan pernah dipinjam siapa, saya lupa.
Padahal sebelum dibukukan, dulu saya bacanya di harian Kompas sebagai cerita bersambung. Dan biar bacanya gak icrit-icrit, tiap sore cerber itu saya gunting. Saya kumpulin sampai selesai, seperti cerber yang lain, baru deh nanti baca sambil santai.
Dulu saya mengira Marga T. orang Batak. Kan cuma Batak yang suka nyebut-nyebut marga. Karena kalau orang Minang lebih suka menyebut suku. Tapi yang jadi pertanyaan (malas nelpon ke redaksi Kompas) T ini kependekan dari apa? Tarigan, Tampubolon, atau Tambunan.
Tapi apapun kepanjangannya, saya juga penasaran penulis ini Batak laki atau Batak perempuan? Maklumlah, waktu itu saya jarang sekali menemukan novelis perempuan, kecuali Nh Dhini.
Ternyata tebakan saya salah semua. Marga T. bukan orang Batak dan juga bukan laki-laki. Tapi keturunan Tionghoa dan perempuan. Seorang dokter. Nama aslinyaTjoa Liang Tjoe. Jadi marganya bernama Tjoa, yang kemudian jadi nama samaran dan disingkat Marga T. pada novel pertamanya, Karmila.
Karena jaman Orba nama Tionghoa harus diganti pakai nama Indonesia, maka jadilah namanya Intan Margaretha Harjamulia. Marga T jadi middle name Margaretha. Kloplah.
Jaman itu, kebangetan kalau tak kenal penulis produktif Marga T. Novelnya “Badai Pasti Berlalu” jadi lagu yang puitis di tangan Eros Djarot. Jadi indah ketika dinyanyikan Berlian Hutauruk, dan syahdu saat dibawakan Chrisye. Oleh penyanyi lainnya, biasa saja. Bahkan di kuping saya malah terdengar tidak enak.
Begitu juga dengan Karmila yang setelah meledak novelnya, meledak juga lagunya ketika ditulis dan dinyanyikan oleh Farid Hardja dengan judul yang sama.
Cuma jujur saya tidak suka dan tidak rela dengan syairnya. Beda dengan novelnya, di lagu itu diceritakan Karmila dinodai setelah dikasih minuman ke dalam gelas saat dia berulang tahun yang ke sebelas.
Gila gak tuh. Anak umur segitu digituin orang dewasa, kalau bukan pedophilia apa namanya coba. Dalam hati saya, syair apaan nih. Kok ya ibu Marga T. dan banyak orang tidak protes. Coba kalau sudah ada medsos. Habis deh dijulidin dan dikulitin.
Makanya, waktu ketemu kang Farid Hardja saat saya mewawancaranya , saya gatel pingin protes sekalian nanya, “Kang, itu usia Karmila dilirik gak bisa diganti jadi 19 tahun gitu. Jangan sebelas. Awewe letik euy. Sadis atuh Kang.”
Tapi sialnya saya tidak berani. Takut merusak suasana. Belum lagi kalau penyanyi berbadan tambun itu marah dan tidak mau diwawancara. Celaka ..
Sudahlah di lain kesempatan saja. Kata saya dalam hati campur kesel. Eh belum sempat ketemu lagi, Kang Farid kena serangan jantung dan meninggal. Band Bani Adamnya juga bubar.
Sekarang penulis wanita yang setelah itu banyak diiikuti oleh banyak penulis wanita hebat lainnya, juga sudah berpulang beberapa hari lalu. Tepat
di Hari Kemerdekaan RI yang ke-78, dalam usia 80 tahun.
Selamat jalan Margaret Caecilia Lee (27 Januari 1943 – 17 Agustus 2023)
Saya baru tahu nama kesayangannya ternyata Margaret Caecilia Lee. Tapi tetep ada bayangan Marga T. juga.
Ramadhan Syukur






