KATA SAHABAT MUDAKU, “IBU ITU CHINESE, TAPI IBU PEDULI PADAKU….”

Cerita Teman

Dia seusia anakku, pria muda dari luar pulau yang mengejar mimpi ke Surabaya. Sendirian, bekerja keras untuk membiayai sekolah adik-adiknya sampai hampir seluruh gajinya terpakai. Aku mengenalnya lewat suatu kepanitiaan. Aku lihat kok anak muda ini diam saja, dan kurang bergaul dengan yang lain. Jadi aku dekati. Sambil menunggu di sela-sela kegiatan membuat dekor dan rapat, kuajak dia mengobrol dan dari situ aku mengetahui kisah awalnya.

Setelah itu sekali-sekali kuajak dia makan keluar bersama, dan berkat pertemuan-pertemuan itu kami semakin akrab. Aku juga mengundang dia ke rumah kalau kami mengadakan acara dan makanan berlimpah, atau sekedar menonton bola bersama. Aku dan suami, juga dia, ternyata gibol (“gila bola”).

Kami heran juga, begitu lama ia bertempat tinggal di Surabaya tetapi tidak pernah mencicipi kafe, resto apalagi dunia entertainment yang lebih mewah.

Karena kagum akan kegigihannya itu, kami kerap mengajaknya ke luar untuk makan bersama. Dan, kata pembuka kami ketika mengajaknya adalah, “Kamu mau makan apa?” Yang dijawabnya selalu dengan kalimat yang itu-itu juga, “Terserah….”

Ketika kami memilihkan sebuah tempat makan dan menanyakan, “Sudah pernah coba yang ini?”, jawabannya juga sama, “Belum….” Oh, rupanya depot yang sederhana sekalipun tidak pernah disinggahinya. Cukup setiap hari masak nasi dengan lauk goreng tempe, tahu, telur atau sayur.

Bahkan, dia sempat juga, setiap pagi menggoreng tahu dan menitipkan di warung-warung pinggir jalan sekitar dia tinggal. Luar biasa.

Kami senang berteman dengannya karena kepolosan sikapnya, apalagi ia tidak punya mental meminta-minta.

Yang aku herankan, walaupun dia itu orang yang berkarakter “keras” mungkin karena harus begitu karena berasal dari luar Jawa, setiap nasihat yang kami berikan kepadanya tidak ditolaknya. Kok, ya, ndilalah dia bisa selalu patuh… no complaint?

Padahal aku tahu pasti jikalau orang lain yang menasihati dia, masih sering terdengar penyangkalan. Tidak selalu mau didengar dan dijalaninya.

Akhir tahun 2018 lalu, dia “terbebas” karena adik-adiknya sudah lulus S1 semua. Ia mulai bisa menabung, dan memikirkan pacar. Wajarlah, umurnya sudah akan memasuki kepala tiga!

Lalu singkat kata, dia PDKT — diperkenalkan oleh temannya dengan seorang gadis. Dan, dia menanyakan kepada kami tentang hal ini.

Kami menjawab sederhana, “Dalam hal ini, karena kamu yang akan menjalani, cobalah saling mengenal dahulu dan nanti baru memutuskan sendiri pilihan terbaik.”

Setelah beberapa waktu berlalu, kami dimintanya menjadi wali untuk melamarkan si gadis pilihannya, karena biaya tiket keluarganya ke Surabaya puluhan juta pulang pergi.

Kami sudah meminta izin pada keluarga yang bersangkutan, khususnya orang tuanya via video call. Thank God, teknologi digital ini bermanfaat sekali!

Kubuatkan baki hantaran untuk lamaran itu. Walaupun sederhana, aku berusaha maksimal membuatnya indah. Dan lamaran diterima!

Baru kemarin akhirnya kami ketahui jawaban, kenapa dia selalu mau mendengarkan kami. Ternyata, itu berkat suatu peristiwa kecil buat kami, tetapi besar buat dia. Kisahnya berawal ketika kami pertama kali mengajaknya makan dan ngobrol ngalor-ngidul, cekakak-cekikik. Duh, aku terhibur sekali mendengar kepolosan sikap dan jawaban-jawabannya!

Ya, di saat itulah, menurut pengakuannya, dia teringat kepada ibunya yang sangat dicintai namun sudah pergi untuk selamanya…. Dia bertutur, betapa dirinya sangat kesepian dan merasa sendiri berjuang. Dia melihat sosok ibunya yang dirindukan itu dalam… diriku!

Oh, hati serasa sesak seketika. Kisah tentang dirinya, terutama ibunya itu sungguh-sungguh membuat kami terharu.

Tiba-tiba aku merasa bersyukur sekali. Tiba-tiba aku merasa diriku berarti. Apalagi dia melanjutkan dengan kalimat yang kuingat betul pada malam perbincangan itu, “Ibu itu Chinese… tetapi ibu mampu….”

Aku terdiam dan dia meneruskan, “Tetapi, Ibu peduli dengan saya dan mau mengajak saya yang bukan apa-apa ini….”

OMG, aku tertohok olehnya! Mampu? Aku mampu…? Padahal, aku masih sering sekali mengeluh, “Kok, nggak bisa begini?” Dan, “Mengapa begitu, ya?”

Malam itu juga, aku tersungkur dan memohon ampunan-Nya….

Tahun depannya, 2020, dia menikah.Sungguh, kami sekeluarga turut berbahagia karena dia telah memiih gadis yang tepat . Selamat menuju hidup baru, sahabat mudaku! (Thata Pang)

Kebajikan yang dilakukan betapapun kecilnya, akan bermakna bagi orang lain jika dilakukan dengan ketulusan.”

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.