Ketika Kejujuran Dibungkam

Bagai virus, berita itu langsung menyebar. Tidak hanya membuat heboh di kampung Antah Berantah, tapi hingga ke seluruh pelosok desa Cuwek.

Kehebohan dipicu oleh perangkat kampung. Konon, karena masalah aparatnya yang selingkuh. Untuk menutup aib, aparat itu lalu dipecat dan diusir dari kampung.

Ada juga berita, aparat itu tersangkut narkoba, dan banyak versi lainnya. Berita jadi simpang siur, dan tidak jelas kebenarannya.

Anehnya, tapi anehnya, ketika awak media mencoba mengungkap fakta kebenaran. Mereka disemprot dan dimarahi oleh juru penerang desa. Alasannya, “Agar situasi desa tidak gaduh, tapi tetap kondusif. Lebih baik memuat berita yang positif dan membangun demi kemajuan desa.”

Sementara itu di kampung sebelah, orangtua dari anak yang diusir itu menunggu dengan was-was. Anak lelakinya tidak pulang, tidak ada kabar, dan seakan hilang ditelan ketidakpastian.

Ketidakpastian, ya, ketidakpastian itu muncul ketika berita itu ditutupi dan dimanipulasi kebenarannya. Lebih suloyo, bahkan ironis, ketika suatu kebohongan itu diberitakan terus menerus, hingga jadi suatu kebenaran.

Pertanyaannya, apakah kita yang memiliki nurani ini diam dan membiarkannya?

Tidak seharusnya, kita bersikap tak acuh, cuwek, lalu pura-pura tidak melihat, tidak mendengar, dan diam. Kita takut resiko dan terkena imbasnya.

Padahal, ketika kita membiarkan sejarah dimanipulasi, kebenaran dikebiri, atau kejujuran ditabukan, berarti kita berdosa atas semua itu. Karena kita bertanggung jawab untuk jadi saksi kebenaran.

Kebenaran itu harus diungkap, apapun konsekuensinya. Kejujuran itu harus jadi batu pijakan agar kita tidak terpeleset dan jatuh ke dalam yang jahat.

Sejatinya, kejujuran dan kebenaran itu momok bagi orang yang berbuat jahat dan curang.

Tanpa kejujuran dan kebenaran, hati kita tidak pernah tenang. Hidup kita jauh dari rasa damai dan bahagia.

Berbuat salah, melakukan kesalahan itu hal biasa. Kita lemah dan banyak kekurangan. Tapi berani akui kesalahan untuk minta maaf itu bukti kebesaran hati dan jiwa ksatria.

Sadar diri dan kontrol hati adalah keutamaan agar kita selalu eling lan waspada. Tanpa bergantung dan andalkan Allah, hidup kita bakal sia-sia.

Foto : Kristina Flour / Unsplash

Ketika Kita Tak Pahami Makna Cinta dan Dicintai

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang