Kejamnya Nitijen Tak Sekejam Ibukota

Patung Sepatu01

PERTANYAAN DI ATAS jangan buru-buru dijawab, karena hanya berselang sehari usai monumen sepatu beraroma promosi produk itu diresmikan, sekumpulan seniman mural melakukan aksi “kreatif”. Bermodal cat semprot diperkirakan hanya butuh tak lebih dari setengah jam berhasil melukis sebuah gambar simbol.

Aparat menyebutnya sebagai aksi vandalisme.

Tingkah warga Jakarta protes menyalurkan aspirasi ketidaksukaannya bisa berbagai cara. Aksi grafiti di monumen sepatu diluar dugaan kita yang belum juga habis membahas fenomena kreatifitas Pemda DKI, dikejutkan aksi “kreatifitas” warganya. Mereka yang boleh dikatakan kecewa dengan kebijakan Pemda, namun diacuhkan suaranya, menuangkan kegelisahannya langsung pada obyeknya.

“Pemberontakan” sipil sudah mulai dikobarkan. Mereka yang sudah memutuskan mengambil resiko untuk tidak takut pada sanksi hukum. Menangkap kemudian menghukum pelakunya tidak akan menghentikan aksi solidaritas kegelisahan sesama mereka.

Pemda DKI seharusnya paham situasi di bawah tanah yang sedang bergejolak, namun pura-pura mengabaikan. Atau memang sengaja membiarkan bibit vandalisme itu berkembang dengan cara memberinya alasan untuk berbuat.

Saat hubungan Penguasa dan rakyat sedang tidak harmonis, seniman senantiasa menjadi jembatan penengah merapikan komunikasi keduanya. Jika seniman sudah berpihak pada rakyat, itu pertanda sang penguasa yang tuli sudah tidak dipercaya apalagi dibutuhkan.

Inikah yang dibilang anjing menggonggong khafilah masa bodo?

Avatar photo

About Dahono Prasetyo

Pekerja Seni, Lulusan Akademi Seni Drama dan Film (1996), Penulis Skenario dan Kolumnis di beberapa media, tinggal di Depok