Kasus Brigadir Yosua: Berdusta Itu tidak Gampang, Jenderal!

Irjen Pol Ferdy Sambo - Brigadir Joshua

Ternyata untuk berdusta pun memerlukan keahlian khusus. Skenario tidak bisa dirancang secara grasa-grusu dan dalam kondisi penuh emosi. Bisa jadi kegagalan tim ini merancang skenario yang apik karena terlalu banyak dusta di dalamnya.

Oleh SYAH SABUR

BERDUSTA itu ternyata tidak gampang. Berdusta itu memerlukan keahlian khusus. Buktinya, polisi selevel (mantan) Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Irjen Pol. Ferdy Sambo saja gagal merancang dusta. Padahal, sehari-hari tugasnya antara lain membongkar dusta personel kepolisian yang melakukan pelanggaran maupun penyimpangan dalam melaksanakan tugas mereka.

Dalam merancang dusta, tak tanggung-tanggung, jenderal bintang dua itu pun melibatkan bawahannya yang berpangkat jenderal bintang satu dan sejumlah perwira menengah. Tapi sejak awal skenario mereka langsung menimbulkan kecurigaan publik. Sebab, Tim Sambo baru mengumumkan tragedi di rumah dinasnya kepada media tiga hari setelah kejadian. Peristiwa terjadi 8 Juli tapi rilis ke media 11 Juli. Alasannya pun sangat tidak masuk akal: saat itu sehari menjelang Idul Adha dan polisi berpikir wartawan sedang fokus meliput peristiwa keagamaan tersebut.

Lalu untuk apa jeda tiga hari itu? Patut diduga bahwa Tim Sambo merancang skenario untuk menyembunyikan peristiwa yang sesungguhnya. Tim ini sepertinya menyiapkan skenario tentang pemicu terjadinya kontak tembak antara Brigadir Yoshua dan Bharada Eliezer, kronologi, pistol yang dipakai, jumlah tembakan, dan keberadaan Sambo pada saat kejadian.

Soal pengakuan pelecehan oleh Brigadir Yoshua terhadap Putri Chandrawathi (istri Sambo), Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) belum bisa memastikannya. Alasannya, mereka belum menerima bukti yang mendukung klaim tersebut.

Klaim soal pelecehan pun sejak awal dipertanyakan berbagai pihak. Sebab, keterangan polisi di awal tidak lengkap. Seolah-oleh Brigadir Yoshua tiba-tiba saja datang ke rumah dinas atasannya dan masuk ke kamar pribadinya untuk melakukan pelecehan. Padahal, dia tahu rumah dinas tersebut selalu dijaga ajudan dan biasanya dipantau CCTV.

Seiring dengan itu, permintaan Putri dan Bharada Eliezer untuk meminta perlindungan LPSK pun menimbulkan tanda tanya. Siapa yang mengancam mereka sehingga mereka perlu dilindungi LPSK? Bukankah suami Putri dan atasan Bharada Eliezer polisi berbintang dua yang bisa melindungi keduanya dari ancaman? Bukankah Brigadir Yoshua sudah meninggal dan tak mungkin lagi jadi ancaman?

Jago Tembak

Juga di awal pengumuman, polisi menyebutkan, Bharada Eliezer sangat mahir menembak. Belakangan, klaim tersebut akhirnya gugur.

Bahkan, Eliezer mengungkapkan, dia melihat Sambo berada di dekat jenazah Brigadir J. Klaim polisi tentang jago tembak gugur karena sang Bharada baru belajar menembak pada Maret 2022. LPSK juga mengungkap fakta bahwa Eliezer adalah sopir Sambo, bukan ajudan sebagaimana klaim polisi sebelumnya.

Ada juga hal yang mencurigakan, yaitu soal peretasan dan pemblokiran handphone keluarga dekat Brigadir Yoshua di hari kematiannya. Kalau ini kasus tembak-menembak yang dipicu kasus pelecehan, mengapa harus ada peretasan dan pemblokiran HP?

Tim Sambo juga menciptakan kebohongan lain. Semula polisi menyebutkan, saat kejadian Ferdy Sambo sedang melakukan tes PCR tanpa menyebutkan dimana tes dilakukan dan untuk apa tes tersebut. Belakangan klaim itu berubah ketika polisi menyebutkan bahwa tes PCR dilakukan di rumah pribadi Sambo, sedangkan istrinya dan sejumlah ajudan melakukan tes di rumah dinas setelah mereka kembali dari Magelang.

Informasi terbaru, rombongan Sambo dan istrinya sampai di Jakarta bukan di hari yang sama melainkan di hari yang berbeda. Sambo yang memakai pesawat tiba lebih dulu disusul rombongan sang istri sehari kemudian.

Kebohongan besar juga sepertinya terjadi berkaitan dengan luka tembak di tubuh Brigadir Yoshua. Semula polisi menyebutkan adanya 5 luka akibat peluru yang masuk ke tubuh almarhum dan 2 luka akibat peluru yang keluar dari tubuhnya.

Pihak keluarga korban juga heran karena mereka sempat dilarang untuk membuka peti jenanzah. Setelah ngotot, barulah polisi mengizinkan peti jenazah dibuka. Saat itulah keluarga menemukan tidak hanya ada luka tembak melainkan luka lain akibat dugaan penganiayaan.

Hal itulah yang membuat Polri melakukan autopsi dan visum ulang. Autopsi pun melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli forensik dari rumah sakit swasta dan dari TNI. Hasilnya baru diketahui dua hingga empat pekan kemudian.

Dusta Tim Sambo tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga mengklaim CCTV di rumah dinas Sambo rusak sejak dua pekan sebelum kejadian. Lalu ada versi CCTV rusak akibat disambar petir. Belakangan Tim Khusus bentukan Kapolri mengungkapkan decoder CCTV tersebut diambil dan kemudian dirusak oleh anak buah Sambo.

Timsus Periksa 25 orang

Setelah melakukan penyelidikan yang melibatkan puluhan saksi dan memeriksa sejumlah barang bukti, Timsus pun memutasi 25 pimpinan dan anggota Divisi Propam, empat di antaranya masuk ruang isolasi. Sambo pun masuk isolasi di Mako Brimob beberapa hari kemudian.

Ke-25 orang itu dianggap melakukan tindakan tidak profesional dan bertindak ala kadarnya saat olah tempat kejadian perkara (TKP). Mereka misalnya membiarkan darah Yoshua dihilangkan oleh asisten rumah tangga. Juga tidak ada pemeriksaan DNA di TKP.

Timsus akhirnya berhasil membongkar hampir semua dusta yang disiapkan Tim Sambo. Ada juga pengakuan terbaru Eliezer yang menyebutkan tindakannya menembak Yoshua adalalah atas perintah atasan.

Ternyata untuk berdusta pun memerlukan keahlian khusus. Skenario tidak bisa dirancang secara grasa-grusu dan dalam kondisi penuh emosi. Bisa jadi kegagalan tim ini merancang skenario yang apik karena terlalu banyak dusta di dalamnya.

Mungkin jika Tim Sambo akan merancang skenario kebohongan, lain kali sebaiknya mereka melibatkan penulis skenario kampiun atau sutradara terkenal sekelas Garin Nugroho atau Joko Anwar. Biar kebohongannya mulus, sulit diendus, dan tidak merendahkan pangkat jenderal. Gitu,  lho.*

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi